Smart and Mobile Devices, Kunci Pertumbuhan Seluler dan Internet di Indonesia

Acknowledgement: Tulisan ini dimuat di PCplus No 242, 11-17 Oktober 2005. Ditulis setelah ada ide tema lomba XL writing contest 2005. Idenya didapat dari berita-berita yang aku baca melalui avantgo dari O2 Mini kepunyaan kantor. Beruntung, tulisan ini  mendapatkan penghargaan 1st winner XL Writing Contest  untuk kategori jurnalis. Gara-gara tulisan ini, jadi punya duit buat depe mobil…:p
 
Industri telekomunikasi bergerak (seluler) dan Internet, adalah dua anak kemarin sore bila dibandingkan sektor lain seperti pertambangan, perbankan, atau manufaktur. Namun, hanya dalam kurun waktu kurang lebih satu dekade, anak-anak kemarin sore itu berhasil mengubah wajah dunia secara dramatis, menggeser peta ekonomi, politik, serta teknologi secara global, dan memermak perilaku individu-individu penggunanya di aras lokal.
 
 
Dalam perkembangannya sekarang ini, industri seluler –baik berbasis GSM maupun CDMA– dan Internet berkembang ke arah yang kian menyatu.  Itu dimungkinkan berkat kemunculan peranti-peranti digital terbaru yang tumbuh secara konvergen berlabel smart devices dan mobile devices. Ekornya, sulit dibuat garis demarkasi yang tegas antara keduanya. Bagaimana tidak? Semua informasi yang terhidang di Internet bisa dengan mudah disedot melalui peranti ponsel. Sementara, melalui Internet, begitu mudahnya orang bercakap-cakap dengan relasinya di seantero dunia, dengan tarif yang sangat murah.
 
E-mail yang diakses dari ponsel, browsing menggunakan smartphone, kini juga sudah menjadi hal lumrah dan bisa dilakukan dari ponsel mid-up terbaru merek apapun, juga dari operator manapun. Di AS, Research In Motion (RIM) menangguk sukses luar biasa saat merilis BlackBerry-nya sehingga membawa RIM sebagai penjual PDA terlaris di seluruh dunia. Sementara, Nokia, produsen ponsel terbesar di dunia, melalui sistem yang dinamai Nokia Business Center, tengah merencanakan untuk “menggali harta terpendam” berupa lebih dari 650 juta account e-mail korporat, yang saat ini hanya diakses dan dihubungkan melalui cara konvensional melalui komputer desktop di meja orang-orang kantoran.
 
Begitu pula Skype Technologies –perusahaan layanan telepon VoIP berbasis di Luksemburg yang baru berdiri tahun 2003 lalu. Bekerja sama dengan E-Plus, sebuah operator telekomunikasi seluler asal Jerman, Skype merasuk ke pasar mobile/seluler. Kerja sama ini tentu menegaskan tipisnya batas antara Internet dan seluler. Hingga akhir September lalu, sudah lebih dari 172 juta orang mengunduh aplikasi ini dari situs resmi Skype. Pelanggan yang terdaftar sudah mencapai 56 juta orang, dan pertumbuhan penggunanya menembus angka 170 ribu orang setiap hari. Situs lelang paling terkemuka e-Bay pun pada gilirannya tertarik dengan model komunikasi ala Skype sehingga pada pertengahan September lalu memutuskan mengakuisisi Skype senilai 2,6 juta US$ tunai plus kepemilikan saham di e-Bay.
 
Contoh lain adalah Real Networks. Penyedia jasa aplikasi audio video untuk hiburan yang tadinya murni hanya melayani pengguna PC, pada akhir September lalu memutuskan untuk menggarap serius pengguna mobile devices, dengan menggandeng Sprint Nextel dan Cingular Wireless, dua operator layanan wireless terkemuka di AS. Mimpinya, para maniak musik digital nantinya bisa mengorder lagu kesukaan mereka dan mendengarkannya dari ponsel. Di tengah meningkatnya kegandrungan orang akan musik digital portabel, mimpi itu tentu tak mengada-ada.
 
Situasi dan Prospek untuk Indonesia
Pertumbuhan industri seluler di Indonesia sesungguhnya tak terlalu tertinggal jauh dibandingkan dengan geliat di negara maju. Saat ini, telekomunikasi seluler masih merupakan salah satu industri yang perkembangannya paling mencengangkan, dibandingkan dengan industri-industri lain yang tengah megap-megap oleh pelbagai deraan ekonomi-politik berskala lokal dan global.
 
Pertumbuhan itu sendiri berlangsung di tengah-tengah regulasi yang simpang siur, karut marut, dan tumpang tindih. Fakta menunjukkan, pertumbuhan pengguna telepon seluler justru mencapai lebih dari 45 juta orang dalam kurun waktu 10 tahun, dan diperkirakan akan meningkat dua kali lipat menjadi sekitar 90-100 juta dalam lima tahun ke depan. Pertumbuhan itu berlangsung di tengah regulasi pemerintah yang secara kasat mata membingungkan dan membuat kesal pelaku bisnis seluler dan Internet, serta konsumen penggunanya.
 
Pertumbuhan itu akan terasa kian kontras bila dibandingkan dengan telekomunikasi berbasis kabel (wireline), yang sejak Indonesia merdeka hingga sekarang tak bisa menembus 10 juta pelanggan. Data terakhir memperlihatkan bahwa pelanggan telepon tetap di Indonesia cuma berkisar 8 juta.
 
Bandingkan pula dengan pertumbuhan pemakai Internet. Dikenalkan pertama kali pada awal tahun 1990-an, hingga saat ini pengguna Internet tidak bisa menembus angka 20 juta. Berdasarkan data APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet),  jumlah pengguna Internet tahun lalu baru tercatat 11.226.143 orang, dan pada akhir tahun ini akan mencapai kurang lebih 16 juta orang. Hanya sepertiga pengguna ponsel. 
 
Kolaborasi Mutualistik
Bila perkembangan industri dan pengguna seluler begitu drastis, sementara pertumbuhan Internet begitu lelet, apakah mungkin terjadi industri seluler menjadi pendorong pertumbuhan pengguna Internet, sehingga upaya menyalakan lilin dari para penggiat Internet dengan kampanye dan edukasi di mana-mana tidak padam di tengah jalan oleh rasa frustrasi?
 
By nature, pertumbuhan pengguna Internet dalam waktu dekat justru akan dipicu oleh pengguna seluler (ponsel, smartphone, PDAphone). Bukan oleh pengguna komputer pada umumnya. Mengapa demikian?
 
Pertama, penetrasi komputer yang tidak pernah akan mencapai tingkat sebaik penetrasi ponsel di masyarakat. Dengan penetrasi PC yang terbilang sangat lamban, bagaimana mungkin mengharapkan pengguna PC yang mengakses Internet juga berkembang?
 
Kedua, kampanye dan pendekatan yang keliru dalam memasyarakatkan Internet. Selama bertahun-tahun, kampanye berinternet terus-menerus dilakukan, tetapi tidak pernah ada satu model kampanye/sosialiasi yang menggunakan pendekatan penciptaan kebutuhan berinternet di masyarakat luas. Berbeda sekali dengan sosialisasi penggunaan ponsel, di mana ada suatu upaya pembentukan persepsi bahwa tanpa ponsel orang akan ketinggalan informasi, kurang gaul, kuper. Kampanye ini tak hanya merasuk di kalangan remaja/anak mudah, tetapi juga anak-anak, orang dewasa, bahkan para lanjut usia. Ujungnya, nenek-nenek atau kakek-kakek, tukang sayur atau kuli bangunan pun rela belajar supaya bisa menggunakan ponsel, sementara anak-anak SD sudah fasih berkosakata Bluetooth dan memanfaatkannya sebagai “mainan baru”.
 
Ketiga, pertumbuhan industri konten berbasis Internet di Indonesia –mengikuti tren di tingkat global– jauh lebih sedikit dibandingkan konten berbasis seluler. Gelombang bisnis dotcom berbasis Internet pada 1998-2000 dalam sekejap menggelembung, lalu meletus, menyisakan segelintir pelaku yang mampu bertahan hingga kini. Sebaliknya, pertumbuhan bisnis sertaan akibat perkembangan industri seluler jauh lebih marak dan mampu bertahan lebih lama.
 
Ambil contoh di sektor industri dotcom. Berapa banyak situs berita dotcom yang mampu bertahan kecuali Detik.com? Situs berita yang bertahan adalah situs yang memiliki pertalian kuat dengan media tradisional seperti Tempo Interaktif (milik Majalah Tempo) atau Kompas Cyber Media (milik Harian Kompas). Lainnya? Lalu bersama angin! Berapa banyak situs lelang lokal yang akhirnya tergadaikan pula? Yang terakhir ini bahkan tak ada satupun yang mampu bertahan.
 
Sekarang kita ambil contoh di sisi seluler. Berapa banyak penyedia layanan jasa kuis SMS yang tumbuh dan berkembang? Puluhan! Jatis, IguanaSMS, Asia Perkasa Raya, cuma beberapa nama yang bisa disebut dari sekian puluh penyedia jasa yang eksis hingga saat ini. Berapa banyak pula penyedia jasa ringtone yang berkembang dan mampu bertahan hingga kini? Ratusan! Berapa banyak industri musik hiburan/rekaman yang ikut serta dalam bisnis seluler? Berapa musisi/grup band yang menikmati semarak pemanfaatan musik digital pada ponsel? Yang lebih membuat kita terbelalak, berapa ratus ribu atau juta gerai ponsel baru atau bekas dan voucher pulsa seluler tumbuh, terutama dibandingkan pertumbuhan toko komputer? Belakangan, bahkan muncul bisnis multilevel marketing (MLM) pulsa, mengadopsi bisnis MLM yang sudah ada sebelumnya.
 
Tren dan Peluang
Pertanyaan berikutnya, adakah irisan atau titik temu antara seluler dan Internet, sehingga pertumbuhan keduanya bisa menjadi sebuah kolaborasi mutualistik? Bila ya, seperti apa peluang kolaborasinya ke depan?
 
Dari fakta di atas, pemanfaatan seluler untuk menggerakkan pertumbuhan pengguna Internet jelas suatu keniscayaan. Dari situ saja, asumsi tentang minimnya jumlah pengguna Internet akan terpangkas dengan sendirinya karena populasi ponsel yang bisa mengakses Internet (lewat ponsel, bukan lewat PC) akan berkembang lebih pesat dari sekarang. Dari sisi sebaliknya, industri seluler pun bisa memanfaatkan Internet sebagai katalis yang memperkaya jenis layanan. Ini ditandai dengan kian maraknya kolaborasi antara penyedia konten atau aplikasi berbasis Internet dengan para operator seluler, untuk menyediakan informasi yang cepat dan segera bagi konsumennya.
 
Sebagai gambaran, Google saat ini tengah mengembangkan sebuah teknologi, yang memungkinkan seseorang yang sedang bepergian mengakses informasi yang mereka butuhkan melalui ponsel atau smartphone mereka. Untuk itulah mereka merekrut “Bapak Internet” yakni Vinton Cerf untuk mengembangkan teknologi ini. Cerf adalah profesor di Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan co-founder dari protokol Internet yang sekarang ini kita gunakan dan nikmati.
 
Nantinya, dengan teknologi tersebut, Google menawarkan kemudahan mengakses informasi yang paling Anda butuhkan, di manapun Anda berada. Misalnya Anda lagi berlibur di kota Bandung, berada di tengah Jalan Dago yang macet, lalu kebingungan mencari ATM atau pompa bensin terdekat, Anda bisa memanfaatkan jasa mesin pencari lewat ponsel Anda. Atau, Anda ingin mencari restoran soto terlezat di daerah Alas Roban ketika dalam perjalanan mudik Lebaran. Tak perlu repot dan tanya sana-sini, tinggal mainkan jari Anda di atas tuts ponsel, dan beberapa menit kemudian Anda sudah bisa duduk “leyeh-leyeh” menanti hidangan soto nan lezat disajikan.
 
Menelisik Teknologi Next Generation Networking
Jaringan dan infrastruktur Internet dan seluler, ke depannya memang tidak akan mengambil rute yang berbeda atau terpisah-pisah. Oleh karenanya, teknologi jaringan di masa mendatang (Next Generation Networking, NGN) akan merupakan suatu penggabungan teknologi Internet dan seluler ini.
 
Secara teknikal, protokol dan standar Internet akan diimplementasikan atau ditumpangtindihkan pada infrastruktur telekomunikasi sehingga layanan menjadi kian kaya dan luas. Contoh ke arah sana adalah yang dilakukan operator telekomunikasi di Inggris, yang akan menawarkan layanan telekomunikasi 3G dikombinasikan dengan GPRS dan Wi-Fi. Penggabungan layanan ini jelas merupakan perpaduan antara layanan dari sebuah teknologi yang tadinya menjadi terminologi dalam khazanah Internet (Wi-Fi) dengan terminologi seluler (GPRS) menjadi satu yang tak terpisahkan. Contoh lain yang lebih kongkret dan gampang dilihat adalah Skype, Real Networks, ataupun BlackBerry tadi.
 
Dengan NGN, akan terjadi pergeseran di mana komunikasi suara yang tadinya didominasi melalui jaringan sirkuit (circuitry) bergeser menjadi melalui paket data. Layanan video broadcasting yang kita nikmati di sejumlah tontonan video konvensional seperti sekarang ini akan bergeser menjadi suatu layanan video yang lebih interaktif. Sementara layanan wireless akan bergeser dari hanya berbasis suara (voice only) menjadi aneka media yang beragam (media rich).
 
Yang menjadi masalah di Indonesia adalah egoisme sektoral. Para pelaku di kedua sektor bisnis ini masih beranggapan bahwa cara paling efektif untuk memperbesar penetrasi di masyarakat adalah dengan cara membanjiri produk dan layanan ke pasar sebanyak-banyaknya, menekan harga/tarif serendah-rendahnya (sehingga muncul persaingan yang kian tidak sehat antaroperator atau provider), dan melakukan promosi besar-besaran melalui pelbagai lini. Padahal, kunci untuk membuka prospek itu ada tiga hal.
 
Pertama inovasi teknologi harus berkembang ke arah yang lebih cerdas, terbuka, cepat, dan bertahan lama. Oleh karenanya, isu tentang persaingan antara GSM atau CDMA sebagai pilihan tidak lagi menjadi relevan. Yang dibutuhkan adalah regulasi yang memberi peluang bagi teknologi yang terbaik berkembang menjadi matang.
 
Kedua, arsitektur yang dikembangkan harus memenuhi kriteria ulet (resilient), terintegrasi, dan adaptif.
 
Terakhir adalah layanan yang berpusat pada kebutuhan konsumen. Tentu saja, prospek perkembangan telekomunikasi bergerak di Indonesia untuk ke arah itu terbuka lebar. Para penyelenggara jasa Internet atau organisasi semacam APJII seharusnya tidak perlu lagi mengeluhkan bahwa pengguna Internet bertumbuh bak siput berjalan, karena setiap pengguna ponsel akan juga mengakses Internet melalui ponsel cerdasnya. Para penyedia konten seharusnya sumringah lantaran distribusi konten yang mereka sajikan bisa kian luas jangkauan dan mediumnya, sementara para operator jaringan seluler akan menikmati hasilnya karena intensitas konten atau data akan meningkat pesat.
 
Dengan kondisi geografis Indonesia yang sedemikian menyebar, ditambah tingkat kemacetan di kota-kota besar yang kian tinggi, informasi yang bisa diakses dari mana saja melalui smart devices menjadi lahan subur bagi operator, penyedia jasa konten, dan aneka layanan yang lain.
 
 Dari PC ke Mobile Devices
“PC for Yesterday, Mobile Devices for Today and Tommorow.” Itulah paradigma yang kini menaungi para pelaku industri teknologi informasi di seluruh dunia. Pergeseran dari PC ke mobile devices didorong oleh pertumbuhan teknologi seluler dan kian kayanya konten yang bisa disajikan melalui perangkat ini.
 
Jonathan Schwartz, Presiden Sun Microsystems meyakini, “Dalam waktu dekat, yang akan menjadi penting dan berharga adalah Web services yang berjalan di atas platform Internet dan ponsel, bukan lagi aplikasi yang bekerja di atas komputer desktop.” Ia menambahkan, inovasi yang sesungguhnya terjadi akan berlangsung di area network dan layanan yang menyertainya.
 
Gejala pergeseran itu juga sudah dimulai dengan menurunnya tingkat penjualan komputer desktop dibandingkan komputer notebook, sebagaimana dilaporkan International Data Corporation (IDC) dalam riset pasarnya di AS. Dalam sejarah, baru pertama kali notebook terjual lebih banyak dibandingkan komputer desktop pada kuartal kedua tahun 2005 lalu. Tren ini akan terus berlangsung, sehingga penggunaan komputer desktop akan semakin surut. Sebagai gantinya, notebook, gadget, dan mobile devices, yang secara kinerja juga makin powerful, akan menduduki tahta baru.
 
Di belahan dunia yang lain, tren ini juga menunjukkan arah yang sama dengan yang terjadi di AS, meskipun populasi dan penjualan komputer desktop masih tetap lebih tinggi dibandingkan notebook. Satu-satunya alasan yang menjelaskan hal ini adalah faktor harga, di mana notebook bisa dua tiga kali lipat harga PC desktop.

 

3 Comments

  1. bambang said,

    03 January 2008 at 1:09 pm

    cium silit..mantap bro

  2. 17 June 2008 at 11:40 am

    Thx Guy buat informasi, lengkap, padat dan pantas jika menjadi juara.
    Jangan lupa tuker link ya.

  3. indra said,

    04 July 2008 at 2:17 pm

    waaah….
    sudah hampir tiga tahun sejak artikel ini dimuat, tapi tetep saja aku terkesima dengan perkembangan teknologi digital sekarang ini & baru tau kl perkembangannya sudah sejauh itu. nice post bro… success


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: