SEKS DI INTERNET SUNGGUH MENGERIKAN!!!

Acknowledgement: Tulisan ini dimuat di Tabloid PCPlus edisi 07, 28 November 2000. Dirangkai karena ada adrenalin kompetisi menulis yang digelar PKBI. Kompetisi selalu saya sukai, karena hanya dengan cara itu “level” daya nalar, kejelian, sikap kritis, bisa ditarik ke tingkat lebih tinggi. Tentu saja, hadiah juga menarik, tetapi rasanya bukan itu yang utama sekalipun juga penting. Tulisan ini mendapat penghargaan ketiga untuk Writing Contest itu. Untuk memudahkan pengelompokan, time stamp saya ubah ke tanggal pemuatan.

Ini bukan basa-basi atau menakut-nakuti. Kalau Anda memasukkan kata kunci “sex” di sebuah mesin pencari, Anda akan mendapatkan puluhan link yang merujuk pada situs yang memuat kata tersebut. Di Metacrawler, PCplus mendapatkan 65 link ke situs-situs tersebut. Menggunakan Google, hasilnya lebih dahsyat lagi: 20.900.000! Hampir 21 juta, Bung, Nona!

Kalau kita persempit pencariannya dengan kata sex di situs berbahasa Inggris hasilnya turun drastis sampai sepertujuhnya, tetapi tetap fantastis: 3.070.000. Memang ada beberapa situs yang tampil berulang, karena mesin pencari sendiri menggunakan berbagai macam mesin untuk memberi hasil “maksimal” pada Anda. Kalau kata kunci yang dimasukkan menjadi “sex education”, Google memberi hasil yang “relatif” kecil: 697.000. Lalu apa isi dari sebagian besar yang lain?

Itulah pertanyaan yang merisaukan kita semua. Seks adalah sesuatu yang menarik, tapi perlu patokan yang kokoh serta cara yang benar dalam menyampaikan. Kalau melihat hasil pencarian di atas, bisa jadi kalangan pendidik menjadi miris dengan Internet. Namun, kalau lalu menganggapnya sebagai barang yang harus dijauhi, kita akan menyesal panjang. Sementara itu, pelaku IT menatapnya lebih terbuka dan positif.

Dua-duanya memiliki argumen yang kuat, dan keduanya melihat dari titik pijak yang berbeda. Yang menjadi soal kemudian adalah, bagaimana nasib anak-anak yang sudah bisa mengakses Internet? Bagaimana mendidik mereka mengenal seks dengan benar? Bagaimana pula seharusnya kita bersikap dalam hal ini? Lalu, kebijakan macam apakah yang musti dirumuskan sehingga ada satu titik pijak yang sama melihat masalah ini?

TAK TERBENDUNG

Pada tahun 1980-an, kita pernah dihebohkan dengan penerbitan buku berjudul ADIK BARU. Model penyajian dalam bentuk komik yang dimaksudkan untuk mendidik anak-anak mengenal pengetahuan seks sejak dini telah menimbulkan reaksi yang berlebihan di kalangan orang tua dan pendidik. Ujungujungnya, buku tersebut ditarik dari peredaran sebelum beredar luas.

Dalam suasana yang sama sekali lain, seks –tidak peduli itu berbentuk education, forum, mailing list, gambar-gambar, cerita-cerita,- kini begitu mudahnya ditemukan lewat Internet. Begitu mudah pula anak-anak menemukannya. Kalau di rumah tidak ada akses Internet, mereka bisa mendapatkannya di warnetwarnet yang menjamur layaknya wartel-wartel di jaman Orde Baru dulu.

Kalau Anda tidak percaya, setiap warnet kemungkinan besar pernah digunakan oleh pemakainya (konsumen) untuk mencari barang yang satu ini. Lihat saja di jejak-jejak yang mereka tinggalkan. Bahkan, yang agak mengejutkan, ada sebagian warnet yang justru membuat shortcut di desktop PC warnet mereka supaya pengguna lebih mudah menggunakannya. Gejala semacam ini bisa Anda temui, misalnya di daerah pinggiran Bekasi. Parahnya, di situ anakanak usia SD ramai-ramai memelototin layar monitor.

Di Yogyakarta, Anda akan sering mendapati sekumpulan anak SMP atau SMA patungan ramai-ramai untuk menyewa warnet. Tidak semua anak-anak itu memang berniat negatif menyewa warnet. Bisa jadi ada sesuatu informasi penting yang Seks itu tabu, dan sebagainya. Dan celakanya, “seks” (pengetahuan, bacaan, gambar) adalah sesuatu yang pasti menarik buat anak seusia mereka.

Sementara, seringkali boks sebuah warnet didesain sangat pribadi, sehingga tanpa rasa ewuh pakewuh dan malu, penggunanya bisa menikmati selancarnya, berkubang dalam “lautan seks”. Memang tidak semua warnet didesain begitu. Kalau pun dirancang dengan mengutamakan privasi, itu pasti dibuat pemiliknya demi memberi kenyamanan pelanggan.

Masalahnya kini adalah, menjadi tanggung jawab siapakah gejala semacam ini? Anak-anak dan remaja butuh pendidikan dan informasi yang tepat tentang seksualitas. Sementara media massa tidak memberikan porsi yang cukup untuk kepentingan itu. 

TEPAT MENCARI INFORMASI

Kalau kita mengandalkan informasi tentang pendidikan seks di Internet, yang pertama kali harus tepat memilih informasi. Salah satu contohnya adalah www.iemily.com. Di situ, anak-anak muda bisa mendapat pengetahuan bagaimana perkembangan jasmani perempuan, masalah psikologi yang mereka hadapi, serta berbagai informasi seputar kesehatan perempuan. Sekalipun iEmily menyebut sebagai situs kesehatan perempuan, ia pas juga ditilik perjaka-perjaka untuk lebih mengenal lawan jenisnya.

Sementara http://www.sexedcoalition.org menyajikan informasi buat para pendidik, pemerhati kesehatan, pekerja sosial, dan kalangan politisi yang memerlukan informasi seputar pendidikan seks. Situs ini acapkali mengadakan riset dan survei yang berkaitan dengan masalah pendidikan seks.

Ada juga situs Web yang menyajikan informasi lengkap mengenai pubertas, misalnya http://www.tsa.uk.com. Didanai oleh Keritman Foundation, tujuan TSA adalah mengidentifikasi dan menyajikan informasi seputar perkembangan anakanak usia 11 sampai 16 tahun, serta mengembangkan riset-riset yang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja sebagai bahan peraga dalam menyebarluaskan perkembangan anak-anak usia tersebut.

KERANGKA PENDIDIKAN SEKS

Pendidikan seks sesungguhnya melibatkan banyak kalangan. Selama ini, ada asumsi bahwa pendidikan seks menjadi tanggung jawab keluarga, sekolah, dan pemerintah saja. Tidak cukup banyak lembaga masyarakat dan politisi yang peduli terhadap memberikan dukungan yang efektif dalam perkembangan seksualitas anak anak remaja, merumuskan kebijakan dan praktekpraktek yang menunjang terciptanya lingkungan tersebut.

Selama ini, Internet belum menjadi titik perhatian sebagai pilihan pokok media. Padahal, fakta di atas menunjukkan bahwa Internet telah menjadi ajang subur persebaran wacana seksualitas, mulai dari sekadar informasi tekstual, sampai dengan gambar bergerak yang vulgar.

Ketika PCplus mencoba mencari game pendidikan seks misalnya, tak satu pun mesin pencari memberi jawaban memuaskan. Padahal game menjadi media yang sangat efektif.

Yang seringkali ada, game-game berbau seks seringkali justru bersifat eksploitatif, bukan yang bersifat edukatif. Mulai dari permainan sederhana, sampai dengan game yang kompleks.

Inilah komponen yang bisa dilibatkan dalam rangka memberikan lingkungan yang sehat dan informasi yang relevan seputar perkembangan seksualitas dan pubertas. Orang tua, saudara yang lebih tua, pengasuh anak adalah kelompok pertama. Berikutnya adalah media, baik cetak, elektronik, maupun online. Sekolah dan lingkungan pendidikan adalah komponen yang tidak kalah penting. Selain itu, kalangan medis dan pekerja sosial juga perlu dilibatkan.

Membiarkan anak-anak remaja yang tengah tumbuh berkubang dan mengakses informasi secara tidak tepat akan menjadikan mereka matang terlalu dini, dan busuk sebelum menemukan diri mereka sesungguhnya.

2 Comments

  1. fauzan said,

    13 December 2008 at 2:57 pm

    makanya Untuk urusan yang satu ini kita harus lebih bijak menyikapinya mengenai penyuluhan dan pembelajaran. bahkan bgi say pribadi untuk yg ini tidak perlu diajarkan pada usia dini. malah kita harus mewarningkan sedini mungkin hal ini. agar jangan sampai terjebak atau terperosok yang salah mengenai hal ini. karna pendidikan sex bukan untuk yang belum melakukan pendidikan sex lebih manfaat untuk yang akan melakukan. itu baru hal yang efektif dan benar. jika seseorang yg masih muda seusia SD sampai SMApun saya rasa belum perlu untuk [endidikan ini. malah saya tidak menyetujui adanya pendidikan ini sampai kalangan perguruan tinggi.. kecuali untuk Fak2 yang berhubungan dengan ini. lebih jauh saya banyak dapatkan kejadian sex bebeas di kalangan anak2 kampus mungkin setelah dengan polosnya sang dosen mengajarkan sedikit tentang sex malah sang mahasiswa/wi salah tanggap menyikapi seakan bebas bagi kalangan dia untuk sex asal tidak ada paksaan dan tekanan. dan hal ini meraambat smpai kalangan siswa/wi smu dan sampai sd.
    Satya menitik beratkan WARNING masal kepada masyarakat nntuk tidak menjadikan sex sebagai sesuatu konsuntif bebas tapi ini adalah rentetan proses hidup yang akan kita dapati dan rasakan dilain waktu pada saat giliran kita diperbolehkan memenuhi kebutuhan hidup yang mmng sudah di urtkan pada kehidupan.
    ” yang perlu adalah konsuling2 untuk para golongan yang sudah menjalankan dan membutuhkan karna kewajiban dan hakn jasmaniah manusia”

    bukan untuk di umumkan golongan yang belum pantas dan belum berhubungan dengan hal ini. karan akan jadi pemicu atau perubahan rantai proses kehidupan yang tadinya kebutuhan jadi kegemaran .
    karna sesuatu yang berubah guna itu terkadang condong jadi hal yang negatif. seperti halnya Obat yang harusnya jadi kebutuhan orang sakit tapi di konsumtif oleh orang yang gemar, ini mengubah fungsi obat dari yang tadinya untuk menyembuhkan menjadi slah penggunaan untuk kegemaran “NARKOBA”
    Sesuatu pemikiran dasar yang kita butuhkan disini…
    pemikiran yang belum dipengaruhi apapun selain benar atau tidak
    “BRANTAS SEX BEBAS….
    KITA MANUSIA BUKAN BINATANG….

  2. Bagus said,

    02 February 2009 at 11:06 pm

    Boleh-boleh saja.
    Kita sebagai orang dewasa perlu bijaksana dalam menyikapinya. dengan kata lain kita turut serta yntuk mendampingi proses pengetahuan bagi anak kita maupun adik kita.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: