Banyak orang berpikir, renovasi rumah bisa langsung dieksekusi asalkan sudah ada duit dan gambaran kasar. Tak usah perlu konsultan atau arsitek. Masa sih?
Saya bukanlah arsitek, jadi no conflict of interest kalau saya bilang bahwa sebenarnya jasa arsitek itu perlu. Saya tanya ke beberapa arsitek, mulai dari Erwin Hawawinata, GM-nya Da Vinci; Ahmad Djuhara, Ketua Umum IAI DKI Jakarta; Maechijah, IAI, Sekjennya IAI Pusat; Anna Hape, seorang arsitek yang juga kawan lama; dan Manik Bayu, seorang arsitek di Semarang. Sebagian besar bilang perlu.
Mungkin karena mereka arsitek, sehingga mereka bilang konsultasi dan meminta bantuan adalah perlu. Namun kesimpulan saya pribadi, jasa arsitek memang diperlukan untuk renovasi pada tingkat tertentu, dan renovasi dengan budget tertentu. Kalau sekadar mengganti cat rumah, ya ngapain pakai jasa arsitek. Kalau cuma merenovasi dengan budget 10-15 juta, ya ngapain juga sih harus keluar ongkos lagi. Lagipula, adakah arsitek yang mau dibayar hanya 6-8 persen (tarif umumnya) dari 15 juta misalnya, untuk konsultasi yang mereka berikan. Di Tabloid RUMAH, saya menulis panjang lebar kenapa jasa arsitek perlu dan kapan ia kita butuhkan, berdasarkan pandangan dari para arsitek yang saya sebut di atas.
Pertama, kalau kita mau melakukan renovasi rumah dengan anggaran di atas 50 juta. Renovasi sebesar ini pasti setidaknya berskala sedang hingga berat.
Kedua, kalau kita memang benar-benar awam dan menginginkan suatu hasil yang mendekati apa yang kita bayangkan atas renovasi tersebut. Arsitek, dengan pengetahuan dan keterampilan serta pengalaman yang mereka miliki, akan membantu pemilik rumah mendapatkan hasil terbaik.
Orang sering keliru, bahwa fee untuk jasa arsitek justru bisa diaplikasikan pada material atau kualitas, sehingga jasa itu tidak dimanfaatkan. Padahal, arsitek justru memiliki pengetahuan dan informasi yang cukup, sehingga akan membantu pemilik rumah untuk menghemat biaya, waktu, dan tenaga yang harus dikeluarkan ketika melakukan renovasi. Ini kuncinya.
Maka, prinsip idealnya sebenarnya arsitek bukanlah biro jasa melainkan seperti dokter, yang membantu orang mengatasi masalah tertentu, dalam hal ini merancang dan membangun rumah sesuai harapan. Repotnya, kebanyakan arsitek tidak berada pada prinsip ideal ini.
Sampeyan punya pendapat beda? Atau punya data tentang masalah ini?
Gambar: www.superiklan.com
ys said,
04 April 2008 at 9:23 am
punya kontak arsitek yang menetapi prinsip ideal?
saya ingin merenovasi rumah dengan dana 50 juta.
terima kasih.
Crabbedly said,
19 June 2008 at 5:41 pm
Somehow i missed the point. Probably lost in translation
Anyway … nice blog to visit.
cheers, Crabbedly.
adi said,
26 April 2009 at 9:24 am
untuk segala macam urusan desain bangunan sebaiknya dikonsultasikan baik cat rumah, kadang klien ingin rumah bagus tapi tidak mau biaya membengkak itu sebetulnya prinsip dasar tugas arsitek, akan tetapi kebanyakan orang awam(dalam arsitek) memberanikan diri merancang sendiri dan akhirnya terpaksa menerima hasil yang ada karena sudah terlanjur rugi.
bagi teman2 yang mengaku arsitek sebaiknya juga jangan asal terima kerjaan yang tidak bisa dikerjakan dengan hasil maksimal karena merusak citra arsitek di Indonesia yang lagi menata diri. terima kasih