<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>aweha</title>
	<atom:link href="http://aweha.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aweha.wordpress.com</link>
	<description>just to share.....till the end.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Nov 2011 07:18:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='aweha.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>aweha</title>
		<link>http://aweha.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://aweha.wordpress.com/osd.xml" title="aweha" />
	<atom:link rel='hub' href='http://aweha.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menyiasati Biaya Renovasi Rumah</title>
		<link>http://aweha.wordpress.com/2010/09/16/menyiasati-biaya-renovasi-rumah/</link>
		<comments>http://aweha.wordpress.com/2010/09/16/menyiasati-biaya-renovasi-rumah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Sep 2010 11:52:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnuhardana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rumah]]></category>
		<category><![CDATA[anggaran]]></category>
		<category><![CDATA[biaya]]></category>
		<category><![CDATA[RAB]]></category>
		<category><![CDATA[renov rumah]]></category>
		<category><![CDATA[renovasi]]></category>
		<category><![CDATA[siasat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aweha.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Gampang-gampang sulit mendetailkan anggaran renovasi rumah. Gampang karena ada kalkulasi sederhana untuk menghitungnya: Luasan bangunan yang direnovasi dikalikan 2-2,5 juta rupiah. Sulit karena sifat manusia yang selalu tidak puas dan ingin lebih, sehingga biaya renovasi akan berkejaran dengan nafsu mengejar kepuasan. Ketika memulai renovasi, saya memulainya dengan menambahkan faktor yang memperumit keadaan: ANGGARAN MEPET. Dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aweha.wordpress.com&amp;blog=517242&amp;post=59&amp;subd=aweha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gampang-gampang sulit mendetailkan anggaran renovasi rumah. Gampang karena ada kalkulasi sederhana untuk menghitungnya: Luasan bangunan yang direnovasi dikalikan 2-2,5 juta rupiah. Sulit karena sifat manusia yang selalu tidak puas dan ingin lebih, sehingga biaya renovasi akan berkejaran dengan nafsu mengejar kepuasan.</p>
<p>Ketika memulai renovasi, saya memulainya dengan menambahkan faktor yang memperumit keadaan: ANGGARAN MEPET. Dengan luasan area terenovasi sekitar 100 meter persegi, saya setidaknya perlu dana 200 juta plus 10% untuk antisipasi. Ketika dana yang tersedia di awal hanyalah 150 juta, saya mulai bersiasat.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, mencari titik-titik mana yang bisa dihemat dari rancangan renovasi yang sudah dibuat. Yang terdepan tentu saja cakupan atau luasan renovasinya. Lalu, saya mulai menelusuri penggunaan material inovatif yang lebih efisien dari sisi biaya tukang, harga material, dan waktu pengerjaan.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, mencari sumber dana tambahan. Tidak mungkin memangkas anggaran renovasi hingga 25% dari anggaran normal. Maka, saya pun mulai mencari informasi di mana sumber dana tambahan bisa diperoleh. Kekurangan dana anggaran ini pun tidak diperlukan seketika, sehingga kita masih punya waktu untuk mengaturnya sejeli mungkin. Detail tentang siasat ini akan jadi cerita sendiri yang mungkin menarik sebagai bahan perbandingan.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, mencari referensi dan meminta konsultasi dari pihak lain. Teman-teman arsitek, sahabat yang baru saja melakukan renovasi, semua saya tanyai karena pada umumnya seorang renovator memiliki kiat atau ilmu praktis yang bisa ditiru saat ia menjalankan proses renovasi.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Karena saya bekerja di media yang berkutat seputar desain dan bangunan, pekerjaan ini jadi lebih mudah. Saya tak mau menggunakan istilah sembari menyelam minum air, karena air tempat untuk menyelam biasanya asin dan nggak sehat buat tubuh. Saya lebih suka menggunakan istilah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, mencari waktu yang tepat untuk memulai. Saya agak dipusingkan dengan kenyataan bahwa tahun ini kemarau nyaris tidak nongol sepanjang tahun. Maka, yang saya butuhkan adalah keberanian dan sedikit kenekatan untuk memulai. Waktu akan berpengaruh ke biaya karena kita bisa saja harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mengantisipasi hujan saat membuka atap rumah. Atau diperlukan waktu dan tenaga tukang lebih lama saat mengecat ketika matahari terlampau malu untuk menyengat bumi. Dan kadang-kadang, yang susah diprediksi, harga material bisa naik turun sewaktu-waktu seperti pemadaman listrik: TANPA PEMBERITAHUAN.</p>
<p>Siasat-siasat lain akan saya share lebih detail kalau ada waktu lagi buat nulis beginian. Sekarang, saya mau ngecat dinding depan rumah dulu&#8230;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aweha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aweha.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aweha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aweha.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aweha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aweha.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aweha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aweha.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aweha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aweha.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aweha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aweha.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aweha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aweha.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aweha.wordpress.com&amp;blog=517242&amp;post=59&amp;subd=aweha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aweha.wordpress.com/2010/09/16/menyiasati-biaya-renovasi-rumah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/10dced73d4a67dd45caa43d2b05410e6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wisnuhardana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Renovasi Rumah (01)</title>
		<link>http://aweha.wordpress.com/2010/05/16/renovasi-rumah-01/</link>
		<comments>http://aweha.wordpress.com/2010/05/16/renovasi-rumah-01/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 19:09:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnuhardana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rumah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aweha.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Saya agak nekat ketika memutuskan untuk merenovasi rumah yang berumur 6 tahun. Dananya agak mepet, sehingga perlu siasat. Sketsa dan denah saya visualkan sendiri, plus bantuan beberapa rekan arsitek kantor sebagai &#8220;konsultan&#8221;. Inilah proses perencanaan hingga eksekusinya. DISKUSI Saya butuh waktu diskusi dengan istri sampai dengan ketemu desain final nyaris dua tahun. Rencana renovasi memang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aweha.wordpress.com&amp;blog=517242&amp;post=55&amp;subd=aweha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya agak nekat ketika memutuskan untuk merenovasi rumah yang berumur 6 tahun. Dananya agak mepet, sehingga perlu siasat. Sketsa dan denah saya visualkan sendiri, plus bantuan beberapa rekan arsitek kantor sebagai &#8220;konsultan&#8221;. Inilah proses perencanaan hingga eksekusinya.</p>
<p>DISKUSI</p>
<p>Saya butuh waktu diskusi dengan istri sampai dengan ketemu desain final nyaris dua tahun. Rencana renovasi memang sudah kami canangkan, tapi dananya tak kunjung terkumpul. Tapi justru karena durasi diskusi yang lama, proses perubahan desain menjadi sangat matang, termasuk merencanakan desain yang sesuai ukuran kantong.</p>
<p>Dengan lahan yang memanjang, ukuran 6 m x 29 m, sejatinya masih ada lahan sisa nyaris separuh dari lahan yang ada. Namun kami berketetapan untuk tidak lagi menambah bangunan pada lahan terbuka. Pilihannya adalah meningkat.</p>
<p>Diskusi dengan mantan pacar makin mengerucut ketika Aldo, anak kedua kami lahir, sementara Ansel &#8211;kakaknya&#8211; mulai merasa ingin punya kamar sendiri. Selain kami merasa bahwa &#8220;kruntelan&#8221; dalam satu kamar juga tidak baik untuk pertumbuhan bocah-bocah. Meski masih ada satu kamar kosong, Ansel masih memilih untuk tidur dalam dekapan emaknya. Sesekali pernah kami cobakan untuk tidur terpisah, tetapi selalu ia meminta ditemani, entah oleh ayahnya atau ibunya.</p>
<p>Setahun terakhir, diskusi kami mulai terfokus pada pengalokasian ruang dan pemanfaatan bangunan yang sudah ada. Kami mulai mendefinisikan dari kebutuhan pokok ruang yang harus ada, ukuran-ukuran yang bisa diakomodasi oleh lahan, sampai dengan peletakannya.</p>
<p>Seingat saya, lebih dari 4 kali pengelolaan ruang-ruang berubah secara drastis, dari lantai 1 ke lantai 2 dan sebaliknya. Sampai kemudian sekitar 6 bulan lalu (Desember 2009), kami mulai menemukan pola ruang yang ideal sesuai dengan kebutuhan dan kekuatan kantong.</p>
<p>Saya bersyukur bahwa kami tidak terburu-buru mengeksekusi renovasi. Selain karena memang duitnya belum terkumpul, kami juga punya waktu untuk bisa membuat perencanaan paling maksimal dengan mempertimbangkan ukuran dana yang kami alokasikan dan kebutuhan ruang untuk kami berempat plus dua asisten rumah tangga.</p>
<p>ARSITEK</p>
<p>Kebetulan, kakak istri berprofesi arsitek. Lingkungan kerja saya juga dikelilingi arsitek. Ini memudahkan saya untuk bertanya dan meminta saran. Namun seluruh eksekusi penataan dan pengelolaan ruang tetap dalam kendali kami berdua. Mula-mula kakak memberikan rancangan gambar awal. Dari situ kami coba adaptasi dan sesuaikan lagi seturut kebutuhan dan alokasi dana tadi.</p>
<p>Saya juga terus melihat dan mencari referensi bagaimana sebaiknya penataan ruang yang mengakomodasi seluruh daftar kebutuhan kami, cita-cita kami tentang sebuah rumah, dan idealisme kami tentang sebuah hunian rumah tinggal.</p>
<p>Mudah-mudahan, proses renovasi rumah ini dapat berlangsung mulus sebagaimana sudah kami rencanakan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aweha.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aweha.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aweha.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aweha.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aweha.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aweha.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aweha.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aweha.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aweha.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aweha.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aweha.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aweha.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aweha.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aweha.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aweha.wordpress.com&amp;blog=517242&amp;post=55&amp;subd=aweha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aweha.wordpress.com/2010/05/16/renovasi-rumah-01/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/10dced73d4a67dd45caa43d2b05410e6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wisnuhardana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Septic Tank Penuh? Kenapa Mesti Disedot?</title>
		<link>http://aweha.wordpress.com/2007/11/21/septic-tank-penuh-kenapa-mesti-disedot/</link>
		<comments>http://aweha.wordpress.com/2007/11/21/septic-tank-penuh-kenapa-mesti-disedot/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Nov 2007 01:41:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnuhardana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rumah]]></category>
		<category><![CDATA[larutan]]></category>
		<category><![CDATA[repot]]></category>
		<category><![CDATA[sedot]]></category>
		<category><![CDATA[septic tank]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aweha.wordpress.com/2007/11/21/septic-tank-penuh-kenapa-mesti-disedot/</guid>
		<description><![CDATA[Jasa tukang sedot septic tank di kota-kota besar paling murah adalah 200-300 ribu rupiah. Dan urusan sedot-menyedot ini bakal makin merepotkan bilamana septic tank sejak awal tidak dirancang secara baik sehingga memudahkan urusan penyedotan. Sudah begitu, seiring bertambahnya anggota keluarga, jarak atau waktu hingga septic tank menjadi penuh tentu makin pendek.  Ngapain repot harus disedot? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aweha.wordpress.com&amp;blog=517242&amp;post=37&amp;subd=aweha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"><a href="http://aweha.files.wordpress.com/2007/11/septicman.jpg" title="septicman.jpg"><img border="2" vspace="10" align="left" width="200" src="http://aweha.files.wordpress.com/2007/11/septicman.jpg?w=200&#038;h=200" hspace="10" alt="septicman.jpg" height="200" /></a></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Jasa tukang sedot <em>septic tank</em> di kota-kota besar paling murah adalah 200-300 ribu rupiah. Dan urusan sedot-menyedot ini bakal makin merepotkan bilamana <em>septic tank</em> sejak awal tidak dirancang secara baik sehingga memudahkan urusan penyedotan. Sudah begitu, seiring bertambahnya anggota keluarga, jarak atau waktu hingga <em>septic tank</em> menjadi penuh tentu makin pendek. <span> </span><em>Ngapain</em> repot harus disedot?</font></p>
<p style="margin:auto 0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"><em><span id="more-37"></span>Septic tank</em> normal untuk keluarga kecil rata-rata berukuran 2 m<sup>3</sup> berdinding bata dan semen. Ada juga yang berbentuk tabung semacam biofil. Nah, wadah kotoran ini dalam waktu kurang dari 3 tahun sejak dibuat umumnya sudah memerlukan penyedotan bila penghungi rumah berjumlah lebih dari 5 orang. </font></p>
<p style="margin:auto 0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Sudah begitu, sedot tinja sering menimbulkan gangguan psikis bagi penghuni rumah terutama dalam hal selera makan. Belum lagi ketidaknyamanan dengan tetangga di kanan kiri rumah. Belum lagi bila lokasi rumah sulit dijangkau oleh kendaraan seukuran truk penyedot. Belum lagi waktu yang harus kita sisihkan untuk mengawasinya. Belum lagi ini itu yang lain. Pendek kata, serba merepotkan.</font></p>
<p style="margin:auto 0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"><em>Septic tank</em> sebagai penampung limbah organik sesungguhnya lebih mudah diolah dan dikelola karena kemampuan degradasi sampah organik ini sangat tergantung dari bakteri-bakteri yang berkembang di dalam tangki. Oleh karenanya, pendekatan yang sifatnya biologis sebenarnya dapat dilakukan sebelum pendekatan yang sifatnya fisik seperti menyedot tinja dilakukan.</font></p>
<p><strong><font face="Calibri">Mikroba Probiotik</font></strong></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Pada industri makanan dan minuman, aneka jenis produk juga tersedia secara luas di pasaran untuk mempercepat proses degradasi limbah makanan di dalam tubuh. Minuman probiotik seperti Yakult, Vita Charm adalah contohnya. Minuman ini bekerja dengan menghasilkan bakteri yang disebut probiotik yang mempercepat proses degradasi makanan dan minuman ke dalam tubuh sehingga metabolisme dan proses pencernaan bisa berlangsung lebih sempurna. </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Prinsip yang sama diterapkan dalam pengolahan limbah yang sudah keluar dari tubuh dan tertampung di <em>septic tank</em>. Buana Semesta Lestari, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang pengelolaan limbah dan air, meramu sebuah larutan berbahan nonkimiawi yang berfungsi untuk mempercepat proses degradasi limbah organik ini. Bila diaplikasikan pada <em>septic tank</em>, ia dapat mengggantikan penyedotan berkala sehingga menekan biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah rumah tangga. Sekaligus juga mengurangi keribetan sana-sini yang diakibatkan oleh aktivitas penyedotan. </font></p>
<p style="margin:auto 0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Prinsip kerja larutan ini didasarkan pada pembiakan bakteri mutualisme seperti lactobillus, sacharomyces, acetobacter, dan bakteri pengurai selulosa yang tidak bersifat racun dan menyebabkan penyakit, dan aman terhadap lingkungan.</font></p>
<p style="margin:auto 0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Menurut Puji Santoso, salah satu staf Buana Semesta Lestari, produk ini sangat mudah digunakan. Dikemas dalam botol plastik berukuran satu liter, larutan ini tinggal dituang ke dalam lubang toilet dan akan bekerja efektif dalam waktu maksimal <span> </span>8 jam. Puji menegaskan, selama proses bekerjanya, larutan ini memang sedikit menimbulkan bau tetapi bukan bau yang sampai mengganggu penghuni rumah atau tetangga.<span>  </span>“Untuk menghindari terciumnya bau, sebaiknya larutan dituang pada malam hari setelah semua anggota tidur, sehingga pada pagi harinya bau sudah hilang,” kata Puji. <span> </span>Bila dibaui, larutan ini sendiri berbau seperti ragi. </font></p>
<p><strong><font face="Calibri">Menggantikan Fungsi Sedot</font></strong></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Dengan menggunakan larutan ini, penyedotan rutin <em>septic tank</em> bisa tergantikan oleh cara ini. “Kalau biasanya penyedotan dilakukan 6 bulan, setiap 6 bulan pula larutan ini dituangkan. Kalau setahun, ya setiap tahun dituangnya,” papar Puji. Menurutnya, pengaplikasian larutan ini sangat tergantung dengan kondisi<span>  </span>dan jumlah anggota keluarga di dalam rumah. Untuk asrama atau hotel, frekuensinya bisa lebih cepat.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Satu liter larutan ini dipasarkan dengan harga Rp 35 ribu. Sangat murah bila dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar jasa tukang sedot. Sangat praktis bila dibandingkan dengan cara sedot konvensional. Dan sangat ramah lingkungan bila dibandingkan dengan larutan lain yang biasanya menggunakan larutan kimia.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Sayangnya, larutan ini belum terdistribusi secara merata dan luas. Buana Semesta Lestari malah menawarkan siapa saja yang tertarik untuk menjadi agen atau distributor. Bila kita ingin memesan, mereka melayani pemesanan langsung. </font></p>
<p><font face="Calibri"> </font><strong><font face="Calibri">Larutan Multifungsi</font></strong></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Selain berfungsi untuk menggantikan sedot tinja, larutan ini juga memiliki kegunaan lain karena sifatnya yang organik (nonkimiawi). Menghilangkan bau adalah salah satunya. Caranya cukup mudah, yaitu melarutkan 30-100 ml larutan ini ke dalam satu liter air lalu disemprotkan ke area-area yang menghasilkan bau.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Kegunaan lainnya adalah untuk menetralkan limbah di lingkungan industri, rumah sakit, hotel, restoran dan sebagainya. Larutan ini akan menurunkan kadar COD (<em>chemical oxygen demand</em>) dan BOD (<em>biological oxygen demand</em>). </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Yang tak kalah penting adalah, larutan ini juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman hias di dalam rumah. Bakteri yang terkandung di dalam larutan ini akan membuat tanah menjadi lebih subur. Cara penggunaannya juga mudah, tinggal melarutkan 30-60 ml ke dalam seliter air dan kemudian disiramkan ke tanaman. Hindari konsentrasi larutan yang terlalu tinggi karena efeknya justru akan membuat tanaman “kepanasan” dan akhirnya layu.</font></p>
<p><font face="Calibri"> </font><font face="Calibri">Foto: <a href="http://www.housenumbers.ca/">www.housenumbers.ca</a></font><font face="Calibri"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Buana Semesta Lestari</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Jl. H. Juanda 37 Rempoa, Cirendeu</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Jakarta Selatan </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">021-7442561</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Email: </font><a href="mailto:buana.lestari@yahoo.com"><font color="#0000ff" face="Calibri">buana.lestari@yahoo.com</font></a></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><a href="http://www.bsl-online.com/"><font face="Calibri">www.bsl-online.com</font></a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aweha.wordpress.com/37/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aweha.wordpress.com/37/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aweha.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aweha.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aweha.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aweha.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aweha.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aweha.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aweha.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aweha.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aweha.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aweha.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aweha.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aweha.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aweha.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aweha.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aweha.wordpress.com&amp;blog=517242&amp;post=37&amp;subd=aweha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aweha.wordpress.com/2007/11/21/septic-tank-penuh-kenapa-mesti-disedot/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/10dced73d4a67dd45caa43d2b05410e6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wisnuhardana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aweha.files.wordpress.com/2007/11/septicman.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">septicman.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FAKE</title>
		<link>http://aweha.wordpress.com/2007/10/27/fake/</link>
		<comments>http://aweha.wordpress.com/2007/10/27/fake/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Oct 2007 17:42:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnuhardana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nggambus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aweha.wordpress.com/2007/10/27/fake/</guid>
		<description><![CDATA[Internet telah menjadi belantara teks. Gugel adalah dewa dari para dewa, yang selalu dipanggil-panggil ketika kita masuk ke rimba raya ini. Gugel memberi petunjuk jalan, meski ia bukan jalan itu sendiri. Ia membukakan, meski kadang juga tak menyelesaikan. Tak bisa menyelesaikan karena Gugel kadang merekam dan mencatat yang palsu. Saya agak yakin, semua orang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aweha.wordpress.com&amp;blog=517242&amp;post=32&amp;subd=aweha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Internet telah menjadi belantara teks. Gugel adalah dewa dari para dewa, yang selalu dipanggil-panggil ketika kita masuk ke rimba raya ini. Gugel memberi petunjuk jalan, meski ia bukan jalan itu sendiri. Ia membukakan, meski kadang juga tak menyelesaikan.</p>
<p>Tak bisa menyelesaikan karena Gugel kadang merekam dan mencatat yang palsu. Saya agak yakin, semua orang yang pernah memasukkan info pribadinya di internet pasti pernah memberi info atau data palsu. Alasannya macam-macam. Takut privasinya terganggu, malas,  ingin tetap misterius, ingin aneh, atau ribuan alasan lain.</p>
<p>Namun kepalsuan memang menyatu dalam diri setiap orang. Mulai kapan? Mungkin mulai ketika ia mengenal orang lain. Kapan itu? Mungkin sejak nalarnya mulai tegak.</p>
<p><span id="more-32"></span></p>
<p>Dan di hadapan internet, ia adalah  bagian intrinsik yang pantas untuk diusik. Tak usah jauh-jauh. Saya sendiri contohnya. Entah sudah berapa banyak kebohongan yang saya torehkan ketika mengisi informasi yang diminta, entah itu di layanan email, situs, blog, social network, dan banyak lagi. Saya sendiri sudah lupa berapa keranjang yang saya buang ke internet dan jadi sampah di sana. Sudah lupa saya berapa alamat email pernah saya buat, sekalipun sekarang hanya dua yang saya rawat benar-benar.</p>
<p>Itu karena ada bagian dalam diri saya yang tak mau orang lain boleh tahu. Misalnya, kalau saya lagi horn*, lalu mencari-cari di internet,  nggak mungkinlah saya mendaftar dengan nama terang saya sesuai katepe atau akte lahir. Atau ketika saya mencoba jujur pada diri sendiri karena saya suka keindahan perempuan, saya nggak mungkin jujur lagi ketika mencoba menuntaskannya dengan mencarinya di internet.</p>
<p>Setiap orang memang punya ruang pribadi yang rawan disentuh atau diusik. Sekali bocor, ia bisa kalang kabut. Seolah-olah kiamat kecil terjadi. Namun saya belakangan ini mencoba untuk mengurangi pemakaian &#8220;identitas palsu&#8221; di internet. Bukan saya ingin sok suci dan sok baik memberi informasi sebenar-benarnya, tetapi karena identitas yang palsu membuat saya pusing kepala mengingat dan sekaligus merawatnya.</p>
<p>Pernah suatu kali saya harus mengakses sebuah informasi dari internet, dan ia meminta saya menuliskan tanggal lahir. Mampuslah saya, karena tak juga mendapatkannya karena tanggal lahir yang saya isi dulu palsu. Mau menjajal kombinasi tanggal dan bulan? Itu artinya 365 kombinasi. Itu baru untuk satu angka tahun. Mau berapa angka dijajal? Saya menyerah. Dan saya pun harus memupus keinginan mengakses informasi tadi. Begitulah. Yang palsu belakangan terasa membuat pusing.</p>
<p>Saya bermimpi, suatu saat ada killer apps atau killer services macam Gugel jaman sekarang, yang bisa mendeteksi sesuatu yang palsu di rimba raya ini, atau menyortir yang palsu-palsu dari jagad belantara internet.<br />
Namun, mungkin itu tak akan terjadi sebelum semua manusia mati. Karena kepalsuan, sudah melekat dalam diri setiap manusia….</p>
<p><em>Ciledug&#8230;sembari ngobrol dengan sahabat lama&#8230; </em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aweha.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aweha.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aweha.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aweha.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aweha.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aweha.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aweha.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aweha.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aweha.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aweha.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aweha.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aweha.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aweha.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aweha.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aweha.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aweha.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aweha.wordpress.com&amp;blog=517242&amp;post=32&amp;subd=aweha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aweha.wordpress.com/2007/10/27/fake/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/10dced73d4a67dd45caa43d2b05410e6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wisnuhardana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SELINGKUH</title>
		<link>http://aweha.wordpress.com/2007/10/26/selingkuh/</link>
		<comments>http://aweha.wordpress.com/2007/10/26/selingkuh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Oct 2007 11:40:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnuhardana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nggambus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aweha.wordpress.com/2007/10/26/selingkuh/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap manusia, rasanya punya bakat satu ini. Ia tak peduli umur, apalagi cuma jenis kelamin. Ia bisa menyerang abege yang dilanda cinta monyet, atau emak-emak yang hampir meno. Bapak-bapak yang sering dicap &#8220;bandot&#8221;, atau jejaka perlente yang dijuluki pleboi, juga tak luput. Selingkuh, bisa benar-benar tak kelihatan ujudnya, bila ditindas oleh sesuatu yang lain, entah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aweha.wordpress.com&amp;blog=517242&amp;post=31&amp;subd=aweha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap manusia, rasanya punya bakat satu ini. Ia tak peduli umur, apalagi cuma jenis kelamin. Ia bisa menyerang abege yang dilanda cinta monyet, atau emak-emak yang hampir meno. Bapak-bapak yang sering dicap &#8220;bandot&#8221;, atau jejaka perlente yang dijuluki pleboi, juga tak luput.</p>
<p>Selingkuh, bisa benar-benar tak kelihatan ujudnya, bila ditindas oleh sesuatu yang lain, entah itu perasaan cinta, khawatir, atau risiko. Hanya orang yang tak atau belum berpasangan yang luput dari kata ini rasanya. Cobalah terawang lagi detik perjalanan yang terlewat, hari yang lalu, bulan, atau tahun yang silam. Kalau Anda mau jujur, Anda pasti pernah &#8211;entah sekali, sayup-sayup, nyaris tak terlihat&#8211;memikirkannya.</p>
<p>Saat ngobrol sore dengan teman kantor, ia cerita tentang dua temannya &#8211;yang dua-duanya kebetulan kukenal&#8211; mungkin tengah menjalani praktek ini. Tentu saja, aku tak ingin menuduh benarkah demikian halnya. Tapi setidaknya cerita kawan ini, membuat hasratku muncul untuk menuliskannya.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aweha.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aweha.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aweha.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aweha.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aweha.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aweha.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aweha.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aweha.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aweha.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aweha.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aweha.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aweha.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aweha.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aweha.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aweha.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aweha.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aweha.wordpress.com&amp;blog=517242&amp;post=31&amp;subd=aweha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aweha.wordpress.com/2007/10/26/selingkuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/10dced73d4a67dd45caa43d2b05410e6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wisnuhardana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Perlindungan Ketika Hidup di Tanah Risiko</title>
		<link>http://aweha.wordpress.com/2007/10/25/pentingnya-perlindungan-ketika-hidup-di-tanah-risiko/</link>
		<comments>http://aweha.wordpress.com/2007/10/25/pentingnya-perlindungan-ketika-hidup-di-tanah-risiko/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Oct 2007 01:36:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnuhardana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life is Beautiful]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aweha.wordpress.com/2007/10/25/pentingnya-perlindungan-ketika-hidup-di-tanah-risiko/</guid>
		<description><![CDATA[Andai kutahu Kapan tiba ajalku Kuakan memohon, Tuhan tolong panjangkan umurku…(Ungu Band) &#160; Bersyukurlah kita karena kita tak pernah tahu kapan ia akan tiba. Seandainya setiap manusia sudah tahu kapan ajal akan tiba, atau akan seperti apa jalan hidupnya sampai ajal tiba, hidup akan membosankan. Monoton. Dan hanya akan dua tipe manusia di bumi ini: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aweha.wordpress.com&amp;blog=517242&amp;post=23&amp;subd=aweha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aweha.files.wordpress.com/2007/10/1607043073_db69e6ff08.jpg" title="Mobil Avanza yang mengalami kecelakaan pada musim Lebaran 2007 di daerah Bawen, Semarang."><img border="2" vspace="15" align="right" width="120" src="http://aweha.files.wordpress.com/2007/10/1607043073_db69e6ff08.thumbnail.jpg?w=120&#038;h=90" hspace="15" alt="Mobil Avanza yang mengalami kecelakaan pada musim Lebaran 2007 di daerah Bawen, Semarang." height="90" /></a></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><em>Andai kutahu</em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><em>Kapan tiba ajalku</em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><em>Kuakan memohon, </em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><em>Tuhan tolong panjangkan umurku</em>…(Ungu Band)</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">Bersyukurlah kita karena kita tak pernah tahu kapan ia akan tiba. Seandainya setiap manusia sudah tahu kapan ajal akan tiba, atau akan seperti apa jalan hidupnya sampai ajal tiba, hidup akan membosankan. Monoton. Dan hanya akan dua tipe manusia di bumi ini: manusia tertawa dan manusia menangis. Yang jalan hidupnya indah akan tertawa sepanjang hidupnya, sedangkan yang pahit akan terus-terusan menangis dan meratap.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"> <span id="more-23"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">Namun karena justru ia adalah rahasia kepunyaan Sang Pemilik Hidup, kehidupan menjadi lebih penuh warna, memberi dinamika. Yang baru saja tertawa, tiba-tiba dipaksa atau terpaksa menangis. Dan sebaliknya. Karena manusia tidak pernah tahu rahasia yang satu ini, setiap orang dapat merencanakan hidupnya, bermimpi tentang kehidupan yang lebih baik, dan bercita-cita menjalani hidup sesuai pilihannya. Dan karena apa yang akan terjadi dalam perjalanan waktu ke depan &#8211;bahkan untuk sedetik berikutnya—bersifat tidak pasti, manusia sesungguhnya memerlukan suatu cara untuk mengurangi risiko atas ketidakpastian itu. Misalnya ketika gambaran-gambaran hidup yang mereka susun menyimpang dari yang dibayangkan, dunia yang ingin mereka jalani berbeda antara harapan dan kenyataan, atau ketika Tuhan meminta kita “selesai”.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">Namun, meski sebagian besar orang tahu bahwa ia harus mengurangi risiko itu, belum banyak orang yang bersedia berpikir ke arah sana. Atau kalaupun bersedia, belum tahu bagaimana caranya dan dengan apa. Di situlah peran utama asuransi. Masih sedikit orang yang “melek” terhadap asuransi, bahkan di kalangan yang sebenarnya memiliki kemampuan ekonomi untuk ikut dalam program perlindungan risiko tersebut. Bagi sebagian orang, asuransi dipandang kurang memberi manfaat karena biaya yang harus mereka keluarkan bisa mereka kelola sendiri dan berpotensi mendapatkan keuntungan lebih besar.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">Sebagian lagi malah menganggap asuransi itu seperti judi. Padahal, perbedaannya sangat terang benderang. Dalam judi, orang dihadapkan pada satu dari dua kemungkinan, menang atau kalah. Untung atau rugi. Orang yang berjudi adalah orang yang mencari risiko dan mengambil risiko itu untuk dirinya. Sementara orang yang berasuransi adalah orang yang menghindari risiko. Filosofi asuransi, berbeda dari judi, adalah memberikan dukungan (finansial) tatkala seseorang atau lembaga mengalami kehilangan (barang, jasa, kesempatan, hingga nyawa) atau kerugian. Kalau judi bersifat menciptakan risiko dengan mencari keuntungan (dengan risiko yang sama besar akan mendapatkan kerugian), maka asuransi tidak bersifat mencari keuntungan (finansial) tetapi mengurangi dan menghindari risiko.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">Mengapa risiko itu harus dihindari? Karena seperti bait lagu tadi, tahu kapan ajal tiba, atau kapan mala akan datang, hanyalah andai-andai.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><strong>Sejarah Panjang Asuransi</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">Asuransi sesungguhnya sudah muncul ketika sebuah komunitas masyarakat terbentuk dan beraktivitas. Orang-orang di China sejak abad ke-3 sebelum Masehi sudah mempraktekkan “sistem asuransi” ketika melakukan perdagangan yang dilakukan di sungai-sungai yang mereka lintasi untuk berdagang. Caranya adalah tidak menempatkan barang-barang mereka dalam satu kapal yang sama guna menghindari hilangnya seluruh barang bilamana terjadi perampokan di tengah jalan atas barang-barang mereka. Masyarakat Babilonia juga sudah melakukannya pada abad ke-2 sebelum Masehi. Pada masa itu, jika seorang pedagang mendapatkan pinjaman uang untuk mengirimkan barang-barang dagangan, si pedagang akan mencicil pinjaman tersebut dalam jumlah yang lebih besar dari nilai pinjaman, guna menghindari risiko pembayaran cicilan bilamana barang-barang dagangan yang mereka kirimkan dirampok atau hilang dalam perjalanan. Dalam catatan sejarah yang terekam pada Kitab Hammurabi, 1750 sebelum Masehi, praktek ini sudah dijalankan di tengah masyarakat pedagang-pedagang kapal yang mengarungi jazirah Mediterania.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">Cerita kitab suci tentang Nabi Yusuf yang menjadi penasehat Raja Firaun di Mesir juga sering diangkat sebagai bagian dari sejarah asuransi. Ketika Mesir mengalami kemakmuran dan panen melimpah, Yusuf menasehati Firaun untuk menyimpan sebagian panenan, guna mengantisipasi keadaan buruk yang bisa terjadi di masa depan. Pesan kenabian Yusuf dapat dipandang sebagai upaya menghindari risiko, kalau-kalau terjadi hal buruk di masa depan. Dan benarlah demikian. Ketika bangsa Mesir dilanda paceklik dan wabah, simpanan panenan itu bermanfaat dan menyelamatkan rakyat Mesir dari kelaparan.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa asuransi memang sudah ada ketika sebuah masyarakat terbentuk dan mengadakan interaksi satu sama lain dalam rangka menciptakan kehidupan yang lebih baik pada masanya. Bentuknya saja yang mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Di era modern, semakin banyak jenis asuransi yang ditawarkan seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia untuk terhindar dari risiko-risiko yang tidak diinginkannya. Mengasuransikan rumah dari ancaman kebakaran atau banjir, mengasuransikan mobil ketika risiko kecelakaan atau hilang muncul, mengasuransikan pendidikan anak dan kesehatan, atau mengasuransikan jiwa seseorang cuma beberapa contoh yang sudah jamak dijumpai dalam praktek asuransi modern. Kini, alat-alat elektronik atau perhiasan, bahkan lukisan atau tanaman, juga sudah dicakup dalam layanan asuransi. Bahkan seorang artis juga dapat mengasuransikan bagian tubuhnya yang dianggap penting. Tindakan atau kegiatan (artinya bukan barang) yang berpotensi menghasilkan risiko kerugian seperti perjalanan juga memperoleh perlindungan asuransi.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><strong>Hidup dengan Risiko</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">Orang Indonesia, boleh jadi orang yang suka mengambil risiko dan merasa risiko adalah bagian dari hidup. Secara geologis, Indonesia berada pada cincin api (<em>ring of fire</em>) Pasifik yang menyebabkan banyak gunung berapi di dataran ini. Ini artinya, dibandingkan kawasan lain, risiko bencana alam yang ditimbulkan dari gunung api di kawasan ini termasuk yang terbesar. Secara geologis pula, semua daerah di Indonesia kecuali Pulau Kalimantan adalah daerah yang rawan terjadi gempa. Orkestrasi alam yang memunculkan guncangan di permukaan bumi bisa terjadi puluhan kali setiap tahun. Gempa di Papua misalnya, segera memicu goncangan di kawasan lain yang jaraknya ribuan kilometer.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">Dari sisi lingkungan dan kesehatan, Indonesia adalah negeri dengan pandemi dan korban flu burung tertinggi di dunia. Flu mematikan ini menyerang dan menyebar dari daratan Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, hingga Papua. Wabah ini mengguncang psikologi warga karena si virus memilih unggas sebagai media penularan, binatang yang dipelihara hampir seluruh masyarakat di seluruh Indonesia dan merupakan salah hewan konsumsi terpenting.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">Belum lagi ketika kita bicara wabah lain yang diakibatkan oleh nyamuk. Setiap kali musim hujan tiba, sebagian besar rumah sakit di seluruh Indonesia disibukkan dengan meledaknya korban nyamuk demam berdarah. Korban-korban meninggal yang terlambat mendapatkan perawatan bertambah setiap tahun. Itu baru nyamuk demam berdarah. Nyamuk-nyamuk lainnya kini juga berkembang semakin pesat seiring dengan terciptanya ekosistem lembab dan panas yang diakibatkan oleh peningkatan temperatur udara lingkungan dan perubahan cuaca.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">Dari sisi transportasi, Indonesia juga memegang rekor. Beberapa tahun belakangan ini, kecelakaan pesawat udara yang terjadi di tanah air menduduki peringkat teratas dibandingkan negara-negara lain di seluruh dunia. Itu baru pesawat udara. Sebagai negeri dengan banyak pulau, kapal juga merupakan transportasi utama di negeri ini. Dan simak saja berita di koran dan televisi tentang kecelakaan kapal yang terjadi di tanah air dua tahun belakangan ini saja.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">Bila di laut dan di udara ancaman atau risiko kecelakaan sedemikian besar, setali tiga uang pula risiko kecelakaan transportasi darat. Kereta api anjlok hampir terjadi setiap bulan, padahal moda transportasi itu hanya tersedia di Pulau Jawa dan sebagian Sumatera. Tak bisa dibayangkan bila seluruh Indonesia dilayani oleh jasa ini. Belum lagi kecelakaan yang diakibatkan oleh moda transportasi darat terpenting yakni kendaraan bermotor. Jumlah kendaraan yang terus meningkat tanpa ada pengendalian, pembatasan, atau pengurangan secara sistematis, jelas akan membuat jalan raya kian dipadati oleh kuda-kuda besi ini, baik roda dua maupun roda empat. Efeknya, keamanan dan keselamatan di jalan raya menjadi pertanyaan besar.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">Namun anehnya, kesadaran warga untuk mengurangi risiko-risiko hidup di wilayah yang secara faktual seperti tergambar di atas justru masih terbilang rendah. Dari seluruh penduduk Indonesia yang jumlahnya kini mencapai kurang lebih 220 juta jiwa, mereka yang terlindungi oleh asuransi jumlahnya tak lebih dari 20 persen. Bandingkan dengan negara lain seperti Jepang yang asuransinya bisa mencapai angka 300 persen, yang artinya setiap orang rata-rata memiliki polis asuransi sebanyak tiga buah. Di negara tetangga seperti Malaysia, jumlah warga yang ikut serta dalam program asuransi mencapai hampir separuh dari jumlah penduduk.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><strong>Menumbuhkan Kesadaran Berasuransi</strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">Dengan peta kasar yang tergambar di atas, ditambah fakta bahwa sesungguhnya penduduk Indonesia dikelilingi oleh risiko-risiko seperti itu, minat dan kesadaran berasuransi di kalangan warga jelas masih sangat rendah. Namun rendahnya kesadaran berasuransi ini sekaligus merupakan potensi besar bila pemerintah dapat menelurkan kebijakan dan regulasi yang mendorong tumbuhnya minat dan kesadaran berasuransi.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">Tanggal 18 Oktober adalah waktu yang ditetapkan sebagai Hari Asuransi Indonesia. Momentum ini tentu saja penting dan perlu disosialisasikan supaya sebuah hari dalam setahun ini dapat digerakkan menjadi bola salju yang kian membesar sepanjang tahun. Tahun ini, asuransi mengambil tema “Asuransi Mitra Menuju Sejahtera”. Namun hingga saat ini, gaung itu belum menggema menjadi sebuah kesadaran baru dan gerakan yang sifatnya masif di tengah masyarakat. Artinya, kesadaran itu masih menyentuh lapisan masyarakat yang sama yang sebenarnya justru sudah “melek” asuransi, sementara sebagian besar masyarakat yang lain masih memilih hidup sebagaimana biasa dengan segala risiko-risikonya, tanpa pernah digugah kesadarannya bahwa risiko itu bisa dihindari atau dikurangi.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">Ingat, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok pada kita dan ketika kita terlambat melindungi diri, sia-sialah semuanya. Selamat merayakan hari asuransi.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aweha.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aweha.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aweha.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aweha.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aweha.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aweha.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aweha.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aweha.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aweha.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aweha.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aweha.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aweha.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aweha.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aweha.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aweha.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aweha.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aweha.wordpress.com&amp;blog=517242&amp;post=23&amp;subd=aweha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aweha.wordpress.com/2007/10/25/pentingnya-perlindungan-ketika-hidup-di-tanah-risiko/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/10dced73d4a67dd45caa43d2b05410e6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wisnuhardana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aweha.files.wordpress.com/2007/10/1607043073_db69e6ff08.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Mobil Avanza yang mengalami kecelakaan pada musim Lebaran 2007 di daerah Bawen, Semarang.</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fiuhhhh!</title>
		<link>http://aweha.wordpress.com/2007/10/15/fiuhhhh/</link>
		<comments>http://aweha.wordpress.com/2007/10/15/fiuhhhh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2007 16:31:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnuhardana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nggambus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aweha.wordpress.com/2007/10/15/fiuhhhh/</guid>
		<description><![CDATA[Anak itu merengek meminta emaknya dibelikan &#8220;babel&#8221;. Dolanan itu sudah ada sejak bapaknya masih bau umbel. Bapak dari bapaknya pernah bercerita pada bapaknya, dulu sekali ia dan teman-temannya membuat sendiri mainan itu dari buah klerak yang bisa dibuat biji ketapel. Mainan itu dapat didapat dengan cepat kini. Juga mudah. Di mal-mal yang dingin, di warung-warung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aweha.wordpress.com&amp;blog=517242&amp;post=20&amp;subd=aweha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a TITLE="Fiuuuhhhh!!!" HREF="http://aweha.files.wordpress.com/2007/10/img_0022.JPG"><img ALT="Fiuuuhhhh!!!" SRC="http://aweha.files.wordpress.com/2007/10/img_0022.thumbnail.JPG" /></a></p>
<p>Anak itu merengek meminta emaknya dibelikan &#8220;babel&#8221;. Dolanan itu sudah ada sejak bapaknya masih bau umbel. Bapak dari bapaknya pernah bercerita pada bapaknya, dulu sekali ia dan teman-temannya membuat sendiri mainan itu dari buah klerak yang bisa dibuat biji ketapel.</p>
<p>Mainan itu dapat didapat dengan cepat kini. Juga mudah. Di mal-mal yang dingin, di warung-warung mainan ada dan dijual murah. Dikemas dalam botol indah. Dulu bapak dari bapaknya menggunakan lidi untuk membuat air sabun itu. Kini telah berganti plastik nan mewah.</p>
<p>Dan botol itu tertulis: Made in China. Klerak sudah lama musnah.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aweha.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aweha.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aweha.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aweha.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aweha.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aweha.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aweha.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aweha.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aweha.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aweha.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aweha.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aweha.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aweha.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aweha.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aweha.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aweha.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aweha.wordpress.com&amp;blog=517242&amp;post=20&amp;subd=aweha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aweha.wordpress.com/2007/10/15/fiuhhhh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/10dced73d4a67dd45caa43d2b05410e6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wisnuhardana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lelah oleh Nama</title>
		<link>http://aweha.wordpress.com/2007/10/13/lelah/</link>
		<comments>http://aweha.wordpress.com/2007/10/13/lelah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Oct 2007 19:43:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aweha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nggambus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aweha.wordpress.com/2007/10/13/lelah/</guid>
		<description><![CDATA[Ia mencarinya pada kotak putih, memasukkan sesuatu tentang masa silam. Tak lelah-lelahnya ia mengais nama-nama. Terus begitu dan sejam berlalu. Lalu dua. Ketiga tiga hendak menyambut, barulah tahu ia telah terlarut pada kotak putih itu dan tak ditemukan apa yang dicarinya lewat kotak putih. Sesekali isi kotak itu telah membuatnya terkejut. Namun ia terasing. Lalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aweha.wordpress.com&amp;blog=517242&amp;post=17&amp;subd=aweha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ia mencarinya pada kotak putih, <img SRC="http://aweha.files.wordpress.com/2007/10/gugel.thumbnail.gif" ALT="Gugel" />memasukkan sesuatu tentang masa silam.</p>
<p>Tak lelah-lelahnya ia mengais nama-nama. Terus begitu dan sejam berlalu. Lalu dua.</p>
<p>Ketiga tiga hendak menyambut, barulah tahu ia telah terlarut pada kotak putih itu dan tak ditemukan apa yang dicarinya lewat kotak putih. Sesekali isi kotak itu telah membuatnya terkejut. Namun ia terasing. Lalu berhentilah ia dengan kotak putih.</p>
<p>Kelelahan rupanya. Nama-nama membuatnya terbenam.</p>
<p><em>2007-10-13, Banten</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aweha.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aweha.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aweha.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aweha.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aweha.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aweha.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aweha.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aweha.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aweha.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aweha.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aweha.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aweha.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aweha.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aweha.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aweha.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aweha.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aweha.wordpress.com&amp;blog=517242&amp;post=17&amp;subd=aweha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aweha.wordpress.com/2007/10/13/lelah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d1823470c6ceea858e5fd78cb6300f45?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aweha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tarif Selular Murah: Musik Klasik atau Lagu Dangdut?</title>
		<link>http://aweha.wordpress.com/2007/09/25/tarif-selular-murah-klasik-atau-dangdut/</link>
		<comments>http://aweha.wordpress.com/2007/09/25/tarif-selular-murah-klasik-atau-dangdut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Sep 2007 15:52:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aweha</dc:creator>
				<category><![CDATA[IT-Telco]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aweha.wordpress.com/2007/09/25/tarif-selular-murah-klasik-atau-dangdut/</guid>
		<description><![CDATA[Thomas L. Friedman, kolumnis yang disebut-sebut paling berpengaruh di Amerika Serikat saat ini, boleh saja bilang begini: Berkat kemajuan telekomunikasi dan internet, jagad menjadi datar. “The world is flat”. Tentu saja, bumi secara fisik tetaplah bola bulat, karena istilah “datar” cuma metafora yang dibuat Friedman untuk menggambarkan efek yang muncul dari telekomunikasi yang kian murah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aweha.wordpress.com&amp;blog=517242&amp;post=16&amp;subd=aweha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Thomas L. Friedman</strong>, kolumnis yang disebut-sebut paling berpengaruh di Amerika Serikat saat ini, boleh saja bilang begini: Berkat kemajuan telekomunikasi dan internet, jagad menjadi datar. “The world is flat”. Tentu saja, bumi secara fisik tetaplah bola bulat, karena istilah “datar” cuma metafora yang dibuat Friedman untuk menggambarkan efek yang muncul dari telekomunikasi yang kian murah dan mudah tadi.</p>
<p>Menurut Friedman, telekomunikasi yang murah <em>(cheap</em>) dan tersedia dengan mudah di mana-mana <em>(ubiquitous</em>) membuat setiap orang di seluruh penjuru dunia kini dapat berpartisipasi dalam kancah bisnis global. Telekomunikasi dan teknologi informasi (TI) telah memompa globalisasi sepenuh-penuhnya, sempurna, menciptakan dunia yang datar, praktis tak berjarak, tak berjenjang, tak bersekat.</p>
<p>Namun, benarkah ia benar-benar datar, tak berjarak, tak bersekat, tak berjenjang, seperti yang dikatakan Friedman? Benar pulakah setiap orang telah menikmati telekomunikasi yang tarifnya kian murah ini dan menuai manfaat darinya?</p>
<p><span id="more-16"></span></p>
<p>Telekomunikasi, sebagaimana juga TI yang memberi nyawa pada kata absurd bernama globalisasi, sekarang memang sudah bisa dinikmati segala lapisan orang. Presiden atau kepala dusun, jenderal atau prajurit rendahan, direktur atau<em> office boy</em>, majikan sampai pembantu rumah tangga, semuanya menikmati efek telekomunikasi murah ini. Namun, membuat dunia menjadi tak berjarak tak bersekat, memberi manfaat bagi semua orang seperti klaim kolumnis berpengaruh itu, tunggu dulu!</p>
<p><strong>Klasik versus Dangdut</strong><br />
Musik klasik sering diasosiasikan dengan musik yang mencerdaskan, lengkap, musik yang mampu menggerakkan otak kanan manusia menjadi lebih aktif dan kreatif. Bahkan makin besar efeknya bila musik itu diperdengarkan sejak bayi dalam kandungan ibunya.</p>
<p>Umumnya, hanya golongan masyarakat menengah ke atas dan terdidiklah yang mau menikmati musik ini. Sementara kalangan bawah, kelompok yang kurang terdidik, pekerja rendahan, buruh dan pembantu rumah tangga, umumnya lebih dekat dengan irama dangdut, meski dangdut sendiri juga sudah naik kelas tak hanya dinikmati rakyat kalangan bawah.</p>
<p>Nah, di negeri ini, tarif telekomunikasi yang makin murah dan fitur yang kian melimpah pun ibarat musik klasik tadi: Dinikmati dan dimanfaatkan oleh kaum cerdik pandai, orang terdidik, mereka yang selalu mengakses informasi terbaru. Sementara kelompok di bawah terbuai oleh syair lagu raja dangdut Rhoma Irama berikut ini: <em>“Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.”</em> Benarkah? Bukankah pedagang sayur, tukang ojek, atau pembantu rumah tangga juga sudah berponsel ria? Ya, tapi mari kita telisik lebih jauh!</p>
<p>Telekomunikasi sebagai salah satu anak kandung globalisasi, sudah lama dituding ahli sosial dan ekonomi membawa mala lebih banyak ketimbang berkat, persis seperti penggalan bait lagu Bang Haji di atas. Namun gerak globalisasi tidak mengikuti logika yang lurus dari syair lagu itu. Yang satu maju, tapi yang lain tidak mundur.</p>
<p>Yang berlangsung sesungguhnya adalah sama-sama bergerak maju, dengan perbedaan kecepatan masing-masing kelompok tadi dalam mengikuti gerak globalisasi. Semua merasakan efek dan manfaat teknologi informasi, apalagi telekomunikasi. Namun “para penikmat lagu klasik” merasakan efek dan manfaat ini jauh lebih cepat dan berlipat-lipat dibandingkan “para penggemar dangdut”. Semua bergerak maju, tapi yang di depan bergerak jauh lebih cepat sementara yang di belakang berjalan tertatih-tatih, sehingga jurang tampak menganga kian lebar. Yang di atas berlari, sedang di bawah merangkak. Ilustrasi faktual di bawah ini akan membuat kita melihat soal lebih terang benderang.</p>
<p><strong>Dwi Hastoto</strong> (36), adalah seorang pekerja profesional lulusan teknik elektro UGM. Ia bekerja di suatu perusahaan pengembang <em>software</em> di Jakarta, yang melayani pembuatan sistem informasi untuk institusi swasta dan kantor pemerintah. Berkat pengetahuan yang didapatnya, keahlian yang dimiliki, relasi yang dibangun, dan informasi baru yang dikumpulkannya, Dwi lalu membangun toko barang-barang <em>fancy</em>, suvenir, <em>stationery</em>, dan pernak-pernik aksesoris menarik lainnya.</p>
<p>Toko itu semata-mata ada di internet, di www.asemka.com. Untuk melayani pelanggan, menerima order, dan mengontrol bisnisnya, Dwi mengandalkan akses internet, dan itu pertama kali menggunakan layanan <em>provider</em> telepon selular. Dari toko <em>online</em>-nya itu, ia meraih keuntungan dengan cepat. Pelanggannya merambah hingga luar pulau, omzetnya terus membesar. Sejak dibuka akhir tahun 2006, sudah lebih dari 400 ribu <em>requests</em> datang ke situs itu.</p>
<p>Ketika operator ramai-ramai menggelar teknologi 3G yang menyediakan layanan data, ia terus memantau layanan ini, siapa tahu bisa lebih menekan biaya operasional, karena tagihan teleponnya pernah meledak hingga 700 ribu hanya untuk berinternet. Namun ia tidak segera berganti layanan internet, masih terus meng-<em>update</em> informasi membanding-bandingkan layanan. Mengapa? Karena ia tahu persaingan di bidang layanan data antar-<em>provider</em> semacam sekarang akan segera memicu tersedianya layanan yang makin murah. Benarlah. Dengan sedikit bersabar dan jeli, Dwi akhirnya mendapatkan pilihan terbaik, dan biaya internet per bulannya pun turun signifikan, lima kali lebih murah dibandingkan yang lama.</p>
<p>Nah, Dwi memiliki seorang pembantu di rumah, <strong>Daminah</strong> namanya. Umurnya belum 20, asal dari Kutoarjo. Dam, demikian gadis ini dipanggil, punya ponsel seperti layaknya pembantu-pembantu rumah tangga zaman sekarang. Sebulan, ia menghabiskan 50 hingga 60 ribu rupiah untuk ponselnya guna sekadar ngobrol, dan terutama untuk ber-SMS, ke “kolega-kolega”nya. Salah satu “kolega”nya adalah Imah. <strong>Chotimah</strong> nama lengkapnya, yang bekerja di sebuah rumah dekat Dam bekerja. Sama seperti Dam, Imah mengaku “<em>billing</em>” ponselnya per bulan berkisar 50-60 ribu rupiah. Imah, juga Dam, tentu saja tak punya banyak “relasi” nomor kontak di ponsel sebanyak majikan mereka. “<em>Address book</em>” mereka bahkan tak sampai 30 “<em>entries</em>”, dan nomor yang paling sering mereka “<em>call</em>” tak lebih dari 10 “<em>person</em>”.</p>
<p>Namun dari kontak yang tak banyak itu, kebanyakan berbeda-beda pula <em>provider</em>-nya satu sama lain. Alhasil, SMS yang biasanya paling sering berlangsung di antara mereka menjadi lebih boros. Mereka tak tahu bahwa SMS sesama operator tarifnya bisa hemat hingga tiga kali dari tarif normal. Bahkan mereka tak pernah tahu bahwa bercakap-cakap lewat SMS hingga 4 atau 5 kali balasan biayanya bisa lebih mahal daripada bicara yang cukup beberapa detik. Mereka masih yakin, ber-SMS lebih murah dibanding bicara karena tak cukup punya informasi untuk membandingkan tarif operator yang satu dengan yang lain, tak punya pikiran ekstra untuk menghitung rinci biaya percakapan atau SMS, pun pula kekurangan kreativitas untuk mencari cara berkomunikasi yang lebih murah. Yang mereka tahu cuma satu, tarif ponsel itu sekarang sangat murah dan terjangkau kantong mereka. Mereka bisa memilikinya. Menikmatinya.</p>
<p>Imah pernah bercerita, satu temannya dibuat panik gara-gara mendaftar kuis SMS yang diiklankan di TV. Setelah mendaftar, teman Imah itu kelabakan karena tak bisa berhenti berlangganan SMS yang menyedot 500 rupiah setiap hari itu. Ia pun pasrah meski menggerutu jerih payah dan keringatnya dihisap setiap hari oleh “makhluk tak dikenal”.</p>
<p><strong>Produksi versus Konsumsi</strong><br />
Itulah fakta yang terjadi. Di kelompok yang kurang terdidik, yang tidak mampu mengakses informasi dengan baik, telekomunikasi yang makin murah seolah-olah merupakan berkah. Mereka ini merasa bangga dan puas, dari hasil keringatnya bisa membeli ponsel, meskipun tipe yang paling murah atau ponsel bekas. Ponsel telah membuat hidup mereka kelihatan lebih indah, sekalipun itu menyedot seperenam atau bahkan seperlima gaji mereka setiap bulan. Juga, ketika pulang kampung ponsel menjadi senjata untuk menunjukkan eksistensi, status, dan “keberhasilan” mereka bekerja di kota.</p>
<p>Lima atau enam tahun lalu, orang-orang seperti Chotimah atau Daminah membawa uang ke kampung tanpa ada pengeluaran ekstra untuk “biaya telekomunikasi” semacam ini. Gaji selama setahun, umumnya dibelikan perhiasan, kambing, atau sapi di kampung halaman untuk dirawat/dititipkan kerabat. Namun sekarang, ponsel jauh lebih menarik daripada kambing yang cuma bisa mengembik. Ponsel bisa bernyanyi, juga lebih mentereng daripada segram dua gram emas, yang sehari-hari cuma ditaruh di dalam tas yang tergolek di kamar mereka yang panas.</p>
<p>Berkebalikan dengan Dam, Imah, dan teman-temannya, majikan mereka seperti Dwi, Eko, Tri, atau Catur, juga mungkin Anda, yang mampu mengakses informasi secara lebih baik dan memiliki pengetahuan lebih, telekomunikasi yang murah mampu diolah untuk memberi <em>opportunity</em> baru, menjadi alat produksi yang lebih murah, dan ujung-ujungnya meningkatkan pendapatan.</p>
<p>Jelas sudah, suatu hal yang sama ternyata memiliki efek atau akibat yang berbeda pada kelompok masyarakat yang berbeda. Bagi kelompok yang satu, tarif murah menjadi pesona tetapi juga menghisap penghasilan mereka yang sebelumnya bermanfaat untuk hal yang produktif, bukan konsumtif. Sementara bagi yang lain, tarif telepon murah secara cerdas diolah untuk menghasilkan kapital baru. Bagi yang satu, ponsel dan tarif yang murah adalah konsumsi dan gaya hidup baru, sementara bagi kelompok yang lain ia adalah alat produksi yang lebih efisien.</p>
<p>Itu baru soal bagaimana tarif dan fitur selular dimanfaatkan. Akan benderanglah masalahnya ketika kita mencermati bagaimana struktur tarif pulsa itu bekerja. Pulsa senilai 5 ribu ditawarkan seharga 6 atau 7 ribu rupiah. Yang 10 ribu harus ditebus dengan 12 ribu rupiah, dan pulsa 20 ribu dihargai 22 ribu rupiah. Sementara pulsa senilai 50 ribu baru bisa ditebus dengan rupiah yang sama. Sedang pulsa 100 ribu, harganya justru lebih murah karena umumnya dijual 96 atau 97 ribu rupiah. Dam atau Imah tentu enggan pulsa 50 ribu dibeli sekali isi, meskipun per bulannya mereka akan menghabiskan kurang lebih sebesar itu. Pulsa 5 atau 10 ribulah yang masuk akal. Dengan sistem beli pulsa “dicicil” seperti itu, bila diakumulasi setiap bulannya mereka menghabiskan 60 ribu rupiah untuk pulsa yang nilainya 50 ribu.</p>
<p>Orang-orang di kelompok Dam atau Imah, umumnya sangat tergila-gila pada lagu dangdut berjudul “SMS” yang genit dan renyah. Mereka menggunakannya sebagai nada dering ataupun ring back tone di ponsel mereka. Berkat orang-orang seperti Dam atau Imah pulalah jasa pasang<em> ringtone</em> menjamur di mana-mana, <em>ring back tone </em>diiklankan terus di TV dan media cetak, karena bagi mereka yang terdidik dan punya akses informasi lebih baik,<em> ringtone</em> semacam itu bisa mereka dapat secara gratis dari teman, atau diunduh dan di-<em>install</em> sendiri dari internet.</p>
<p>Lebih jauh lagi, bagi Imah atau Dam, untuk punya ringtone yang tidak sekadar bunyi kring yang terdengar “ndeso” atau<em> ring back tone</em> yang tak sekadar berbunyi tut, tuut, tuuut, mereka harus keluar duit lagi. Dan<em> ring back tone</em> itu butuh “makan” berupa saldo pulsa yang besarnya tak boleh kurang dari 9 ribu rupiah. Kurang dari itu, jelas tak bisa berdendang. Manakala mereka boros hingga pulsa cepat tiris dan tak bisa mengisi lebih dari sebulan, <em>ring back tone</em> akan hangus, dan ponsel <em>enggak</em> lagi &#8220;gaul&#8221;.</p>
<p>Begitulah. Struktur tarif pulsa, fitur ponsel, layanan selular, rasa-rasanya tidak atau belum berpaling pada orang-orang seperti Dam atau Imah. Namun hukum ekonomi seperti itulah yang harus mereka terima. Maka, sudah didera oleh kekurangtahuan mereka terhadap perhitungan-perhitungan tentang tarif dan struktur perhitungan pulsa SMS atau telepon sebagaimana tergambar di atas, orang-orang seperti Dam atau Imah sesungguhnya kian terpinggir dari putaran globalisasi, sekalipun sehari-hari mereka ikut serta dan merasakan putaran itu dalam bentuknya yang paling kongkret: ber-SMS dan bercakap di telepon.</p>
<p>Maka, globalisasi bekerja sedikit berbeda dari  syair lagu Rhoma Irama berjudul “Indonesia” yang dikutip di awal tulisan ini. Semua orang dari segala lapisan dan golongan sebenarnya tetap menikmati efek pertumbuhan dan perkembangan industri ini. Orang seperti Dwi menikmati tarif yang makin murah dan layanan yang kian beragam, pembantu seperti Dam bisa ber-SMS atau ngobrol memanfaatkan tarif yang murah.</p>
<p>Masalahnya, yang memiliki akses informasi lebih baik mampu melipatgandakan efek industri selular ini menjadi lebih produktif, sementara golongan orang yang tidak terdidik terseret oleh pusaran, tanpa bisa bersikap. Dengan kata lain, pemanfaatan kemajuan industri selular yang terjadi di golongan masyarakat bawah tidaklah secepat yang berlangsung di kelompok masyarakat yang mengakses informasi secara cepat.</p>
<p><strong>Tetap Eksis, Peduli Ekses</strong><br />
Maka, tarif murah tampil dalam dua muka: berkah sekaligus musibah. Dan industri selular akan tetap eksis di tengah persaingan tarif murah ini karena tiga alasan. <strong>Pertama</strong>, pasar yang bisa direngkuh membesar karena harga perangkat ponsel dan tarif yang terus memurah. Ketika pertama kali telekomunikasi selular muncul, tarif harga yang ditawarkan hanya bisa dijangkau oleh segelintir orang. Ia menjadi barang mewah. Pada fase berikutnya, seiring dengan tarif dan harga perangkat yang makin terjangkau, jumlah mengguna meningkat amat drastis dalam hitungan kurang dari 5 tahun. Industri selular di Indonesia yang baru berumur kurang lebih sepuluh tahun saja, sudah mampu menggaet jumlah pengguna kurang lebih 80 juta orang atau 8 kali jumlah pengguna telepon tetap. Maka, perang tarif justru akan membuat volume ini terus membesar karena hingga saat ini penetrasinya belum mencapai titik jenuh.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, tarif yang makin murah memicu bertambahnya jenis layanan bernilai tambah <em>(value added services</em>, VAS) yang ditawarkan kepada publik, baik oleh industri selular sendiri maupun oleh pihak ketiga. Terlepas dari efek negatif berupa penipuan atau perjudian dengan menggunakan kendaraan ini, tarif murah telah memicu bergeraknya sektor riil di masyarakat. Dwi dengan asemka.com-nya adalah contoh kongkretnya. Contoh lain adalah berkembangnya industri musik yang memanfaatkan saluran telekomunikasi selular sebagai sistem baru dalam pemasaran. Lihat saja, setiap penyanyi atau <em>band</em> merilis lagu baru, di klip yang ditayangkan di televisi, selalu muncul “aksesoris” baru berupa cara mendapatkan lagu atau cara memasangnya menjadi <em>ring back tone. </em>Sebagian besar <em>provider</em> selular umumnya memiliki <em>band </em> jagoan yang digunakan sebagai <em>endorser</em> atau bintang iklan.</p>
<p>Alasan <strong>ketiga</strong>, tarif murah yang muncul karena persaingan yang kian ketat telah mendorong bergeraknya roda ekonomi nasional secara signifikan. Bergeraknya roda ekonomi ini sendiri pada akhirnya akan memunculkan golongan masyarakat baru yang lebih melek informasi, juga lebih kuat secara ekonomi. Kelompok-kelompok baru ini nantinya pasti akan membutuhkan jasa tenaga kerja pembantu rumah tangga. Begitulah siklus ekonomi ini akan berputar. Akhirnya, tarif murah memang membawa berkah bagi sebagian besar rakyat negeri ini.</p>
<p>Akan tetapi tetap saja ada banyak orang yang secara tak sadar terpinggirkan, sebagaimana tergambar dalam kisah faktual Daminah atau Chotimah seperti di atas. Nah, industri selular seharusnya tetap menempatkan ekses semacam ini sebagai bagian dari tanggung jawab sosial mereka, karena hukum globalisasi yang kaku tidak memberi ruang bagi orang-orang seperti Dam, Imah, dan kawan-kawannya untuk melompat dan berpindah kelas dengan cepat menjadi orang yang melek informasi, terdidik, dan dapat keluar dari situasi yang sekarang mereka hadapi. Karenanya, pelaku industri selularlah yang semestinya pertama kali mengambil tanggung jawab sosial ini.</p>
<p>Setiap tahun, terdapat Dam atau Imah “baru” yang jumlahnya ratusan ribu, mendatangi kota-kota besar. Dua atau tiga bulan setelah bekerja di kota, mereka ini umumnya telah menenteng sebuah ponsel baru, sembari mengasuh anak majikannya. Nada deringnya pun terdengar ringan dan riang: <em>“Kelakuan si kucing garong…”</em></p>
<p>Tanpa mengurangi manfaat positifnya, seharusnya  orang seperti Dam atau Imah dan rekan-rekannya yang baru itu dihindarkan dari keganasan garong-garong ekonomi, menghisap keringat mereka sampai kering. Di situlah industri selular semestinya mengambil peran lebih besar, lebih dari yang selama ini sudah dilakukan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aweha.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aweha.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aweha.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aweha.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aweha.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aweha.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aweha.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aweha.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aweha.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aweha.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aweha.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aweha.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aweha.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aweha.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aweha.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aweha.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aweha.wordpress.com&amp;blog=517242&amp;post=16&amp;subd=aweha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aweha.wordpress.com/2007/09/25/tarif-selular-murah-klasik-atau-dangdut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d1823470c6ceea858e5fd78cb6300f45?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aweha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Awas, RUMAH KACA!</title>
		<link>http://aweha.wordpress.com/2007/04/23/awas-rumah-kaca/</link>
		<comments>http://aweha.wordpress.com/2007/04/23/awas-rumah-kaca/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 11:27:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aweha</dc:creator>
				<category><![CDATA[AWAS RUMAH KACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aweha.wordpress.com/2007/04/23/awas-rumah-kaca/</guid>
		<description><![CDATA[Pram sudah dicatat oleh sejarah. Dia orang besar. Mahakaryanya sudah mewarnai dan diakui dunia, menginspirasi jutaan orang, menyemangati anak-anak muda negerinya. Kau? Jelas bukan siapa-siapa. &#8220;Tapi tak bolehkah aku bermimpi seperti Pram?&#8221;. Boleh. Semua orang tentu boleh bermimpi. Tapi apa kau tak mengigau ingin menyamai Pram? Pram telah purna sebagai manusia dan kini menjadi monumen. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aweha.wordpress.com&amp;blog=517242&amp;post=15&amp;subd=aweha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pram sudah dicatat oleh sejarah. Dia orang besar. Mahakaryanya sudah mewarnai dan diakui dunia, menginspirasi jutaan orang, menyemangati anak-anak muda negerinya. Kau? Jelas bukan siapa-siapa.</p>
<p>&#8220;Tapi tak bolehkah aku bermimpi seperti Pram?&#8221;.</p>
<p><span id="more-15"></span></p>
<p>Boleh. Semua orang tentu boleh bermimpi. Tapi apa kau tak mengigau ingin menyamai Pram? Pram telah purna sebagai manusia dan kini menjadi monumen. Karyanya ada di mana-mana, diadaptasi banyak bangsa dan bahasa. Karyamu belum juga mengada, kecuali yang receh dan remah-remah. Pram menjalin kata-kata dengan hati dan cintanya yang mendalam pada kata. Kau sekadar mengumpulkan serakan huruf, merangkainya dalam kata, tapi belum menjadikannya kata-kata yang bertenaga layaknya Pram bercerita.</p>
<p>Pram menulis bagian terakhir tetraloginya, &#8220;Rumah Kaca&#8221;, dengan peluh asin kehidupannya yang sebagian besar terasa pahit. Kau, tak sekalipun merasakan kegetiran itu. Lalu, ini yang kau bilang kau ingin menyamai Pram? Kau tidak menyamai dan tak akan pernah bisa menyamainya. Kau cuma menjiplak, menumpang nama besarnya!</p>
<p>&#8220;Tidak! Ini lain.&#8221;</p>
<p>Coba tunjukkan, di mana lainnya? Bukankah kau cuma menambahkan sebuah kata di depan kitab sastra Pram yang hebat itu. Jelas kau hendak mendompleng Pram. Kau ingin menjilat keringatnya yang kini sudah berkalang dengan tanah.</p>
<p>&#8220;Duh, sulitnya menjelaskan isi kepala ini padamu. Ini jelas-jelas beda. Pram banyak bicara politik, aku benci politik. Pram bicara masa lalu, aku bercerita masa depan. Ia bicara dengan latar panggung kolonial. Ia berkisah tentang sesuatu yang sudah terjadi. Aku bicara tentang sesuatu yang belum terjadi. Latar panggungnya juga beda.&#8221;</p>
<p>Ah, kau sekadar mencari-cari beda, tapi tak memberi makna pada isi kepalamu itu. Apa yang tersimpan di otakmu masih terlampau kusut untuk dicerna orang. Terlalu rumit untuk dimengerti. Kalau kau tak juga bisa menjelaskannya buat siapa saja, kau tetap bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa.</p>
<p>&#8220;Kusut bukan berarti tak bisa diurai. Ini baru mula. Sama seperti seorang pengarang besar yang baru mulai merangkai cerita-cerita nan menakjubkan ketika ia menjelang 40.&#8221;</p>
<p>Ah, kau mulai sinting rupanya. Baru saja kau mengkhayal seperti Pram, kini kau sudah berilusi ingin menyamai Sidney Sheldon. Mampuslah sana dengan ilusimu itu.</p>
<p>&#8220;Aku tak sedang mengkhayal. Tak juga berilusi. Aku cuma ingin mengingatkan semua orang, memberikan mereka gambaran seperti apa masa depan bumi yang dipijaknya, dan bagaimana menyelamatkannya.&#8221;</p>
<p>Sudah-sudah! Pram dan Sidney Sheldon saja sudah terasa menggelikan, sekarang kau malah sudah menahbiskan diri sebagai nabi baru. Percayalah, sudah tak ada nabi lagi dilahirkan di zaman sinting ini. Kau terlalu najis untuk menjadi nabi. Jadi orang suci pun tak pantas.</p>
<p>&#8220;Aku memang bukan Pram. Bukan Sheldon, apalagi nabi baru. Aku hanya ingin berbagi apa yang aku khawatirkan tentang masa depan kita. Masa depanku, kamu, dan kalian semua. Dan masa depan itu meletak pada dua kata yang sudah dipilih Pram, &#8220;Rumah Kaca&#8221;. Aku menambahkan AWAS supaya kalian semua, kita, waspada. Itu saja. Terserah kau mau menyimaknya atau tak. &#8220;</p>
<p>Tak.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aweha.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aweha.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aweha.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aweha.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aweha.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aweha.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aweha.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aweha.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aweha.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aweha.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aweha.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aweha.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aweha.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aweha.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aweha.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aweha.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aweha.wordpress.com&amp;blog=517242&amp;post=15&amp;subd=aweha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aweha.wordpress.com/2007/04/23/awas-rumah-kaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d1823470c6ceea858e5fd78cb6300f45?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aweha</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
