MEDIA PUN TERGAGAP MENGHADAPI ERA MULTIMEDIA

Acknowledgement: Tulisan ini dimuat di Tabloid PCplus edisi 55 (07-13 November 2001). Ide awalnya justru sebuah buku kecil tentang IT dan jurnalisme. Lalu, dengan alasan klasik sibuk, nggak sempat, males, akhirnya mentok menjadi sebuah artikel panjang. Dipublish di PCplus, lalu ada informasi lomba Indosat Writing Contest 2001. Jadi deh tulisan ini diikutkan. Biasanya, kalau ada lomba menulis, saya sering menulis belakangan setelah tema lomba diumumkan. Yang ini justru sebaliknya. Tulisan ini mendapatkan penghargaan 1st Winner untuk kategori jurnalis pada tahun 2001. Setelah membaca, Anda akan tahu apa yang di tahun 2001 masih angan-angan, kini sudah menjadi kenyataan, dalam bentuk yang lebih sempurna. Lebih matang.

Kita akan menelusuri tonggak-tonggak penting sejarah penemuan umat manusia dan sejarah media massa. Tonggak-tonggak ini akan membawa kita pada sebuah kesadaran, bagaimana PC multimedia dan Internet menjadi kosakata yang mengubah kehidupan media massa. Sekaligus kita akan melihat fakta, bagaimana industri media massa kita menjadi terbata-bata merespon perkembangan PC multimedia dan Internet untuk digunakan sebagai tulang punggung penyebaran informasi.

Surat kabar modern sudah terbit pertama kali di Jerman pada tahun 1609, menyusul kemudian di Belanda pada tahun 1616. Dari situlah sejarah industri media cetak modern mulai memasuki babakan baru. Namun, dalam format koran sebagaimana yang kita kenal sekarang, London Gazette di Inggris -terbit pertama kali pada tahun 1666- adalah koran resmi pertama.

Mesin Gutenberg: Tonggak dan Revolusi Pertama

Revolusi koran dan percetakan massal sesungguhnya digerakkan lewat penemuan mesin cetak oleh Johannes Gensfleich Gutenberg, laki-laki kelahiran Mainz, Jerman, 1397. Dialah orang yang diyakini sejarah menjadi peletak dasar industri media cetak. Dengan pengalaman yang diperolehnya ketika belajar ilmu metalurgi di Strasbourg, Gutenberg kembali ke kampung halamannya Mainz, dan kemudian berhasil menciptakan alat legendaris itu.

Sejak era Gutenberg sampai dengan perkembangannya di akhir abad ke-20, media massa berkembang mengikuti kontinum sejarah penemuan umat manusia ini. Oleh karenanya, dapat dibilang bahwa sejak 1609 ketika koran pertama kali terbit sampai dengan kemunculan istilah “ PC Multimedia” di tahun 1980-an (berjarak 3,5 abad lebih), pola kerja jurnalisme relatif tidak mengalami perubahan signifikan alias stagnan. Berita dan informasi dikemas, diolah, disunting, diproduksi, disebarkan. Begitulah siklus itu berulang. Tanpa inovasi, tanpa revolusi.

Periode stagnan pertama di media massa terjadi pada kurun waktu 1609 sampai dengan 1809, yakni ketika telegram berhasil ditemukan orang, dan lalu kian berkembang tatkala Alexander Graham Bell dibantu Elisha Gray menemukan telepon pada tahun 1876.

Sebuah Imajinasi Liar

Ruang imajinasi di kepala kita tentu tidak bakal mampu menampung bila kita membayangkan, berapa banyak dokumen yang bisa dicatat dan disimpan, seandainya gerak sejarah pada periode Revolusi Industri, Revolusi Perancis, atau Revolusi Amerika, atau revolusi manapun di belahan bumi ini didokumentasikan menggunakan perangkat teknologi yang sekarang ini telah dikuasai manusia, entah itu dalam rupa video, audio, teks, maupun foto.

Bayangkan dengan cara seperti ini. Seorang reporter CNN, melaporkan untuk Anda secara langsung dari tempat kejadian, bagaimana kaum borjuis di Perancis melakukan pemberontakan dan menyeret para oportunis kelas feodal dan para bangsawan ke tiang gantungan untuk ditebas kepalanya. Betapa dramatisnya bila kejadian tersebut ditayangkan melalui televisi CNN ke seluruh dunia dan juga lewat situs CNN (www.cnn.com). Atau imajinasikan pikiran kita mengikuti peristiwa dari detik ke detik berikutnya, melalui televisi BBC maupun situs BBC Online (www.bbc.co.uk), bagaimana pertempuran pasukan Napoleon Bonaparte bertempur melawan balatentara Inggris, sampai dengan kekalahan, penangkapan, dan pembuangan Napoleon ke Pulau Elba di Italia selatan.

Sayangnya, kita tidak bisa berkhayal terlampau jauh sebab teknologi film pun baru ditemukan orang di tahun 1896. Sementara siaran radio baru bisa dinikmati setelah Guglielmo Marconi, pria asal Bologna Italia menemukannya di awal abad XX, tepatnya di tahun 1912.

Kalau kita hitung, dibutuhkan dua abad persis dari ditemukannya koran sampai telegram. Sementara, hanya diperlukan waktu dua puluh tahun dari tonggak penemuan film sampai dengan radio. Kalau mau dihitung maju lagi, perkembangan teknologi audio (radio) menjadi gambar bergerak (televisi) hanya membutuhkan waktu tidak sampai satu dekade, karena televisi sudah ditemukan orang pada tahun 1931.

Jarak tempuh penemuan teknologi baru ini makin berhimpit satu sama lain hanya dalam satu dekade setelah Perang Dunia Kedua selesai dan geopolitik global mendapatkan tata keseimbangan baru. Pada masa itu, teknologi yang ditemukan orang sebagian dilandasi oleh semangat permusuhan di era Perang Dingin, perseteruan kapitalisme di Eropa Barat dan Amerika melawan sosialisme-komunisme di Eropa Timur dan (bekas) Uni Soviet. Internet yang kita kenal sekarang ini pun, tak lain dari “buah manis” ini.

Mari kita telusuri sejenak jejak-jejak penemuan bersejarah berikutnya yang mewarnai industri media massa. Pada tahun 1961, ditemukan teknologi pita rekaman, sehingga setiap kejadian bisa diputar ulang. Satu tahun setelahnya, masyarakat dunia sudah bisa menikmati siaran televisi berwarna. Hanya berselang sembilan tahun dari penemuan televisi berwarna, tahun 1971, ditemukan teknologi satelit yang memungkinkan penduduk dunia menikmati siaran televisi dari ujung bumi yang satu ke ujung bumi yang lain. Empat tahun setelah itu, rekaman kaset dan rekaman melalui video berhasil dibuat. Hanya setahun setelah rekaman video berhasil dibuat, tepatnya di tahun 1976, teknologi telefax lagi-lagi ditemukan orang, sehingga memicu komunikasi yang makin cepat.

Pada periode setelah itu, hampir setiap tahun terjadi penemuan baru di bidang teknologi komunikasi. Tentu saja, penemuan-penemuan baru itu membawa angin segar tapi juga kegamangan. Dikatakan begitu karena sejarah telah mencatat, bahwa industri media massa sejak tahun 1609 sampai tiga ratus tahun kemudian relatif mandeg, kecuali dalam kecepatan pelaporan berita, pendistribusian yang lebih luas, pendokumentasian yang lebih baik, dan manajemen yang lebih modern. Baru setelah radio dan televisi ditemukan, media massa berkembang ke dimensi baru, sehingga melahirkan teori-teori jurnalisme yang baru pula.

Nah, ketika TV kabel dan video komersial menjadi populer sejak ditemukan di tahun 1980, perubahan mau tidak mau juga melanda industri media massa, baik cetak maupun elektronik. Perubahan ini makin dipercepat dengan diproduksinya personal computing (PC) dalam jumlah “massal terbatas” pada tahun 1981 oleh IBM.

Komputer dan Internet: Tonggak dan Revolusi Kedua

Komputerlah yang kemudian membuat revolusi komunikasi dan industri media massa tak terelakkan lagi. Dikombinasikan oleh kian matangnya teknologi Internet, media massa terutama cetak, radio, dan televisi menghadapi suatu gelombang dan tantangan baru yang makin kompleks.

Fakta-fakta menunjukkan bahwa media cetak tradisional di seluruh dunia tidak mengalami peningkatan oplah yang signifikan sejak pertengahan dan akhir tahun 1980-an. Informasi dan cara masyarakat mencari informasi telah digantikan oleh sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih praktis, lebih cepat, lebih menarik, lebih menyenangkan. Ia adalah Internet.

Dari sisi bisnis, tak ada satupun yang membantah bahwa Internet sendiri telah menjadi kawasan tanpa batas untuk mengeksplorasi apa saja, mulai dari bisnis ala kadarnya, sampai industri berat, dari jualan pornografi murahan sampai informasi religius, dari resep masakan sampai cara membuat bom.

Di situlah sesungguhnya PC multimedia dan jurnalisme pada akhirnya membentuk suatu kolaborasi yang kental. Suatu model distribusi informasi yang mengubah gambaran tentang pengelolaan media massa selama lebih dari tiga setengah abad dan menyatu dalam sebuah wajah baru bernama era multimedia.

Kita akan terkesiap, semakin terbata-bata bila membuka kembali seluruh perubahan dramatis yang terjadi di seluruh belahan bumi ini. Setiap ruas tanah di belahan bumi manapun mendendangkan nyanyian perubahan dan setiap entitas sekecil apapun memberikan sumbangan bagi perubahan itu. Tak ada yang stagnan lagi, kecuali mesin perubahan itu sendiri. Sejarah senantiasa bergerak, bergerak, terus bergerak, dan akan terus bergerak.

Revolusi di Tengah Revolusi

Lalu, apa makna dari perubahan dunia tersebut terhadap industri media massa, terutama industri media massa yang berkembang di era multimedia? Apa makna perubahan-perubahan tadi terhadap teori-teori jurnalisme konvensional yang selama ini dijadikan pegangan oleh kalangan ilmuwan dan praktisi media?

Satu hal yang sudah kelihatan adalah bahwa jurnalisme multimedia yang mengandalkan penyebaran informasi lewat Internet telah menghentikan pertumbuhan oplah sebagian besar media cetak di seluruh dunia, juga di Indonesia. Artinya, sejak periode emas pertumbuhan oplah media cetak di tahun 1980-an, tidak ada lagi pertumbuhan dramatis yang berhasil dicapai oleh media-media besar di tanah air. Sementara, pertumbuhan jurnalisme multimedia di Indonesia sendiri masih terlalu mentah dalam mengadopsi perkembangan teknologi komputer dan Internet. Mau bukti?

Kita ambil contoh proses jatuhnya Soeharto. Momen ini tentu digolongkan sebagai “peristiwa revolusioner kelas dunia” dan memiliki nilai berita sangat tinggi. Stasiun-stasiun televisi hampir setiap setengah jam melaporkan perkembangan politik terbaru yang dipenuhi ketidakpastian itu. Lalu, bagaimana reaksi media cetak terutama koran? Lantaran media cetak memiliki proses produksi yang sudah terpola, mau tak mau, yang bisa mereka lakukan saat kejadian berlangsung adalah sebatas mengumpulkan fakta dan informasi untuk ditulis dan disajikan keesokan harinya.

Tapi apa lacur? Pas ketika Soeharto berada pada posisi kritis dan gelombang perubahan terus bertalu-talu di seluruh pelosok negeri, esoknya adalah hari libur nasional. Bagaiman membuat supaya informasi dan momen langka ini tidak basi? Sebagaimana kita ingat, Jawa Pos (koran ini memang punya kebiasaan tetap terbit meski hari libur nasional), Kompas, dan The Jakarta Post (keduanya tidak punya kebiasaan terbit di hari libur seperti Jawa Pos) tetap terbit, dengan harapan supaya informasi segenting dan sepenting itu tidak menjadi basi sehingga momentum perubahan politik tidak bergerak mundur. Dan apa yang terjadi? Pagi itu, 21 Mei 1998, Soeharto mengumumkan bahwa ia “kapok” menjabat presiden dan menyatakan berhenti dari jabatan presiden yang sudah dipikulnya selama 32 tahun.  

Poin yang ingin disampaikan di sini adalah bahwa peristiwa politik dan revolusi rakyat sepenting itu pun ternyata tidak memberikan peningkatan oplah yang signifikan bagi koran-koran di Indonesia pada umumnya. Kenapa? Karena ketika Soeharto jatuh, berita dari Internet atau mailing list semacam APAKABAR yang dikelola oleh John MacDougall sudah mulai dikenal dan menjadi bagian dari ikon penyebaran informasi massal yang baru di Indonesia. Selain televisi dan radio, mailing list lewat Internet dan situs atau portal berita online tak pelak lagi merupakan lahan jurnalisme baru yang sangat diuntungkan oleh situasi perpolitikan di panggung politik nasional ketika itu. Dengan adanya Internet, orang tak perlu lagi menunggu terlalu lama buat mencari informasi yang dibutuhkannya. Konsep breaking news dan real-time news kemudian mengemuka dalam kancah wacana jurnalistik kita dan perlahan-lahan menenggelamkan teori-teori lama jurnalisme dan sekaligus menggusur –atau setidaknya mengerem pertumbuhan oplah media cetak.

Dari situ mulai kelihatan pula, semakin besar nilai berita yang terkandung dalam suatu peristiwa, semakin tertatih-tatih pula si jurnalis media cetak untuk mengikuti ledakan berita yang dihasilkan. Di samping itu, si jurnalis juga dituntut untuk membuat sudut pandang yang semakin jeli dan komprehensif. Kalau ia memfokuskan laporannya pada kelengkapan dan kronologi suatu peristiwa, media online bisa lebih mudah menyajikannya, karena updating berita dilakukan melalui mesin yang bekerja secara computerized. Bila ia memfokuskan tulisannya pada kekomprehensifan peristiwanya, ia dihadapkan pada kapling halaman yang terbatas, suatu kendala yang praktis tidak dihadapi oleh jurnalis media online.

Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh jurnalis cetak dan industri media cetak? Teori jurnalisme macam apa yang hendak digunakannya menghadapi fakta yang sedemikian besar dan tantangan yang semakin kompleks? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang kemudian mendorong gejala tumbuhnya industri media massa baru yang populer disebut media online atau dotcom.

Sayangnya, pertumbuhan media online di Indonesia dalam perkembangannya lebih didorong berkat munculnya ruang kebebasan berekspresi akibat perubahan politik serta unsur bisnis spekulatif yang tidak memiliki dasar yang kokoh. Dari sekian puluh media berita online yang tumbuh ketika itu (sebut saja detik.com, bidik.com, mandiri-online.com, berpolitik.com) hanya ada satu yang bertahan yakni detik.com. Media online lainnya justru dibidani oleh media-media cetak yang sudah mapan seperti Kompas Cyber Media (milik Harian Kompas), Tempo Interaktif (milik Majalah Tempo), atau Liputan6.com (milik SCTV). Ironisnya lagi, ketika banyak media cetak mengikuti tren, sebagian besar dari mereka cuma memindahkan berita-berita versi cetakan ke versi online, tiada bumbu, tiada pemanis, tiada suara, tiada gambar bergerak, tiada pula interaksi antara pembaca dan pemroduksi tulisan.

Dari sekian banyak media berita dotcom di Indonesia, hampir tidak ada yang memanfaatkan potensi besar yang dimiliki oleh teknologi multimedia, misalnya dengan menghadirkan teknologi multimedia berupa audio, video, teks bergambar. Semua media dotcom sangat dipengaruhi oleh penyajian berita dan gambar foto di media cetak konvensional, sehingga dari sisi ini media dotcom hanya memiliki keunggulan dari segi kecepatan updating berita dan kecepatan penyebaran informasi.

Bandingkan kenyataan ini dengan kisah tentang pembunuhan warga AS di Mogadishu, Somalia, 3 Oktober 1993 yang digarap habis-habisan oleh sebuah media AS. Contoh ini sekaligus menggambarkan, betapa sesungguhnya dunia jurnalisme dan jurnalisnya sendiri dihadapkan pada suatu bentuk medium baru yang luar biasa besar potensinya.

Tahun 1997, Mark Bowden membuat tulisan bersambung di harian The Philadelphia Inquirer dengan judul “Black Hawk Down”. Tulisan ini mengungkap sebagian pengalaman Bowden ketika meliput di Mogadishu dan disajikan dalam format tulisan konvensional ala koran cetak.

Ketika pertempuran di Mogadishu berlangsung, seluruh kebijakan luar negeri AS, terutama kebijakan militernya tidak pernah terungkap secara gamblang. Delapan belas tentara AS tewas sedangkan 73 orang menderita luka-luka. Ketika kasus itu meledak, diperkirakan lebih dari seribu jurnalis AS datang ke Somalia untuk meliput peristiwa itu. “Saya melukiskan drama dan episode-episode yang menyertainya, lalu berpikir mencari cara terbaik untuk menuliskan kisahnya secara naratif guna menggambarkan kisah pertempuran yang terjadi, melalui saksi-saksi mata yang melihat pertempuran tersebut,” tulis Bowden.

Tiga tahun sesudah tulisan itu dimuat, kisah “Black Hawk Down” dibukukan dan Bowden mencatatkan diri sebagai salah satu penulis buku bestseller. Bowden sendiri mengaku bahwa ia sama sekali tidak membayangkan bahwa apa yang ditulisnya bakal “meledak” sedemikian hebat.

Namun menurut pengakuannya, salah satu hal penting yang patut dicatat adalah penyajian melalui Internet. Ketika peristiwa itu muncul di Web selama 28 hari sejak November sampai dengan Desember 1997, ratusan ribu pembaca dari seluruh dunia membacanya, dan kisah yang disajikan dalam bentuk elektronik tersebut mampu menyedot netizen sebanyak 46.000 setiap harinya. Semua pihak yang terlibat dalam proyek tersebut tidak menyangka bahwa akan terjadi ledakan pengakses. Mula-mula, pengakses berita tersebut hanya 9.000 orang. Namun, jumlah tersebut pada waktu itu sudah mengalahkan berita tentang kematian pembawa acara TV terkenal Richie Ashburn. Dari 9.000 hit, jumlah tersebut merambat naik menjadi 15.000, lalu 20.000, berkembang lagi menjadi 25.000. Ketika diakses oleh lebih dari 40.000 netizen, server yang digunakan pun  mengalami crash, lantaran tak mampu lagi menampung ledakan pengakses.

Kisah yang terpampang di Web itu sendiri memang menyodorkan teks reportase lengkap, foto-foto, video dan audio, yang melukiskan dahsyatnya pertempuran tersebut. Selain itu, masih ada pula dokumen wawancara, peta-peta, grafik, dan dokumen-dokumen lain yang bisa membuat kisah pertempuran itu menjadi hidup, utuh, dan lengkap. Bowden sendiri juga tidak membayangkan, bagaimana lelahnya bila ia harus mengerjakan transkrip rekaman-rekaman wawancara, memilih foto-foto terbaik yang dikumpulkannya bersama fotografer The Philadelphia Inquirer, Peter Tobia.

Berkat kegigihan dan kejelian Jennifer Musser, editor Philadelphia Inquirer Online, semua bahan yang berhasil dikumpulkan Bowden bisa disajikan dalam waktu singkat. Mula-mula, Bowden tidak paham apa yang akan dikerjakan Jenifer dengan seluruh bahan yang dikumpulkan Bowden. Bowden pun mengaku bahwa ia tidak cukup akrab dengan teknologi Internet dan komputer, dan tergolong jenis jurnalis gaek yang lebih mengandalkan ilmu-ilmu jurnalisme lama. Makanya, ia sangat terkejut ketika setiap harinya menerima respon dan pertanyaan dari pembaca, baik melalui telepon, faksimili, maupun e-mail.

Yang lebih mencengangkan, mereka kemudian juga mengembangkan kisah itu secara lebih interaktif, di mana orang-orang yang melihat langsung peristiwa itu memberikan komentar dan tambahan informasi. Beberapa pembaca yang melihat kesalahan faktual yang ditulis Bowden memberikan catatan dan koreksi, sehingga seluruh gambaran peristiwa pertempuran itu menjadi kian utuh, dan tersaji menjadi sebuah “drama” tersendiri. Namun, The Philadelphia Inquirer edisi cetaknya sendiri tidak mengalami lonjakan oplah yang berarti oleh sukses peliputan ini.

Apa yang terjadi dengan Kasus Mogadishu tadi sangat berbeda dengan kejadian Perang Teluk tahun 1991. Begitu Perang Teluk pecah, hampir semua media massa di Indonesia ikut menerima imbasnya, di mana oplah mereka naik secara signifikan. Harian Kompas, misalnya, mampu meningkatkan oplahnya sampai angka 620 ribu eksemplar. Padahal koran tersebut tidak pernah lagi menyentuh oplah di atas 600 ribu eksemplar selama beberapa tahun setelah melewati tahun 1987 yang mencapai 700 ribu, dan berhenti pada kisaran cetak 550 sampai 600 ribu.

Selain karena imbas situasi industri media massa dunia, Kompas berhasil mendongkrak oplah mereka ke angka tersebut karena terjadi peristiwa besar sebelumnya, yakni Revolusi People Power di Filipina yang menumbangkan Ferdinand Marcos dan Piala Dunia 1986. Namun, setelah tahun-tahun emas media cetak di seluruh dunia itu berlalu, oplah Kompas pun cenderung turun dari tahun ke tahun, sampai kemudian tercapai oplah yang relatif stabil di kisaran normal.

Meledaknya Perang Teluk atau People Power di Filipina, sesuatu peristiwa yang tidak dialami langsung oleh masyarakat Indonesia, ternyata berdampak luar biasa bagi industri pers nasional, terutama media cetak. Sebabnya tentu jelas, yakni karena saat itu belum ada informasi-informasi terbaru yang bisa dikeruk lewat Internet. Penyajian berita melalui Internet di Indonesia sendiri baru menjadi menjamur setelah tahun 1997. Pada waktu Perang Teluk, media online baru bisa dinikmati di Amerika Serikat, itupun dengan ongkos yang masih mahal. Detikcom, situs berita terpopuler di Indonesia baru menapaki “bisnis kata-kata” online ini pada tahun 1998.

Contoh terakhir adalah serangan terorisme yang melanda AS, di mana gedung WTC dan Pentagon menjadi sasaran. Situs dua media raksasa BBC dan CNN tiba-tiba menjadi overload, dan sempat mengalami crash karena semua orang dari penjuru dunia berebut mencari informasi terkini dari situs tersebut, baik berupa berita, foto, video, maupun perkembangan terbaru.

Begitu juga ketika AS dan Inggris menyerbu Afghanistan untuk sebuah “proyek balas dendam” akibat tragedi 11 September di New York dan Washington DC yang tragis itu. Tidak ada yang berubah secara signifikan pada oplah media cetak di Indonesia. Dari berita sebagus itu, hingga kini belum ada satupun terdengar media cetak meningkat oplahnya sebagaimana yang dialami oleh media cetak ketika Perang Teluk atau People Power di Filipina. Mengherankan, tapi itulah fakta yang terjadi.

Revolusi Cara Pandang

Pun pula bila kita masuk ke wilayah psikologi kebanggaan sebagai jurnalis. Ada sebuah “revolusi” di sana. Sebelum jurnalisme multimedia berkembang, ada kebanggaan buat seorang jurnalis bilamana ia mampu menyampaikan informasi penting pertama kali kepada publik mendahului rekan-rekan seprofesinya yang lain. Atau kalau ia berhasil membuat wawancara eksklusif dengan seorang tokoh terkemuka.

Kebanggaan tersebut tidak hanya menyangkut kemampuannya menggali sumber berita, menelusuri fakta-fakta, maupun merangkainya dalam satu sajian reportase lengkap, melainkan juga kemampuan media tersebut untuk mengelola setiap informasi yang dikumpulkan oleh para pekerjanya, mengemasnya semenarik mungkin, memproduksinya secepat mungkin, dan memasarkannya sesegera mungkin kepada masyarakat pembacanya.

Sekarang, omong kosong belaka bila ada jurnalis media cetak yang mengklaim telah menyampaikan informasi paling awal kepada publik. Segala sesuatunya telah digantikan oleh media online alias dotcom. Dengan demikian, semakin besar suatu peristiwa berlangsung, justru semakin ketinggalan dan tertatih-tatihlah si jurnalis cetak menandingi kecepatan berita yang disajikan media online. Dan dengan demikian, semakin kecil pula peluang mereka untuk membusungkan dada atas keberhasilannya itu.

Omong kosong pula bilamana sebuah media cetak mengklaim memberikan informasi paling lengkap dan ulasan paling menarik dari suatu peristiwa yang terhampar. Klaim semacam itu kini pasti hanya keluar dari advertensi atau iklan-iklan. Jurnalisme naratif, sebagaimana pengalaman Mark Bowden di The Philadelphia Inquirer telah usang, digantikan oleh jurnalisme interaktif yang jauh lebih impresif, komprehensif, dan aktual. Dengan jurnalisme narasi, tidak dihindarkan lagi bahwa subjektivitas si jurnalis akan menentukan, informasi mana yang akan ditulisnya, dan mana yang akan disimpannya di laci sebagai sebuah coretan.

Tidak hanya berkaitan dengan kebijakan editorial suatu media cetak, koran pun dibatasi oleh ruang yang tidak memungkinkan si jurnalis menumpahkan seluruh catatan dan menuliskan seluruh wawancara lengkap dengan narasumber. Bila ia nekad memaksakan diri menuliskan secara lengkap, pembaca tidak lagi disuguhi peristiwa-peristiwa yang lebih baru, karena ruangan yang ada telah tersandera sekadar untuk memaksakan kelengkapan berita. Bila pihak manajemen koran memaksa diri mencetak lebih banyak halaman, bagian lain akan dipaksa bekerja lebih keras karena ongkos cetak tidak bisa lagi dianggap murah akibat harga kertas yang mencekik.

Hal-hal tersebut makin menegaskan bagaimana sesungguhnya televisi, radio, dan Internet, telah mengubah wajah jurnalisme tradisional kita. Tak heran bila kini hampir semua koran dan media cetak memiliki versi online-nya di Internet. Namun, tak jarang ingormasi yang ditampilkan di situs Internet hanya merupakan berita yang sudah dimuat di versi cetakan. Hanya media-media besar saja yang mampu memberikan tambahan informasi dan kemasan yang berbeda dari versi cetak, di mana suatu berita memang betul-betul aktual dan bukan sekadar merupakan peng-online-an mentah-mentah dari versi cetaknya.

Gagap Menghadapi Dilema

Bill Gates, pendiri Microsoft, menegaskan bahwa penemuan dan revolusi Internet merupakan tonggak penting, setara dengan penemuan mesin cetak Gutenberg. Dan meskipun ada saat di mana jurnalisme tradisional -baik yang dijalankan melalui media cetak, audio, maupun audio dan video serta televisi- pun memanfaatkan Internet, penyatuan media-media itu dalam suatu format jurnalisme multimedia melalui Internet telah melahirkan suatu bentuk penyebaran informasi yang lebih murah, menarik, sekaligus lebih komprehensif.

Bagi sebagian orang, Internet sudah menjadi seperti oksigen bagi kehidupan. Meski begitu, ada beberapa pemerintahan yang menganggap Internet sebagai “musuh” yang berbahaya dan berpotensi mengancam keamanan negara. Di pihak lain, ada pula negara yang masih terbelakang dalam soal infrastruktur dan dengan demikian masih menganggap Internet sebagai mimpi. Kamboja adalah contoh terdekat, di mana Internet masih jadi barang mahal. Sementara, Singapura atau Malaysia berkebalikan dengan Kamboja.

Menurut James Gomez, mantan direktur eksekutif Think Centre Singapura yang pernah tercatat sebagai 50 manusia paling berpengaruh di Asia versi Majalah Asiaweek mengatakan, 95 persen penduduk Singapura bisa menikmati Internet. Akan tetapi, masyarakatnya justru tidak dapat menggunakan Internet secara maksimal, terutama untuk hal-hal berbau politik. “Pemerintah akan tahu bila ada warga yang mengakses situs-situs “terlarang” dan mereka bisa diancam hukuman,” ujar Gomez. Kedua negeri tersebut telah memberlakukan Internal Security Act, di mana warga negaranya bisa dituntut di muka pengadilan bila menyebarluaskan informasi atau mendapatkan informasi yang tidak sesuai dengan selera pemerintah yang berkuasa.

Sekarang, kita ambil contoh kasus Cina berikut dalam soal jurnalisme era Internet. Sampai tahun 2001, Cina belum memiliki peraturan yang lengkap tentang Internet dan multimedia, sebagaimana Singapura atau Malaysia. Selain itu, mereka dihadapkan pula pada dilema Internet. Di satu sisi ekonomi Internet tumbuh secara luar biasa dan mereka ingin menangguk peluang dari situ. Di sisi lain, informasi di Internet bisa menghancurkan sendi-sendi politik yang dibangun oleh rezim komunis yang berkuasa. A Lin Neumann, konsultan untuk CPJ (Committee to Protect Journalists) untuk kawasan Asia membuat sebuah laporan menarik tentang perkembangan Internet di Cina. Ia memulai kisahnya tentang website hak asasi manusia pertama di China, www.6-4tianwang.com yang didirikan oleh Huang Qi.

Hari itu 3 Juni 2000. Chengdu, sebuah kota di Cina. Polisi kota itu menangkap Huang Qi dengan tuduhan melakukan tindakan subversi terhadap kekuasaan negara. Meskipun waktu itu Cina belum memiliki undang-undang Internal Security Act sebagaimana Singapura atau Malaysia, pemerintah menggunakan undang-undang subversif untuk menjerat Huang.

Melalui situs tersebut, Huang memang menuliskan kritikan yang tajam tentang pembantaian gerakan pro demokrasi di Tiananmen 4 Juni 1989 oleh tentara, sesuatu yang dianggap tabu dan kriminal di negeri Tirai Bambu. Tidak hanya itu. Huang juga menulis laporan tentang ribuan perempuan yang diculik di pedesaan-pedesaan dan kemudian dijadikan komoditi alias diperjualbelikan.

“Huang cuma merupakan salah satu dari tujuh orang yang ditangkap dengan tuduhan kriminalitas di Internet sejak tahun 1998,” tulis Neumann. Namun, para pendukungnya tak kalah cerdik dan kehilangan akal. Mereka dengan cepat mengopi situs yang dibuat Huang Qi tersebut dan dengan segera memindahkan seluruh content-nya ke sebuah server di AS sehingga berita-berita di situs tersebut tetap dapat diakses dari Cina.

           

Seperti Apa dan Mau Ke Mana?

Internet dan PC berkemampuan multimedia sudah banyak memberikan potret yang utuh atas fakta apapun yang berhasil direkam oleh jurnalis. Di Indonesia, pengaruh multimedia boleh dibilang nol besar. Yang dieksploitasi habis barulah penyajian informasi berbasis teks dan gambar melalui Internet.

Namun, pengeksploitasian ini sesungguhnya bukan tanpa alasan. Minimnya bandwidth yang tersedia untuk sebagian besar pengguna Internet membuat hampir tidak ada pengelola media yang melirik penyebaran informasi berbasis multimedia. Dari sisi transfer, data audio dan video digital memang memerlukan kanal yang lebih besar ketimbang teks dan gambar. Meskipun teknik kompresi audio dan video sudah sangat matang, tetap saja hasil akhir dari gambar dan suara yang dihasilkan masih terlalu besar untuk di-upload dan di-download melalui jaringan Internet di Indonesia.

Fakta yang lain, media online cenderung mengambil pola pemberitaan yang sama dengan pola kerja media cetak sehingga konsep ataupun teori jurnalisme baru semacam breaking news, real-time news, atau interactivity tidak pernah menjadi matang meskipun sudah sering dilafalkan. Lebih dari itu, belum ada satupun lembaga pendidikan yang secara serius menggarap jurnalisme multimedia seperti halnya lembaga-lembaga semacam Lembaga Pers Dr. Sutomo (LPDS) atau LP3Y di Yogyakarta yang konsern pada media cetak.

Kita memperoleh suatu gambaran baru dan bisa menarik pelajaran penting, bahwa jurnalis era multimedia tidak hanya dituntut untuk mampu menyajikan isi yang menarik, lengkap, dan tepat, tetapi harus mampu memahami pengertian-pengertian teknis yang ada dalam konsep jurnalisme multimedia, sehingga informasi yang dikemas tetap bisa menyebar secara luas, sebagaimana esensi dari suatu jurnalisme itu sendiri. Lebih dari itu, jurnalis juga diharuskan menguasai penggunaan dari peranti multimedia dan peralatan pendukungnya.

Dan dalam hal itu, jurnalis kita memang lagi gagap dan terbata-bata menghadapi perkembangan dunia multimedia. Tapi, sampai kapan kita mau berada di kondisi seperti ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: