Setiap manusia, rasanya punya bakat satu ini. Ia tak peduli umur, apalagi cuma jenis kelamin. Ia bisa menyerang abege yang dilanda cinta monyet, atau emak-emak yang hampir meno. Bapak-bapak yang sering dicap “bandot”, atau jejaka perlente yang dijuluki pleboi, juga tak luput.
Selingkuh, bisa benar-benar tak kelihatan ujudnya, bila ditindas oleh sesuatu yang lain, entah itu perasaan cinta, khawatir, atau risiko. Hanya orang yang tak atau belum berpasangan yang luput dari kata ini rasanya. Cobalah terawang lagi detik perjalanan yang terlewat, hari yang lalu, bulan, atau tahun yang silam. Kalau Anda mau jujur, Anda pasti pernah –entah sekali, sayup-sayup, nyaris tak terlihat–memikirkannya.
Saat ngobrol sore dengan teman kantor, ia cerita tentang dua temannya –yang dua-duanya kebetulan kukenal– mungkin tengah menjalani praktek ini. Tentu saja, aku tak ingin menuduh benarkah demikian halnya. Tapi setidaknya cerita kawan ini, membuat hasratku muncul untuk menuliskannya.