3G:Gagap, Gugup, Gagal?

Acknowledgement: Ini adalah back to back winnership dari XL Writing Contest 2006, setelah tahun 2005 tulisan saya mendapatkan penghargaan yang sama untuk kategori yang sama dari penyelenggara yang sama. Dengan tulisan ini, akhirnya cicilan mobil saya jadi lunas deh…:D Thanks be to God.

Tahun 2001 layanan telekomunikasi 3G diperkenalkan di Jepang. Setahun berikutnya, Eropa mulai menikmatinya. Kawasan Amerika menjadi penikmat selanjutnya setelah Eropa. Kemudian menyusul beberapa negara Asia. Pertanyaannya, berhasilkah 3G diterima di pasaran yang secara ekonomi dan teknologi sudah matang itu? Tak semuanya. Bagaimana prospek layanan ini di negara-negara berkembang seperti Indonesia?

Telkomsel, Excelcomindo Pratama, dan Indosat sudah menawarkannya baru-baru ini setelah ketiganya mendapatkan sertifikat ULO (uji laik operasi). Tapi, apakah dengan serta merta ia bakal menuai sukses?

Tunggu dulu! Dibandingkan kesuksesan layanan CDMA atau Fixed Wireless Access, boleh jadi layanan 3G ini masih akan menemui sejumlah kendala, terutama dari sisi perilaku konsumen dan ketersediaan konten. Adakah celah untuk menuai sukses?

Gagap

Harus diakui, sebagian besar konsumen pengguna seluler di sini masih tergagap-gagap dengan layanan ini. Apalagi, para provider dan rantai promosi/edukasinya membidik konsumen dengan strategi yang sedikit keliru. Kalimatnya begini kira-kira. “Kalau pakai ini, bisa nonton TV di ponsel.” Atau dengan kalimat lain, “Kalau pakai ponsel 3G ini, kita bisa melakukan panggilan video, nggak cuma suara.”

Duh, siapa yang mau nonton TV di layar yang ukuran layarnya mini? Apalagi kalau menonton siaran favorit seperti sepakbola atau sinetron komedi. Pasti mereka lebih memilih segera pulang ke rumah. Kalau waktunya tak keburu, mereka pasti memilih mampir di rumah teman, nongkrong di kafe yang menyediakan tontonan televisi. Nah, kalaupun ada konsumen dan mereka tertarik dengan layanan ini, kira-kira apakah mereka tetap mau menontonnya? Ingat, dalam kondisi normal, untuk bisa menonton konsumen harus membayar. Sementara televisi bukanlah sesuatu yang sulit dicari dan bertebaran dari warung kakilima hingga di lobi hotel bintang lima. Kalaupun masih bersedia menonton TV, ada perangkat yang jauh lebih murah dan lebih mudah dioperasikan. Jadi, promosi layanan 3G sekadar untuk nonton TV sudah pasti basi.

Dengan demikian terlihat bahwa di aras ini konsumen sesungguhnya masih tergagap-gagap dan meraba-raba, apa manfaat penting yang bisa didapat dengan menggunakan layanan ini.

Kegagapan lain juga terjadi bila disinggung soal panggilan berbasis video. Bagaimana tidak? Faktanya, di kalangan pengguna ponsel di sini, ponsel justru sering dijadikan sarana untuk menyembunyikan diri dan menutupi kebohongan. Seberapa sering kita mendengar orang bilang di ponsel, “Saya masih di jalan”, padahal kita telak-telak melihatnya masih ngendon di kursi kantornya. “Masih rapat,” tapi ngomongnya terdengar orang lewat di depan kafe, dan orang-orang semua meliriknya tengah ngobrol dengan seseorang sembari menyeruput kapucino.

Artinya, orang masih enggan untuk diketahui jatidiri atau aktivitas yang sedang dilakukannya dan menyembunyikannya lewat ponsel. Dengan panggilan video, tak mungkin lagi mereka menyembunyikan diri. Boleh jadi, layanan ini pertama-tama akan dibeli oleh ibu-ibu yang curiga suaminya sering berbohong atau menduga pasangannya selingkuh dengan orang lain.

Fakta tentang keengganan identitas seseorang diketahui pihak lain tampak terang benderang ketika pemerintah memutuskan bahwa setiap nomor seluler harus didaftarkan. Sebanyak 5,5 juta nomor seluler hangus dalam waktu tak sampai satu tahun. Pertanyaannya, kenapa nomor itu tak didaftarkan dan lalu hangus? Sulitkah melakukan pendaftarannya? Tidak! Terlalu mepetkah waktu pendaftarannya? Tidak juga. Jawabannya karena orang masih enggan diketahui identitasnya. Dengan layanan 3G yang menawarkan panggilan video, orang-orang seperti ini bisa-bisa menganggap dirinya telanjang.

Kendala lainnya adalah kegagapan teknologi. Meski perangkat ponsel yang mendukung layanan 3G sudah banyak beredar di pasar, tidak mudah membuat konsumen menjadi lebih melek karena 3G itu masih dipahami sebagai barang aneh. Dalam sebuah ujicoba layanan 3G oleh sebuah operator telekomunikasi, ada seorang peserta yang menarik diri dan enggan mencoba karena merasa kecewa karena kemudahan yang dijanjikan tidak juga didapat, dan selama percobaan praktis kegagalan melulu yang dihadapinya. Duh ngerinya!

Bisakah dibayangkan bila hal ini harus dialami oleh orang yang benar-benar awam? Bahkan sebagian dari pengguna ponsel generasi 2G sekarang ini pun, masih ada yang sekadar memanfaatkan ponselnya hanya untuk panggilan suara. Bukan SMS, bukan MMS, apalagi untuk bermain game. Kenapa? Karena mereka benar-benar tidak bisa mengoperasikannya! Tidak perlu tertawa, karena sesederhana itulah kenyataannya.

Gugup

Gejala kegagapan konsumen menyambut datangnya layanan 3G jelas terasa. Mereka masih menerka-nerka, meski tetap juga mencoba-coba. Namun yang tak kalah menariknya adalah gejala kegugupan di kalangan provider atau operator dan pelaku bisnis lain yang terkait dengannya untuk segera meluncurkan layanan 3G ini. Kenapa demikian? Ada dua alasan kenapa kegugupan itu muncul.

Pertama, mau tidak mau layanan ini akan berhadapan secara diametral dengan platform Wi-MAX yang sama-sama menawarkan transfer data berkecepatan tinggi. 3G saat ini unggul karena Wi-MAX belum bisa ditawarkan secara komersial menyangkut regulasi yang diatur oleh pemerintah sementara operator 3G yang sekarang menyatakan siap dengan layanannya sudah mendapatkan surat Uji Laik Operasi (ULO) sebelum mereka memasarkannya ke masyarakat. Dengan demikian, 3G dikenal lebih dahulu dibandingkan Wi-MAX. Tapi benarkah 3G lebih dahulu yang dikenal?

Cikal bakal Wi-MAX sebenarnya juga sudah diterima masyarakat melalui Wi-Fi yang kini menjamur di mana-mana. Mula-mula hanya melanda kafe gedongan dan kelas atas, kini dengan mudah layanan ini tersebar ke tempat yang lebih luas.

Alasan kedua adalah investasi yang dikeluarkan. Bagaimanapun, karena secara teknis 3G bermain di frekuensi yang lebih tinggi, satu stasiun pemancar akan menjangkau area lebih sempit dibandingkan satu stasiun pemancar yang sama untuk teknologi 2G. Kegugupan ini tentu wajar karena investasi yang dikeluarkan oleh operator telekomunikasi untuk menyediakan layanan ini akan menjadi sangat besar untuk jangkauan luas yang sama dengan generasi 2G. Apabila kemudian dalam persaingan ternyata ia kalah dan mati, siapa yang mau menanggungnya kecuali si operator sendiri.

Ketiga, dengan meluncurkan lebih cepat, diharapkan ketersediaan konten yang bisa dinikmati juga bisa lebih banyak dan segera tersedia. Selama ini, konten dan jalur ibarat ayam dan telur. Belum berani ada satupun pelaku yang berani keluar dari sangkar ayam dan telor ini, padahal kalau ayam mengeram juga akan menghasilkan telor atau kalau telor dierami juga jadi ayam. Semuanya memang lebih karena aspek bisnis. Operator lantas memilih, daripada menunggu lebih baik memulai.

Jelas bahwa miskinnya konten yang saat ini benar-benar sudah siap untuk mengisi jalur sambungan supercepat itu akan membuat calon konsumen pengguna layanan 3G memicingkan mata melirik pada alternatif lain. Ibarat jalan tol, yang kini sudah tersedia adalah jalan yang superlebar dan mulus, tetapi belum banyak kendaraan yang melintas di dalamnya. Lebih dari itu, jalan tol itu masih baru dapat menghubungkan beberapa kota dan belum menjangkau seluruh kota, sebagaimana yang selama ini sudah digunakan oleh konsumen yang mampu menembus hingga pelosok.

Gagal?

Konsumen masih tergagap-gagap. Pelaku bisnis dan operator masih tergugup-gugup. Lalu, akankah layanan ini akan gagal dan mati? Di situlah menariknya. Kenapa demikian? Karena di situlah akan terjadi pertaruhan dan pertarungan.

Pertaruhan pertama menyangkut bagaimana melakukan edukasi dan mengarahkan kebutuhan konsumen secara tepat sesuai dengan kapasitas teknis yang dimiliki oleh layanan 3G. Kalau promosinya sekadar untuk panggilan video atau nonton televisi, sudah bisa dibayangkan bahwa ia akan menempuh jalan terjal untuk mencapai sukses. Bilapun tidak terjal, butuh waktu sangat panjang untuk sampai menuai hasil yang diharapkan.

Bila orientasi edukasinya diubah, boleh jadi ia akan menuai hasil. Bagaimana caranya? Dengan cara mengelompokkan dan memilah konsumen yang selama ini memang sudah terbiasa dengan urusan data-data besar. Siapakah mereka? Adalah para pekerja kantoran yang terbiasa bekerja dan berkolaborasi dengan data-data lain yang berserakan tempatnya, tetapi menuntut selesainya pekerjaan dalam waktu cepat. Dengan jalur yang lebih cepat, tuaian pasti akan lebih cepat pula datangnya.

Di wilayah ini, operator tampaknya harus cukup jeli membidik sektor industri yang benar-benar membutuhkan data besar dan sering melakukan kolaborasi dalam pekerjaannya. Oleh karenanya, sebuah operator telekomunikasi mestinya pertama-tama justru melirik industri-industri layanan data dan aplikasi sebagai partner untuk memasarkan layanan ini.

Bila sasaran pertama adalah kantoran, sasaran kedua yang justru menarik untuk dibidik adalah jalur industri konsumen dan gaya hidup. Seperti apa bentuknya? Selama ini, perusahaan-perusahaan barang-barang konsumer menghabiskan duit bermiliar-miliar setiap tahunnya untuk menawarkan produknya melalui iklan di televisi-televisi konvensional. Siapa yang tertarik menonton iklan? Mungkin pembantu rumah tangga, dan sedikit orang yang menggemari tayangan tertentu. Selebihnya, tayangan iklan di televisi konvensional itu akan lalu bersama waktu.

Dengan membidik industri produk konsumer semacam ini, si pemasang iklan memang harus diajak mengubah cara berpikirnya, bahwa beriklan lewat jalan semacam ini adalah hal baru, tetapi jauh lebih efektif. Kenapa? Karena si pemasang iklan bisa benar-benar mengarahkan dan memastikan tujuan iklannya kepada konsumen yang dimaksud. Dan yang lebih penting lagi, iklan yang didistribusikan lewat layanan ini justru bisa dipastikan ditonton atau dilihat oleh konsumen yang dituju.

Kenapa demikian? Karena iklan ini dikirimkan langsung dari operator ke tangan konsumennya. Tidak ada pilihan bagi konsumen untuk menolak atau membuangnya, kecuali melihatnya. Dengan durasi yang disesuaikan dengan kenyamanan menonton iklan, ia bisa menjadi cara baru dalam mendistribusikan konten-konten lainnya sekaligus merongrong kreativitas pelaku bisnis untuk menawarkan konten-konten lainnya yang lebih inovatif.

Pertaruhan kedua menyangkut daya tahan untuk melakukan edukasi dalam jangka waktu tertentu sampai ia bisa disebut berhasil atau gagal. Layanan 3G ini jelas akan bertaruh dengan waktu. Jepang yang sudah merintis layanan ini lima tahun lalu kini juga menghadapi dilema sedangkan tingkat keberhasilan di beberapa negara seperti Korea, sebagian Eropa, dan Amerika Utara juga rendah. Apalagi bilamana teknologi lain semacam Wi-MAX juga makin matang. Justru di situlah ia benar-benar harus bersabung dengan waktu supaya teknologi lain tidak segera muncul dan lalu menggusurnya.

Layanan 3G juga berurusan dengan pertarungan tidak mudah antara jenis teknologi yang digunakan serta pertarungan antaroperator itu sendiri. Skalabilitas ekonomi untuk bisa membuatnya berkembang lebih jauh akan ditentukan seberapa besar ia bisa menjangkau pasar seluas-luasnya.

Layanan 3G ini masih sangat muda dan sulit untuk menerkanya, akankah ia berhasil atau gagal. Namun bila ia mampu mengubah cara pandang bahwa jalan lebar bisa digunakan untuk melewatkan kendaraan apa saja, justru boleh jadi ia akan menjadi saluran angkutan data serbabisa yang dalam waktu singkat merontokkan jalan-jalan lain yang lebih sempit dan ruwet. Siapa tahu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: