FAKE

Internet telah menjadi belantara teks. Gugel adalah dewa dari para dewa, yang selalu dipanggil-panggil ketika kita masuk ke rimba raya ini. Gugel memberi petunjuk jalan, meski ia bukan jalan itu sendiri. Ia membukakan, meski kadang juga tak menyelesaikan.

Tak bisa menyelesaikan karena Gugel kadang merekam dan mencatat yang palsu. Saya agak yakin, semua orang yang pernah memasukkan info pribadinya di internet pasti pernah memberi info atau data palsu. Alasannya macam-macam. Takut privasinya terganggu, malas, ingin tetap misterius, ingin aneh, atau ribuan alasan lain.

Namun kepalsuan memang menyatu dalam diri setiap orang. Mulai kapan? Mungkin mulai ketika ia mengenal orang lain. Kapan itu? Mungkin sejak nalarnya mulai tegak.

Read the rest of this entry »

SELINGKUH

Setiap manusia, rasanya punya bakat satu ini. Ia tak peduli umur, apalagi cuma jenis kelamin. Ia bisa menyerang abege yang dilanda cinta monyet, atau emak-emak yang hampir meno. Bapak-bapak yang sering dicap “bandot”, atau jejaka perlente yang dijuluki pleboi, juga tak luput.

Selingkuh, bisa benar-benar tak kelihatan ujudnya, bila ditindas oleh sesuatu yang lain, entah itu perasaan cinta, khawatir, atau risiko. Hanya orang yang tak atau belum berpasangan yang luput dari kata ini rasanya. Cobalah terawang lagi detik perjalanan yang terlewat, hari yang lalu, bulan, atau tahun yang silam. Kalau Anda mau jujur, Anda pasti pernah –entah sekali, sayup-sayup, nyaris tak terlihat–memikirkannya.

Saat ngobrol sore dengan teman kantor, ia cerita tentang dua temannya –yang dua-duanya kebetulan kukenal– mungkin tengah menjalani praktek ini. Tentu saja, aku tak ingin menuduh benarkah demikian halnya. Tapi setidaknya cerita kawan ini, membuat hasratku muncul untuk menuliskannya.

Fiuhhhh!

Fiuuuhhhh!!!

Anak itu merengek meminta emaknya dibelikan “babel”. Dolanan itu sudah ada sejak bapaknya masih bau umbel. Bapak dari bapaknya pernah bercerita pada bapaknya, dulu sekali ia dan teman-temannya membuat sendiri mainan itu dari buah klerak yang bisa dibuat biji ketapel.

Mainan itu dapat didapat dengan cepat kini. Juga mudah. Di mal-mal yang dingin, di warung-warung mainan ada dan dijual murah. Dikemas dalam botol indah. Dulu bapak dari bapaknya menggunakan lidi untuk membuat air sabun itu. Kini telah berganti plastik nan mewah.

Dan botol itu tertulis: Made in China. Klerak sudah lama musnah.

Lelah oleh Nama

Ia mencarinya pada kotak putih, Gugelmemasukkan sesuatu tentang masa silam.

Tak lelah-lelahnya ia mengais nama-nama. Terus begitu dan sejam berlalu. Lalu dua.

Ketiga tiga hendak menyambut, barulah tahu ia telah terlarut pada kotak putih itu dan tak ditemukan apa yang dicarinya lewat kotak putih. Sesekali isi kotak itu telah membuatnya terkejut. Namun ia terasing. Lalu berhentilah ia dengan kotak putih.

Kelelahan rupanya. Nama-nama membuatnya terbenam.

2007-10-13, Banten

Soul of Home

I visited a house in Bogor Raya Permai in Bogor yesterday with my colleague. It was my first reportage for Tabloid Rumah after spell years for PCplus. I had made appointment with owner and Mr. Barnie, worker at cargo company APX, had told that his wife, Mrs Ningrum, would find us at their home.

Read the rest of this entry »

Tanda-tanda

Sampeyan mungkin juga pernah mengalaminya. Setiap orang bahkan. Ada satu saat di mana apa yang kita kerjakan bawaannya error melulu. Ngerjain ini salah, bikin itu salah. Jalan kesandung, makan kesedak, ngerokok nggak enak. Gelisahlah pokoknya.

Dan kala itu terus berlangsung lebih dari sehari, mungkin kita patut bertanya: Ana apa kie? Coba deh inget-inget kapan terakhir kali sampeyan merasakannya. Saya baru dua hari ini merasakannya. Dan terus bertanya kenapa demikian?

Ah, mungkin karena besok bini gue ulang tahun dan aku belum siapin sesuatu yang spesial. Ato mungkin karena badan memang capek karena minggu-minggu ini hujan sudah mulai mengguyur dan penyakit mulai berdatangan. Waspadalah!

Thomas L. Friedman

Saya lagi terkagum-kagum pada Thomas L. Friedman. Gara-garanya sederhana. Budi Rahardjo, doktor dari ITB, menyebutnya sewaktu acara XL Award, 24/11, di sebuah kafe di bilangan Menteng. Budi bilang, buku Friedman “The World is Flat” kalau dibaca enak sekali. Mengalir. Tidak seperti tulisan para jurnalis yang pada ikutan lomba XL Award, yang dia bilang jueleeek-jueleeek. (Kebanggaan saya sedikit berkurang karena stetmen Budi ini. Berarti saya menang lomba kali ini gara-gara pesaingnya jelek-jelek. Budi yang lain (Budiono Darsono) bilang lomba kali ini adalah yang terbaik dan pesertanya terbanyak dari yang pernah diselenggarakan). Ah, sudahlah. Ngomong lomba akan jadi narsis, sama seperti postingan awal di blog ini yang nyantumin tulisan gw yang menang di masa lalu. Back to Friedman…..

Read the rest of this entry »