Renovasi Rumah (01)

Saya agak nekat ketika memutuskan untuk merenovasi rumah yang berumur 6 tahun. Dananya agak mepet, sehingga perlu siasat. Sketsa dan denah saya visualkan sendiri, plus bantuan beberapa rekan arsitek kantor sebagai “konsultan”. Inilah proses perencanaan hingga eksekusinya.

DISKUSI

Saya butuh waktu diskusi dengan istri sampai dengan ketemu desain final nyaris dua tahun. Rencana renovasi memang sudah kami canangkan, tapi dananya tak kunjung terkumpul. Tapi justru karena durasi diskusi yang lama, proses perubahan desain menjadi sangat matang, termasuk merencanakan desain yang sesuai ukuran kantong.

Dengan lahan yang memanjang, ukuran 6 m x 29 m, sejatinya masih ada lahan sisa nyaris separuh dari lahan yang ada. Namun kami berketetapan untuk tidak lagi menambah bangunan pada lahan terbuka. Pilihannya adalah meningkat.

Diskusi dengan mantan pacar makin mengerucut ketika Aldo, anak kedua kami lahir, sementara Ansel –kakaknya– mulai merasa ingin punya kamar sendiri. Selain kami merasa bahwa “kruntelan” dalam satu kamar juga tidak baik untuk pertumbuhan bocah-bocah. Meski masih ada satu kamar kosong, Ansel masih memilih untuk tidur dalam dekapan emaknya. Sesekali pernah kami cobakan untuk tidur terpisah, tetapi selalu ia meminta ditemani, entah oleh ayahnya atau ibunya.

Setahun terakhir, diskusi kami mulai terfokus pada pengalokasian ruang dan pemanfaatan bangunan yang sudah ada. Kami mulai mendefinisikan dari kebutuhan pokok ruang yang harus ada, ukuran-ukuran yang bisa diakomodasi oleh lahan, sampai dengan peletakannya.

Seingat saya, lebih dari 4 kali pengelolaan ruang-ruang berubah secara drastis, dari lantai 1 ke lantai 2 dan sebaliknya. Sampai kemudian sekitar 6 bulan lalu (Desember 2009), kami mulai menemukan pola ruang yang ideal sesuai dengan kebutuhan dan kekuatan kantong.

Saya bersyukur bahwa kami tidak terburu-buru mengeksekusi renovasi. Selain karena memang duitnya belum terkumpul, kami juga punya waktu untuk bisa membuat perencanaan paling maksimal dengan mempertimbangkan ukuran dana yang kami alokasikan dan kebutuhan ruang untuk kami berempat plus dua asisten rumah tangga.

ARSITEK

Kebetulan, kakak istri berprofesi arsitek. Lingkungan kerja saya juga dikelilingi arsitek. Ini memudahkan saya untuk bertanya dan meminta saran. Namun seluruh eksekusi penataan dan pengelolaan ruang tetap dalam kendali kami berdua. Mula-mula kakak memberikan rancangan gambar awal. Dari situ kami coba adaptasi dan sesuaikan lagi seturut kebutuhan dan alokasi dana tadi.

Saya juga terus melihat dan mencari referensi bagaimana sebaiknya penataan ruang yang mengakomodasi seluruh daftar kebutuhan kami, cita-cita kami tentang sebuah rumah, dan idealisme kami tentang sebuah hunian rumah tinggal.

Mudah-mudahan, proses renovasi rumah ini dapat berlangsung mulus sebagaimana sudah kami rencanakan.

1 Comment

  1. warm said,

    01 July 2011 at 9:06 am

    ah makasih banget ini info lengkapnya, ga perlu baca tabloid ttg rumah lagi😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: