MENGGABUNGKAN TELEKOMUNIKASI DAN INTERNET

Acknowledgement: Tulisan ini adalah pengembangan dari Journalist Feedback Contest yang diselenggarakan oleh Indosat tahun 2006 dan dipresentasikan di depan direksi Indosat. Tulisan ini mendapatkan penghargaan sebagai 3rd Best Feedback for Indosat. Pemenang pertama adalah Sdr Erwan Widiarto dari Radar Jogja. Runner-up adalah Lukman Ariwibowo dari Majalah Selular. Saya bersama kedua rekan mendapatkan hadiah uang, sebuah Blackberry, dan jalan-jalan gratis ke Singapore dan Australia selama seminggu. Efek buruknya, muncul istilah “pelacuran jurnalistik” dalam sebuah blog, terkait dengan tulisan-tulisan lomba ini.  Silakan menilai sendiri, apakah saya melacurkan diri dengan menulis seperti ini😀. 

Komunikasi –baik langsung maupun tak langsung—telah berubah total. Media komunikasi tak langsung seperti radio, surat kabar, dan televisi, sudah hampir satu dekade ini mendapat pesaing paling hebat dalam sejarah: Internet. Sementara itu, media komunikasi langsung antarmanusia seperti telekomunikasi juga berubah. Selain berubah pada cara distribusi, peralatan yang digunakan, serta teknologi yang menopangnya, ia juga diubah oleh hal yang sama: Internet.

 

Maka, industri seperti surat kabar, radio, dan televisi pun dipaksa untuk mengubah diri, baik dari sisi penyebaran informasi maupun caranya berinteraksi dengan audiens. Ada banyak contoh yang menunjukkan, bagaimana sebuah industri media yang telah mapan dan berumur puluhan, bahkan ratusan tahun, harus mengubah dirinya dengan tuntutan generasi baru yang menuntuk komunikasi dalam bentuk yang lebih baru.

 

CNN, media distribusi informasi paling kondang seantero jagad, kini mulai menampung informasi dari audiensya, terutama video-video klip kiriman dari orang-orang di seluruh penjuru dunia. Sementara popularitas layanan Youtube.com berkembang pesat hanya dalam waktu kurang dari dua tahun. Youtube.com kini sudah dibeli Google.com dengan nilai sekitar US$ 1,6 miliar.

 

Sementara itu, Smash Hits, sebuah majalah pop di Inggris yang terbit tahun 1978 dan pernah mencapai oplah hingga jutaan eksemplar, pada akhir tahun 2005 pelanggannya tinggal 120 ribu orang, dan akhirnya format cetaknya pun gulung tikar pada tahun ini. Ia kini hadir menjumpai audiensnya dalam bentuk program TV dan radio, serta layanan Internet.

 

Di sisi lain, media informasi dan berita Internet dengan format baru kini muncul lagi, dengan gaya yang lebih informal, partisipatif, dan interaktif. Situs http://digg.com adalah contoh paling masyhur untuk menunjukkan layanan berita baru Web yang dinamakan generasi Web 2.0. Situs berita http://www.ohmynews.com dari Korea Selatan juga telah mencatatkan diri sebagai media informasi baru yang disebut citizen journalism. Kini OhMyNews International (OMNI) membuka kantor keduanya di Tokyo pada tahun ini, setelah yang pertama di Korea Selatan mencatat sukses besar. Investor Softbank pun tertasrik menanamkan modalnya pada model distribusi informasi cara baru ini

 

Sebagai catatan, generasi Web sebelumnya yang dinamakan Web 1.0 telah melahirkan sejumlah tonggak penting mulai dari Yahoo, Amazon, eBay, dan Google sebagai bisnis yang eksis di tengah gelombang bisnis dotcom yang menggelembung dalam waktu singkat, dan kemudian gugur berantakan dalam waktu yang lebih singkat lagi.

 

Rupert Murdoch, orang paling berkuasa atas media di kolong jagad ini bahkan sudah mulai meletakkan angsa petelur emasnya di Internet, bukan lagi di surat kabar, radio, atau televisi. Ia mengatakan, pada tahun 2040 tidak akan ada lagi media cetak baru yang terbit di dunia, dan pada saat itu media cetak akan mengalami masa surut paling drastis. Tanda-tandanya di tingkat lokal pun sudah mulai kelihatan mulai dekade lalu, di mana Kompas, koran terbesar di Indonesia itu sudah tidak pernah lagi mengalami peningkatan oplah cetak sejak tahun 1995, persis ketika Internet saat itu mulai mempenetrasi masyarakat Indonesia.

 

Singkat kata, industri media yang berusia ratusan tahun telah digerus dengan amat kejam oleh pertumbuhan informasi dari Internet dalam waktu kurang dari satu dekade.

 

Bila dicermati, industri telekomunikasi juga mirip dengan industri media. Ia sudah eksis selama ratusan tahun dan hingga akhir abad lalu ia berkembang melalui perjuangan dramatis. Telekomunikasi berbasis kabel, hingga penghujung tahun 1990-an masih menjadi primadona sekaligus barang mahal dalam komunikasi antarmanusia. Akan tetapi, semenjak telekomunikasi menjadi bergerak ke arah platform nirkabel, di mana perangkat di terminal akhir tidak harus dihubungkan dengan kabel yang berbiaya mahal, segalanya berubah. Secara dramatis pula. Dunia yang berjarak, kini tinggal masa lalu. Dunia yang bulat tinggal kenangan. The world is flat.

 

Perkembangan telepon seluler pada pertengahan tahun 1990-an dan kemudian mencapai puncaknya dalam lima tahun terakhir ini telah membuat industri telekomunikasi menikmati pertumbuhan bisnis dan perkembangan pengguna yang luar biasa. Penemuan baru di bidang infrastuktur telekomunikasi dan juga di sektor perangkat terminal akhir telah membuat industri telekomunikasi menjadi industri yang sangat menjanjikan, setara dengan industri seperti pertambangan atau finansial yang usianya jauh berlipat-lipat di atas industri baru ini.

 

Lebih dari itu, tingkat persaingan yang kian ketat memaksa perusahaan telekomunikasi berinovasi supaya tidak ketinggalan dengan pesaingnya dan ditinggalkan pelanggannya. Yang sedikit membedakan antara industri media massa dengan telekomunikasi adalah jangka waktu pertumbuhannya. Bilamana industri media massa dengan cepat harus mengakomodasi dan mengikuti perkembangan teknologi Internet, industri telekomunikasi memiliki tenggang waktu yang lebih lama untuk mengembangkan diri, sehingga kehadiran Internet seolah-olah belum menjadi ancaman serius bagi industri ini.

 

Dengan gejala perubahan yang sudah kasat mata dan terus berlangsung, siapakah yang akan bertahan dalam persaingan yang makin ketat dan tuntutan konsumen yang makin besar? Mereka yang paling bisa bertahan dalam dunia yang penuh persaingan bukanlah mereka  yang paling kuat, melainkan mereka yang paling adaptif terhadap perubahan. Itu pula yang seharusnya menjadi paradigma dasar mengapa setiap institusi, sekecil atau sebesar apapun harus terus adaptif terhadap perubahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: