Thomas L. Friedman

Saya lagi terkagum-kagum pada Thomas L. Friedman. Gara-garanya sederhana. Budi Rahardjo, doktor dari ITB, menyebutnya sewaktu acara XL Award, 24/11, di sebuah kafe di bilangan Menteng. Budi bilang, buku Friedman “The World is Flat” kalau dibaca enak sekali. Mengalir. Tidak seperti tulisan para jurnalis yang pada ikutan lomba XL Award, yang dia bilang jueleeek-jueleeek. (Kebanggaan saya sedikit berkurang karena stetmen Budi ini. Berarti saya menang lomba kali ini gara-gara pesaingnya jelek-jelek. Budi yang lain (Budiono Darsono) bilang lomba kali ini adalah yang terbaik dan pesertanya terbanyak dari yang pernah diselenggarakan). Ah, sudahlah. Ngomong lomba akan jadi narsis, sama seperti postingan awal di blog ini yang nyantumin tulisan gw yang menang di masa lalu. Back to Friedman…..


Gara-gara Friedman yang disebut Budi ini pula otak dan pikiran saya teraduk-aduk lagi, yang akhirnya membuat seluruh file dan data-data lawas di CD yang sudah mulai diserang debu buluk juga ikut teraduk-aduk. Di kantor, aku coba googling judul bukunya, yang ternyata lengkapnya begini: “The World is Flat: A Brief History of Twenty First Century.” Melihat judulnya langsung mengingatkanku pada “A Brief History of Time”-nya Stephen Hawking, yang edisi Inggrisnya nggak pernah kelar kubaca dan edisi Indonesianya cuma sekadar baca judulnya: Riwayat Sang Kala.
Ternyata, Thomas Friedman ini memang penulis besar. Buku-bukunya tentang globalisasi menjadi best seller, bukunya tentang konflik politik di Middle East menjadi rujukan dan bacaan wajib. Bertahun-tahun ia mengamati, berkunjung, menginterview, pihak-pihak yang bertikai di Timur Tengah. Ia menjadi konsultan tetap para CEO perusahaan besar. Salah satu sahabat terdekatnya sekarang adalah CEO Infosys, perusahaan asal India yang barusan dikunjungi Presiden SBY.
Bergabung dengan koran paling top sejagad New York Times pada tahun 1981, sudah tiga kali Friedman menerima hadiah paling bergengsi untuk wartawan Amerika: Pullitzer Award. Kalau ditelisik lagi masa kecilnya, Friedman kecil hanyalah seorang caddy di sebuah lapangan golf, dimana pegolf-pegolf ternama seperti Jack Niklaus bermain. Kini, Friedman disebut sebagai kolumnis Amerika paling berpengaruh sejak Walter Lippmann.
Kenapa Friedman memesona saya? Gara-garanya sederhana. Tumpukan ide dan pikiran di kepala ini sudah hampir jadi ngengat selama bertahun-tahun gara-gara rutinitas pekerjaan dan dipenuhi belatung gara-gara disumbat roh kemalasan, yang terus menerus menggerus dan membusukkan gagasan di kepala. Jelas, ide-ide itu adalah uang yang mejan dan gagal menjadi lembaran kertas bernilai. Padahal, di otak saya sedang terpikir bagaimana mengumpulkan uang tambahan dari hadiah XL Award yang tersisa, untuk jadi modal buat beli mobil. Butut juga boleh. (Ibu, Ansel, maafkan ayah yang belum kuat memberimu kendaraan yang tidak membikin kita kehujanan atau kepanasan. Ayah memang terlampau malas dan cuma bermimpi-mimpi terus).
Maka, saya bongkarlah arsip-arsip lawas di kantor. Di rumah, masih ada satu dua kertas kerja yang juga menarik untuk dibukukan tetapi lupa untuk dibawa. Dan hari-hari ini, otak saya dipenuhi oleh pelbagai macam ide dan gagasan untuk membuat buku. Salah satu ide buku sudah aku lontarkan ke boss Jull, dan kalau ide itu jadi diterbitkan, memang nggak akan menghasilkan uang apa-apa (kecuali paling-paling sebuah Penilaian Karya di awal tahun). Tapi sebagai langkah awal, ide yang aku lontarkan itu menantang dan bisa mengusir roh kemalasan dan lingkaran kenyamanan yang sehari-hari aku nikmati bersama oat di pagi hari dan bekal bawaan Tari di siang hari. Dan buat kantor, ini bisa jadi tambahan produk buat mendongkrak keuntungan biar nggak minus-minus amat.
Dan gara-gara mencari file-file lawas di CD, aku temukan pula kumpulan tulisan Hasan Basri, manusia gendheng, yang cara bertuturnya memukau, ide-idenya brilian, pikirannya sangat liar, dan tentu saja yang paling penting: HUMANIS.
Dus, Friedman, mobil, Hasan Basri, barulah gumpalan kecil yang mendorongku berpikir liar dan bersemangat lagi. Apakah ia akan menggumpal menggulung menjadi besar dan memecahkan kebekuan ini? Ya embuh. Yang jelas, semangat ini tak boleh surut oleh kemalasan, karena penyakit inilah yang membuat siapapun cuma bisa bermimpi tanpa pernah bisa menikmati mimpinya menjadi nyata.

Palmerah, menjelang pulang, 16.40…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: