Jasa Arsitek untuk Renovasi Rumah, Perlukah?
15 February 2008 at 11:10 pm (1)
Tags: jasa arsitek, konsultan, renovasi, Rumah
Atap Bocor: Dari Konstruksi Hingga Solusi
21 November 2007 at 11:36 am (1)
Musim hujan begini, kita pasti menghadapi ancaman kebocoran rumah. Tak peduli rumah mewah atau biasa-biasa, besar atau mungil, baru atau lama, air hujan selalu menghadirkan ancaman. Apalagi, hujan belakangan ini tak jarang disertai angin ditambah intensitas yang luar biasa hebat. Kalau sudah begitu, mau tak mau kita harus meluangkan waktu berperang mencegah atau mengatasi kebocoran.
Septic Tank Penuh? Kenapa Mesti Disedot?
21 November 2007 at 8:41 am (Rumah)
Tags: larutan, repot, sedot, septic tank
Jasa tukang sedot septic tank di kota-kota besar paling murah adalah 200-300 ribu rupiah. Dan urusan sedot-menyedot ini bakal makin merepotkan bilamana septic tank sejak awal tidak dirancang secara baik sehingga memudahkan urusan penyedotan. Sudah begitu, seiring bertambahnya anggota keluarga, jarak atau waktu hingga septic tank menjadi penuh tentu makin pendek. Ngapain repot harus disedot?
FAKE
27 October 2007 at 12:42 am (Nggambus)
Internet telah menjadi belantara teks. Gugel adalah dewa dari para dewa, yang selalu dipanggil-panggil ketika kita masuk ke rimba raya ini. Gugel memberi petunjuk jalan, meski ia bukan jalan itu sendiri. Ia membukakan, meski kadang juga tak menyelesaikan.
Tak bisa menyelesaikan karena Gugel kadang merekam dan mencatat yang palsu. Saya agak yakin, semua orang yang pernah memasukkan info pribadinya di internet pasti pernah memberi info atau data palsu. Alasannya macam-macam. Takut privasinya terganggu, malas, ingin tetap misterius, ingin aneh, atau ribuan alasan lain.
Namun kepalsuan memang menyatu dalam diri setiap orang. Mulai kapan? Mungkin mulai ketika ia mengenal orang lain. Kapan itu? Mungkin sejak nalarnya mulai tegak.
SELINGKUH
26 October 2007 at 6:40 pm (Nggambus)
Setiap manusia, rasanya punya bakat satu ini. Ia tak peduli umur, apalagi cuma jenis kelamin. Ia bisa menyerang abege yang dilanda cinta monyet, atau emak-emak yang hampir meno. Bapak-bapak yang sering dicap “bandot”, atau jejaka perlente yang dijuluki pleboi, juga tak luput.
Selingkuh, bisa benar-benar tak kelihatan ujudnya, bila ditindas oleh sesuatu yang lain, entah itu perasaan cinta, khawatir, atau risiko. Hanya orang yang tak atau belum berpasangan yang luput dari kata ini rasanya. Cobalah terawang lagi detik perjalanan yang terlewat, hari yang lalu, bulan, atau tahun yang silam. Kalau Anda mau jujur, Anda pasti pernah –entah sekali, sayup-sayup, nyaris tak terlihat–memikirkannya.
Saat ngobrol sore dengan teman kantor, ia cerita tentang dua temannya –yang dua-duanya kebetulan kukenal– mungkin tengah menjalani praktek ini. Tentu saja, aku tak ingin menuduh benarkah demikian halnya. Tapi setidaknya cerita kawan ini, membuat hasratku muncul untuk menuliskannya.
Pentingnya Perlindungan Ketika Hidup di Tanah Risiko
25 October 2007 at 8:36 am (Life is Beautiful)
Andai kutahu
Kapan tiba ajalku
Kuakan memohon,
Tuhan tolong panjangkan umurku…(Ungu Band)
Bersyukurlah kita karena kita tak pernah tahu kapan ia akan tiba. Seandainya setiap manusia sudah tahu kapan ajal akan tiba, atau akan seperti apa jalan hidupnya sampai ajal tiba, hidup akan membosankan. Monoton. Dan hanya akan dua tipe manusia di bumi ini: manusia tertawa dan manusia menangis. Yang jalan hidupnya indah akan tertawa sepanjang hidupnya, sedangkan yang pahit akan terus-terusan menangis dan meratap.
Fiuhhhh!
15 October 2007 at 11:31 pm (Nggambus)
Anak itu merengek meminta emaknya dibelikan “babel”. Dolanan itu sudah ada sejak bapaknya masih bau umbel. Bapak dari bapaknya pernah bercerita pada bapaknya, dulu sekali ia dan teman-temannya membuat sendiri mainan itu dari buah klerak yang bisa dibuat biji ketapel.
Mainan itu dapat didapat dengan cepat kini. Juga mudah. Di mal-mal yang dingin, di warung-warung mainan ada dan dijual murah. Dikemas dalam botol indah. Dulu bapak dari bapaknya menggunakan lidi untuk membuat air sabun itu. Kini telah berganti plastik nan mewah.
Dan botol itu tertulis: Made in China. Klerak sudah lama musnah.
Lelah oleh Nama
13 October 2007 at 2:43 am (Nggambus)
Ia mencarinya pada kotak putih,
memasukkan sesuatu tentang masa silam.
Tak lelah-lelahnya ia mengais nama-nama. Terus begitu dan sejam berlalu. Lalu dua.
Ketiga tiga hendak menyambut, barulah tahu ia telah terlarut pada kotak putih itu dan tak ditemukan apa yang dicarinya lewat kotak putih. Sesekali isi kotak itu telah membuatnya terkejut. Namun ia terasing. Lalu berhentilah ia dengan kotak putih.
Kelelahan rupanya. Nama-nama membuatnya terbenam.
2007-10-13, Banten
Tarif Selular Murah: Musik Klasik atau Lagu Dangdut?
25 September 2007 at 10:52 pm (IT-Telco)
Thomas L. Friedman, kolumnis yang disebut-sebut paling berpengaruh di Amerika Serikat saat ini, boleh saja bilang begini: Berkat kemajuan telekomunikasi dan internet, jagad menjadi datar. “The world is flat”. Tentu saja, bumi secara fisik tetaplah bola bulat, karena istilah “datar” cuma metafora yang dibuat Friedman untuk menggambarkan efek yang muncul dari telekomunikasi yang kian murah dan mudah tadi.
Menurut Friedman, telekomunikasi yang murah (cheap) dan tersedia dengan mudah di mana-mana (ubiquitous) membuat setiap orang di seluruh penjuru dunia kini dapat berpartisipasi dalam kancah bisnis global. Telekomunikasi dan teknologi informasi (TI) telah memompa globalisasi sepenuh-penuhnya, sempurna, menciptakan dunia yang datar, praktis tak berjarak, tak berjenjang, tak bersekat.
Namun, benarkah ia benar-benar datar, tak berjarak, tak bersekat, tak berjenjang, seperti yang dikatakan Friedman? Benar pulakah setiap orang telah menikmati telekomunikasi yang tarifnya kian murah ini dan menuai manfaat darinya?
Awas, RUMAH KACA!
23 April 2007 at 6:27 pm (AWAS RUMAH KACA)
Pram sudah dicatat oleh sejarah. Dia orang besar. Mahakaryanya sudah mewarnai dan diakui dunia, menginspirasi jutaan orang, menyemangati anak-anak muda negerinya. Kau? Jelas bukan siapa-siapa.
“Tapi tak bolehkah aku bermimpi seperti Pram?”.
Taman Depan Rumah
12 April 2007 at 12:05 pm (Rumah)
Tanya:
Saya karyawan swasta, memunyai rumah LB/LT 70/120 menghadap ke
barat dan hampir tidak bisa mendapatkan sinar matahari pagi karena rumah saya dikelilingi oleh bangunan berlantai 2. Lahan sisa di halaman depan berukuran 10m x 3m dan dicor semen. Saya ingin menanam bunga-bunga di halaman tersebut dan saya juga berniat untuk membuat “pagar hidup” untuk menambah kesegaran alami dan mengurangi debu/polusi udara. Pertanyaan saya adalah:
1. Jenis tanaman apa yang cocok, mengingat saya adalah pekerja lapangan yang bekerja 2 minggu penuh di lapangan?
2. Bagaimana dengan jenis tanaman yang merambat? Sebaiknya ditanam di dalam pot atau ditanam langsung ke tanah?
Mohon penjelasan dan terima kasih atas perhatiannya.
Aji Kurniawan-Balikpapan
Jawab:
Taman Kering
12 April 2007 at 12:03 pm (Rumah)
Tanya:
Saya pegawai yang tinggal di sebuah rumah dengan luas bangunan 70 meter persegi. Di bagian depan rumah, masih ada sisa tanah kurang lebih 10 meter persegi dan saya ingin membangun taman di area tersebut. Pertanyaan saya:
1.Taman seperti apa yang cocok? Saya tertarik dengan model taman kering karena tidak berisiko menjadi sarang nyamuk. Sebagai gambaran, bangunan dan perabotan di dalam rumah saya bertipe modern
2.Apa saja hal yang harus saya perhatikan untuk mewujudkan taman di depan rumah itu? Jenis tanaman apa yang cocok?
Jawab:
Soul of Home
09 March 2007 at 10:25 am (Nggambus)
I visited a house in Bogor Raya Permai in Bogor yesterday with my colleague. It was my first reportage for Tabloid Rumah after spell years for PCplus. I had made appointment with owner and Mr. Barnie, worker at cargo company APX, had told that his wife, Mrs Ningrum, would find us at their home.
Garuda Indonesia Crash! Blamed on Broken Tire?
07 March 2007 at 1:28 pm (Headline)
A Garuda Indonesia plane, which flies from Jakarta to Jogjakarta burst into flames at 7.00 a.m. on March 7, a few minutes after landing at Adisucipto Airport, Jogjakarta.
There were 133 passengers onboard (120 people in economy and 13 in business class) and seven aircrew. According to some sources and witnesses, tens of them were burnt near the cockpit of the Boeing 737-400. Three hours after the incident, the airport officers were still spraying water into the airplane’s body to reduce the heat and enable them to remove the dead from inside the aircraft.
Quit and Enjoy Freedom!
06 March 2007 at 8:40 am (Life is Beautiful)
I just amazing as heard from Jurnalisme-mailing list that my friend, Budi Putra, resign from Tempo magazine to dedicate all he has, time and mind, to expand their personal obsesion: be a blogger and personal writer.
If my memory doesn’t betray me, it is the first time for Indonesian journalists resign from prominent press institution for that specific reason. Of course, so many journalists left his profession to pursue their better career or better idealism, and even for better income but Budi Putra’s resignation is exception regarding the reason.
