Tarif Selular Murah: Musik Klasik atau Lagu Dangdut?

Thomas L. Friedman, kolumnis yang disebut-sebut paling berpengaruh di Amerika Serikat saat ini, boleh saja bilang begini: Berkat kemajuan telekomunikasi dan internet, jagad menjadi datar. “The world is flat”. Tentu saja, bumi secara fisik tetaplah bola bulat, karena istilah “datar” cuma metafora yang dibuat Friedman untuk menggambarkan efek yang muncul dari telekomunikasi yang kian murah dan mudah tadi.

Menurut Friedman, telekomunikasi yang murah (cheap) dan tersedia dengan mudah di mana-mana (ubiquitous) membuat setiap orang di seluruh penjuru dunia kini dapat berpartisipasi dalam kancah bisnis global. Telekomunikasi dan teknologi informasi (TI) telah memompa globalisasi sepenuh-penuhnya, sempurna, menciptakan dunia yang datar, praktis tak berjarak, tak berjenjang, tak bersekat.

Namun, benarkah ia benar-benar datar, tak berjarak, tak bersekat, tak berjenjang, seperti yang dikatakan Friedman? Benar pulakah setiap orang telah menikmati telekomunikasi yang tarifnya kian murah ini dan menuai manfaat darinya?

Telekomunikasi, sebagaimana juga TI yang memberi nyawa pada kata absurd bernama globalisasi, sekarang memang sudah bisa dinikmati segala lapisan orang. Presiden atau kepala dusun, jenderal atau prajurit rendahan, direktur atau office boy, majikan sampai pembantu rumah tangga, semuanya menikmati efek telekomunikasi murah ini. Namun, membuat dunia menjadi tak berjarak tak bersekat, memberi manfaat bagi semua orang seperti klaim kolumnis berpengaruh itu, tunggu dulu!

Klasik versus Dangdut
Musik klasik sering diasosiasikan dengan musik yang mencerdaskan, lengkap, musik yang mampu menggerakkan otak kanan manusia menjadi lebih aktif dan kreatif. Bahkan makin besar efeknya bila musik itu diperdengarkan sejak bayi dalam kandungan ibunya.

Umumnya, hanya golongan masyarakat menengah ke atas dan terdidiklah yang mau menikmati musik ini. Sementara kalangan bawah, kelompok yang kurang terdidik, pekerja rendahan, buruh dan pembantu rumah tangga, umumnya lebih dekat dengan irama dangdut, meski dangdut sendiri juga sudah naik kelas tak hanya dinikmati rakyat kalangan bawah.

Nah, di negeri ini, tarif telekomunikasi yang makin murah dan fitur yang kian melimpah pun ibarat musik klasik tadi: Dinikmati dan dimanfaatkan oleh kaum cerdik pandai, orang terdidik, mereka yang selalu mengakses informasi terbaru. Sementara kelompok di bawah terbuai oleh syair lagu raja dangdut Rhoma Irama berikut ini: “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.” Benarkah? Bukankah pedagang sayur, tukang ojek, atau pembantu rumah tangga juga sudah berponsel ria? Ya, tapi mari kita telisik lebih jauh!

Telekomunikasi sebagai salah satu anak kandung globalisasi, sudah lama dituding ahli sosial dan ekonomi membawa mala lebih banyak ketimbang berkat, persis seperti penggalan bait lagu Bang Haji di atas. Namun gerak globalisasi tidak mengikuti logika yang lurus dari syair lagu itu. Yang satu maju, tapi yang lain tidak mundur.

Yang berlangsung sesungguhnya adalah sama-sama bergerak maju, dengan perbedaan kecepatan masing-masing kelompok tadi dalam mengikuti gerak globalisasi. Semua merasakan efek dan manfaat teknologi informasi, apalagi telekomunikasi. Namun “para penikmat lagu klasik” merasakan efek dan manfaat ini jauh lebih cepat dan berlipat-lipat dibandingkan “para penggemar dangdut”. Semua bergerak maju, tapi yang di depan bergerak jauh lebih cepat sementara yang di belakang berjalan tertatih-tatih, sehingga jurang tampak menganga kian lebar. Yang di atas berlari, sedang di bawah merangkak. Ilustrasi faktual di bawah ini akan membuat kita melihat soal lebih terang benderang.

Dwi Hastoto (36), adalah seorang pekerja profesional lulusan teknik elektro UGM. Ia bekerja di suatu perusahaan pengembang software di Jakarta, yang melayani pembuatan sistem informasi untuk institusi swasta dan kantor pemerintah. Berkat pengetahuan yang didapatnya, keahlian yang dimiliki, relasi yang dibangun, dan informasi baru yang dikumpulkannya, Dwi lalu membangun toko barang-barang fancy, suvenir, stationery, dan pernak-pernik aksesoris menarik lainnya.

Toko itu semata-mata ada di internet, di http://www.asemka.com. Untuk melayani pelanggan, menerima order, dan mengontrol bisnisnya, Dwi mengandalkan akses internet, dan itu pertama kali menggunakan layanan provider telepon selular. Dari toko online-nya itu, ia meraih keuntungan dengan cepat. Pelanggannya merambah hingga luar pulau, omzetnya terus membesar. Sejak dibuka akhir tahun 2006, sudah lebih dari 400 ribu requests datang ke situs itu.

Ketika operator ramai-ramai menggelar teknologi 3G yang menyediakan layanan data, ia terus memantau layanan ini, siapa tahu bisa lebih menekan biaya operasional, karena tagihan teleponnya pernah meledak hingga 700 ribu hanya untuk berinternet. Namun ia tidak segera berganti layanan internet, masih terus meng-update informasi membanding-bandingkan layanan. Mengapa? Karena ia tahu persaingan di bidang layanan data antar-provider semacam sekarang akan segera memicu tersedianya layanan yang makin murah. Benarlah. Dengan sedikit bersabar dan jeli, Dwi akhirnya mendapatkan pilihan terbaik, dan biaya internet per bulannya pun turun signifikan, lima kali lebih murah dibandingkan yang lama.

Nah, Dwi memiliki seorang pembantu di rumah, Daminah namanya. Umurnya belum 20, asal dari Kutoarjo. Dam, demikian gadis ini dipanggil, punya ponsel seperti layaknya pembantu-pembantu rumah tangga zaman sekarang. Sebulan, ia menghabiskan 50 hingga 60 ribu rupiah untuk ponselnya guna sekadar ngobrol, dan terutama untuk ber-SMS, ke “kolega-kolega”nya. Salah satu “kolega”nya adalah Imah. Chotimah nama lengkapnya, yang bekerja di sebuah rumah dekat Dam bekerja. Sama seperti Dam, Imah mengaku “billing” ponselnya per bulan berkisar 50-60 ribu rupiah. Imah, juga Dam, tentu saja tak punya banyak “relasi” nomor kontak di ponsel sebanyak majikan mereka. “Address book” mereka bahkan tak sampai 30 “entries”, dan nomor yang paling sering mereka “call” tak lebih dari 10 “person”.

Namun dari kontak yang tak banyak itu, kebanyakan berbeda-beda pula provider-nya satu sama lain. Alhasil, SMS yang biasanya paling sering berlangsung di antara mereka menjadi lebih boros. Mereka tak tahu bahwa SMS sesama operator tarifnya bisa hemat hingga tiga kali dari tarif normal. Bahkan mereka tak pernah tahu bahwa bercakap-cakap lewat SMS hingga 4 atau 5 kali balasan biayanya bisa lebih mahal daripada bicara yang cukup beberapa detik. Mereka masih yakin, ber-SMS lebih murah dibanding bicara karena tak cukup punya informasi untuk membandingkan tarif operator yang satu dengan yang lain, tak punya pikiran ekstra untuk menghitung rinci biaya percakapan atau SMS, pun pula kekurangan kreativitas untuk mencari cara berkomunikasi yang lebih murah. Yang mereka tahu cuma satu, tarif ponsel itu sekarang sangat murah dan terjangkau kantong mereka. Mereka bisa memilikinya. Menikmatinya.

Imah pernah bercerita, satu temannya dibuat panik gara-gara mendaftar kuis SMS yang diiklankan di TV. Setelah mendaftar, teman Imah itu kelabakan karena tak bisa berhenti berlangganan SMS yang menyedot 500 rupiah setiap hari itu. Ia pun pasrah meski menggerutu jerih payah dan keringatnya dihisap setiap hari oleh “makhluk tak dikenal”.

Produksi versus Konsumsi
Itulah fakta yang terjadi. Di kelompok yang kurang terdidik, yang tidak mampu mengakses informasi dengan baik, telekomunikasi yang makin murah seolah-olah merupakan berkah. Mereka ini merasa bangga dan puas, dari hasil keringatnya bisa membeli ponsel, meskipun tipe yang paling murah atau ponsel bekas. Ponsel telah membuat hidup mereka kelihatan lebih indah, sekalipun itu menyedot seperenam atau bahkan seperlima gaji mereka setiap bulan. Juga, ketika pulang kampung ponsel menjadi senjata untuk menunjukkan eksistensi, status, dan “keberhasilan” mereka bekerja di kota.

Lima atau enam tahun lalu, orang-orang seperti Chotimah atau Daminah membawa uang ke kampung tanpa ada pengeluaran ekstra untuk “biaya telekomunikasi” semacam ini. Gaji selama setahun, umumnya dibelikan perhiasan, kambing, atau sapi di kampung halaman untuk dirawat/dititipkan kerabat. Namun sekarang, ponsel jauh lebih menarik daripada kambing yang cuma bisa mengembik. Ponsel bisa bernyanyi, juga lebih mentereng daripada segram dua gram emas, yang sehari-hari cuma ditaruh di dalam tas yang tergolek di kamar mereka yang panas.

Berkebalikan dengan Dam, Imah, dan teman-temannya, majikan mereka seperti Dwi, Eko, Tri, atau Catur, juga mungkin Anda, yang mampu mengakses informasi secara lebih baik dan memiliki pengetahuan lebih, telekomunikasi yang murah mampu diolah untuk memberi opportunity baru, menjadi alat produksi yang lebih murah, dan ujung-ujungnya meningkatkan pendapatan.

Jelas sudah, suatu hal yang sama ternyata memiliki efek atau akibat yang berbeda pada kelompok masyarakat yang berbeda. Bagi kelompok yang satu, tarif murah menjadi pesona tetapi juga menghisap penghasilan mereka yang sebelumnya bermanfaat untuk hal yang produktif, bukan konsumtif. Sementara bagi yang lain, tarif telepon murah secara cerdas diolah untuk menghasilkan kapital baru. Bagi yang satu, ponsel dan tarif yang murah adalah konsumsi dan gaya hidup baru, sementara bagi kelompok yang lain ia adalah alat produksi yang lebih efisien.

Itu baru soal bagaimana tarif dan fitur selular dimanfaatkan. Akan benderanglah masalahnya ketika kita mencermati bagaimana struktur tarif pulsa itu bekerja. Pulsa senilai 5 ribu ditawarkan seharga 6 atau 7 ribu rupiah. Yang 10 ribu harus ditebus dengan 12 ribu rupiah, dan pulsa 20 ribu dihargai 22 ribu rupiah. Sementara pulsa senilai 50 ribu baru bisa ditebus dengan rupiah yang sama. Sedang pulsa 100 ribu, harganya justru lebih murah karena umumnya dijual 96 atau 97 ribu rupiah. Dam atau Imah tentu enggan pulsa 50 ribu dibeli sekali isi, meskipun per bulannya mereka akan menghabiskan kurang lebih sebesar itu. Pulsa 5 atau 10 ribulah yang masuk akal. Dengan sistem beli pulsa “dicicil” seperti itu, bila diakumulasi setiap bulannya mereka menghabiskan 60 ribu rupiah untuk pulsa yang nilainya 50 ribu.

Orang-orang di kelompok Dam atau Imah, umumnya sangat tergila-gila pada lagu dangdut berjudul “SMS” yang genit dan renyah. Mereka menggunakannya sebagai nada dering ataupun ring back tone di ponsel mereka. Berkat orang-orang seperti Dam atau Imah pulalah jasa pasang ringtone menjamur di mana-mana, ring back tone diiklankan terus di TV dan media cetak, karena bagi mereka yang terdidik dan punya akses informasi lebih baik, ringtone semacam itu bisa mereka dapat secara gratis dari teman, atau diunduh dan di-install sendiri dari internet.

Lebih jauh lagi, bagi Imah atau Dam, untuk punya ringtone yang tidak sekadar bunyi kring yang terdengar “ndeso” atau ring back tone yang tak sekadar berbunyi tut, tuut, tuuut, mereka harus keluar duit lagi. Dan ring back tone itu butuh “makan” berupa saldo pulsa yang besarnya tak boleh kurang dari 9 ribu rupiah. Kurang dari itu, jelas tak bisa berdendang. Manakala mereka boros hingga pulsa cepat tiris dan tak bisa mengisi lebih dari sebulan, ring back tone akan hangus, dan ponsel enggak lagi “gaul”.

Begitulah. Struktur tarif pulsa, fitur ponsel, layanan selular, rasa-rasanya tidak atau belum berpaling pada orang-orang seperti Dam atau Imah. Namun hukum ekonomi seperti itulah yang harus mereka terima. Maka, sudah didera oleh kekurangtahuan mereka terhadap perhitungan-perhitungan tentang tarif dan struktur perhitungan pulsa SMS atau telepon sebagaimana tergambar di atas, orang-orang seperti Dam atau Imah sesungguhnya kian terpinggir dari putaran globalisasi, sekalipun sehari-hari mereka ikut serta dan merasakan putaran itu dalam bentuknya yang paling kongkret: ber-SMS dan bercakap di telepon.

Maka, globalisasi bekerja sedikit berbeda dari syair lagu Rhoma Irama berjudul “Indonesia” yang dikutip di awal tulisan ini. Semua orang dari segala lapisan dan golongan sebenarnya tetap menikmati efek pertumbuhan dan perkembangan industri ini. Orang seperti Dwi menikmati tarif yang makin murah dan layanan yang kian beragam, pembantu seperti Dam bisa ber-SMS atau ngobrol memanfaatkan tarif yang murah.

Masalahnya, yang memiliki akses informasi lebih baik mampu melipatgandakan efek industri selular ini menjadi lebih produktif, sementara golongan orang yang tidak terdidik terseret oleh pusaran, tanpa bisa bersikap. Dengan kata lain, pemanfaatan kemajuan industri selular yang terjadi di golongan masyarakat bawah tidaklah secepat yang berlangsung di kelompok masyarakat yang mengakses informasi secara cepat.

Tetap Eksis, Peduli Ekses
Maka, tarif murah tampil dalam dua muka: berkah sekaligus musibah. Dan industri selular akan tetap eksis di tengah persaingan tarif murah ini karena tiga alasan. Pertama, pasar yang bisa direngkuh membesar karena harga perangkat ponsel dan tarif yang terus memurah. Ketika pertama kali telekomunikasi selular muncul, tarif harga yang ditawarkan hanya bisa dijangkau oleh segelintir orang. Ia menjadi barang mewah. Pada fase berikutnya, seiring dengan tarif dan harga perangkat yang makin terjangkau, jumlah mengguna meningkat amat drastis dalam hitungan kurang dari 5 tahun. Industri selular di Indonesia yang baru berumur kurang lebih sepuluh tahun saja, sudah mampu menggaet jumlah pengguna kurang lebih 80 juta orang atau 8 kali jumlah pengguna telepon tetap. Maka, perang tarif justru akan membuat volume ini terus membesar karena hingga saat ini penetrasinya belum mencapai titik jenuh.

Kedua, tarif yang makin murah memicu bertambahnya jenis layanan bernilai tambah (value added services, VAS) yang ditawarkan kepada publik, baik oleh industri selular sendiri maupun oleh pihak ketiga. Terlepas dari efek negatif berupa penipuan atau perjudian dengan menggunakan kendaraan ini, tarif murah telah memicu bergeraknya sektor riil di masyarakat. Dwi dengan asemka.com-nya adalah contoh kongkretnya. Contoh lain adalah berkembangnya industri musik yang memanfaatkan saluran telekomunikasi selular sebagai sistem baru dalam pemasaran. Lihat saja, setiap penyanyi atau band merilis lagu baru, di klip yang ditayangkan di televisi, selalu muncul “aksesoris” baru berupa cara mendapatkan lagu atau cara memasangnya menjadi ring back tone. Sebagian besar provider selular umumnya memiliki band jagoan yang digunakan sebagai endorser atau bintang iklan.

Alasan ketiga, tarif murah yang muncul karena persaingan yang kian ketat telah mendorong bergeraknya roda ekonomi nasional secara signifikan. Bergeraknya roda ekonomi ini sendiri pada akhirnya akan memunculkan golongan masyarakat baru yang lebih melek informasi, juga lebih kuat secara ekonomi. Kelompok-kelompok baru ini nantinya pasti akan membutuhkan jasa tenaga kerja pembantu rumah tangga. Begitulah siklus ekonomi ini akan berputar. Akhirnya, tarif murah memang membawa berkah bagi sebagian besar rakyat negeri ini.

Akan tetapi tetap saja ada banyak orang yang secara tak sadar terpinggirkan, sebagaimana tergambar dalam kisah faktual Daminah atau Chotimah seperti di atas. Nah, industri selular seharusnya tetap menempatkan ekses semacam ini sebagai bagian dari tanggung jawab sosial mereka, karena hukum globalisasi yang kaku tidak memberi ruang bagi orang-orang seperti Dam, Imah, dan kawan-kawannya untuk melompat dan berpindah kelas dengan cepat menjadi orang yang melek informasi, terdidik, dan dapat keluar dari situasi yang sekarang mereka hadapi. Karenanya, pelaku industri selularlah yang semestinya pertama kali mengambil tanggung jawab sosial ini.

Setiap tahun, terdapat Dam atau Imah “baru” yang jumlahnya ratusan ribu, mendatangi kota-kota besar. Dua atau tiga bulan setelah bekerja di kota, mereka ini umumnya telah menenteng sebuah ponsel baru, sembari mengasuh anak majikannya. Nada deringnya pun terdengar ringan dan riang: “Kelakuan si kucing garong…”

Tanpa mengurangi manfaat positifnya, seharusnya orang seperti Dam atau Imah dan rekan-rekannya yang baru itu dihindarkan dari keganasan garong-garong ekonomi, menghisap keringat mereka sampai kering. Di situlah industri selular semestinya mengambil peran lebih besar, lebih dari yang selama ini sudah dilakukan.

5 Comments

  1. yaperkasa said,

    04 October 2007 at 6:42 pm

    sorry bro.. kesan pertama.. lepas konsentrasi..
    eee.. eee.. apa yah.. kayak ngga baca tulisan lo aja nih bro ;))

    anyway.. gw blm baca penuh.. sepertinya emang butuh konsen bgt kali yak.. hmm.. ntar gw lanjutin deh bro..

  2. ferdi said,

    19 April 2008 at 10:44 pm

    wah, benar juga ya! komentarnay cerdas! saya aja sekarang belum bisa bikin komentar secerdas itu.

  3. Gunawan said,

    08 May 2008 at 8:57 pm

    Kadang-kadang iklan yg disampaikan oleh operator membingungkan.
    Kasihan juga nasib para pembokat🙂

  4. sahid said,

    25 June 2008 at 9:30 am

    Wak Mantep tenan komentare tak ajungin jempol ku semua untuk komentare sampean he he he ……..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: