Awas, RUMAH KACA!

Pram sudah dicatat oleh sejarah. Dia orang besar. Mahakaryanya sudah mewarnai dan diakui dunia, menginspirasi jutaan orang, menyemangati anak-anak muda negerinya. Kau? Jelas bukan siapa-siapa.

“Tapi tak bolehkah aku bermimpi seperti Pram?”.

Boleh. Semua orang tentu boleh bermimpi. Tapi apa kau tak mengigau ingin menyamai Pram? Pram telah purna sebagai manusia dan kini menjadi monumen. Karyanya ada di mana-mana, diadaptasi banyak bangsa dan bahasa. Karyamu belum juga mengada, kecuali yang receh dan remah-remah. Pram menjalin kata-kata dengan hati dan cintanya yang mendalam pada kata. Kau sekadar mengumpulkan serakan huruf, merangkainya dalam kata, tapi belum menjadikannya kata-kata yang bertenaga layaknya Pram bercerita.

Pram menulis bagian terakhir tetraloginya, “Rumah Kaca”, dengan peluh asin kehidupannya yang sebagian besar terasa pahit. Kau, tak sekalipun merasakan kegetiran itu. Lalu, ini yang kau bilang kau ingin menyamai Pram? Kau tidak menyamai dan tak akan pernah bisa menyamainya. Kau cuma menjiplak, menumpang nama besarnya!

“Tidak! Ini lain.”

Coba tunjukkan, di mana lainnya? Bukankah kau cuma menambahkan sebuah kata di depan kitab sastra Pram yang hebat itu. Jelas kau hendak mendompleng Pram. Kau ingin menjilat keringatnya yang kini sudah berkalang dengan tanah.

“Duh, sulitnya menjelaskan isi kepala ini padamu. Ini jelas-jelas beda. Pram banyak bicara politik, aku benci politik. Pram bicara masa lalu, aku bercerita masa depan. Ia bicara dengan latar panggung kolonial. Ia berkisah tentang sesuatu yang sudah terjadi. Aku bicara tentang sesuatu yang belum terjadi. Latar panggungnya juga beda.”

Ah, kau sekadar mencari-cari beda, tapi tak memberi makna pada isi kepalamu itu. Apa yang tersimpan di otakmu masih terlampau kusut untuk dicerna orang. Terlalu rumit untuk dimengerti. Kalau kau tak juga bisa menjelaskannya buat siapa saja, kau tetap bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa.

“Kusut bukan berarti tak bisa diurai. Ini baru mula. Sama seperti seorang pengarang besar yang baru mulai merangkai cerita-cerita nan menakjubkan ketika ia menjelang 40.”

Ah, kau mulai sinting rupanya. Baru saja kau mengkhayal seperti Pram, kini kau sudah berilusi ingin menyamai Sidney Sheldon. Mampuslah sana dengan ilusimu itu.

“Aku tak sedang mengkhayal. Tak juga berilusi. Aku cuma ingin mengingatkan semua orang, memberikan mereka gambaran seperti apa masa depan bumi yang dipijaknya, dan bagaimana menyelamatkannya.”

Sudah-sudah! Pram dan Sidney Sheldon saja sudah terasa menggelikan, sekarang kau malah sudah menahbiskan diri sebagai nabi baru. Percayalah, sudah tak ada nabi lagi dilahirkan di zaman sinting ini. Kau terlalu najis untuk menjadi nabi. Jadi orang suci pun tak pantas.

“Aku memang bukan Pram. Bukan Sheldon, apalagi nabi baru. Aku hanya ingin berbagi apa yang aku khawatirkan tentang masa depan kita. Masa depanku, kamu, dan kalian semua. Dan masa depan itu meletak pada dua kata yang sudah dipilih Pram, “Rumah Kaca”. Aku menambahkan AWAS supaya kalian semua, kita, waspada. Itu saja. Terserah kau mau menyimaknya atau tak. ”

Tak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: